BEIRUT – Anggota parlemen Lebanon, Qassem Hashem, pada Senin (25/11/2024), mengungkapkan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel hampir tercapai dan dapat diumumkan dalam waktu 36 jam jika negosiasi terus berjalan dengan baik.
“Suasananya positif dan diskusi gencatan senjata telah mencapai tahap lanjutan. Tinggal menunggu beberapa jam lagi sebelum kesepakatan diselesaikan dan diumumkan jika kemajuan terus berlanjut seperti yang diharapkan,” kata Qassem Hashem sebagaimana dilaporkan Anadolu, Selasa (26/11/2024).
Perkembangan ini datang bersamaan dengan laporan bahwa kabinet keamanan Israel akan mengadakan rapat pada Selasa untuk menyetujui kesepakatan gencatan senjata dengan Hizbullah.
Saluran televisi Lebanon, Al Jadeed, melaporkan bahwa Lebanon telah diberitahu secara resmi mengenai kesepakatan gencatan senjata, meskipun mereka masih menunggu untuk memastikan bahwa kesepakatan tersebut dapat tercapai.
Namun, televisi tersebut mencatat bahwa beberapa detail kecil masih dalam pembahasan, meskipun diyakini tidak akan memengaruhi substansi kesepakatan secara keseluruhan.
Sementara itu, Hashem, anggota blok parlemen Pembangunan dan Pembebasan yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Nabih Berri, menegaskan bahwa Lebanon hanya akan mengumumkan gencatan senjata setelah Amerika Serikat melakukannya.
“Jika niat tulus menang, proses ini akan berjalan mengikuti proses alami. Dalam 36 jam ke depan, kami berharap kesepakatan yang final,” katanya menambahkan.
Meskipun berharap hasil yang positif, Hashem mengakui tantangan yang ditimbulkan oleh Israel, yang ia sebut sebagai musuh yang tidak terkendali dan sembrono.
Ia juga memastikan komitmen Lebanon untuk mempertahankan keberatan-keberatan yang telah diajukan mengenai proposal kesepakatan yang didukung oleh AS dan untuk melaksanakan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, yang menjadi dasar dalam perundingan tersebut.
Resolusi 1701, yang disahkan pada 2006, berisi mandat untuk menghentikan kekerasan di Lebanon selatan setelah konflik selama 33 hari antara Hizbullah dan militer Israel.
Minggu lalu, utusan AS, Amos Hochstein, mengunjungi Lebanon dan Israel sebagai bagian dari upaya Washington untuk menjadi perantara dalam negosiasi gencatan senjata.





