Gizi Buruk Masih Mengancam

Tingginya prevalensi  angka gizi buruk di Indonesia, merupakan puncak gunung es. Masalah ketahanan pangan ditengarai sebagai  penyebab utama.

Penderita gizi buruk dan kurang di masa bayi, akan rentan terkena penyakit  penyerta  yang sering berujung kepada kematian. Sebaliknya, apabila ia dapat bertahan hidup, ia akan mengalami hambatan tumbuh kembang, bahkan tumbuh kerdil atau stunting.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi balita gizi buruk dan kurang di Indonesia mencapai 19,6 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan data Riskesdas 2010 sebesar 17,9 persen dan Riskesdas 2007 sebesar 18,4%. Sayangnya belum ada update data baru secara nasional yang dapat dijadikan rujukan.

Namun, selain  data gizi buruk dan kurang di tahun 2013,  tercatat pula, sekitar 8,8 juta anak Indonesia menderita stunting atau bertubuh kerdil, karena kekurangan gizi tersebut.

“Satu dari tiga anak di Indonesia mengalami stunting. Bahkan, jumlahnya terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun,” kata Ahli Gizi UGM, Prof dr Hamam Hadi, Januari 2016 lalu, seperti dikutip dari Republika.

Hamam menyebutkan, angka kejadian stunting yang paling tinggi di Indonesia, terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Lebih dari 50 persen anak di sana menderita stunting. Menurutnya, persoalan stunting ini patut menjadi perhatian untuk segera dituntaskan. Pasalnya, tingginya prevalensi anak stunting telah memosisikan Indonesia ke dalam lima besar dunia dengan anak pengidap stunting.

Kantor Berita BBC melaporkan, lima bulan pertama di 2015,  ada  1.918 anak NTT mengalami gizi buruk dan, sekitar 11 orang meninggal dunia.

Namun yang lebih mencengangkan adalah, apa yang terjadi di Bekasi, kota yang terdekat dari ibukota negara.  Seperti diberitakan Republika, Februari 2016, Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Jawa Barat, mencatat ada sebanyak 194 balita atau bayi usia di bawah lima tahun didiagnosa medis menderita gizi buruk.

“Jumlah itu terhitung sejak 2015 hingga saat ini,” kata Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Pusporini, di Bekasi.

Menurut dia, sebanyak lima pasien di antaranya dilaporkan meninggal dunia akibat kurang  gizi. “Pasien tersebut meninggal karena penyakit penyerta. Rata-rata penderita gizi buruk ini adalah para balita,” katanya.

Pasien gizi buruk itu saat ini tersebar di Kecamatan Jatiasih sebanyak 27 pasien, Jatisampurna 20 pasien, Bekasi Utara sebanyak 15 pasien, Jatibening sebanyak 12 pasien, dan Jatiwarna serta Bantargebang sebanyak 11 pasien. “Sisanya terbagi di beberapa kecamatan yang lain,” katanya.

Advertisement