Gunung Agung: Meletus….tidak….Meletus

Walau sudah dalam status Awas sejak 22 Sept. dan 143.000 warga mengungsi, tidak bisa dipastikan apakah Gn.,Agung di Bali akan meletus (liputan 6)

WALAU sudah ditetapkan dalam status Siaga pada 18 Sept. dan ditingkatkan lagi menjadi Awas pada 22 Sept., tidak seorang pun dapat memastikan, Gunung Agung di Kab. Karangagasem, Bali jadi meletus atau tidak.

Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Gede Suantika, sebelum terjadi erupsi puncak, Gunung Agung diprediksi akan meliwati tahapan erupsi-erupsi  kecil terlebih dulu.

“Erupsi puncak akan menyusul setelah terjadi tekanan terus-menerus dari pergerakan magma, “ ujarnya di Pos Pemantauan Gunung Agung di Kec. Rendang, Karangasem, Jumat.

Jika melihat karakter Gunung Agung, menurut dia, kemungkinan erupsi kecil berkekuatan seperlima erupsi besar memerlukan waktu beberapa bulan seperti  pada kejadian 1963 dimana jarak antara kedua erupsi berlangsung empat bulan.

Berdasarkan hasil pantauan pada akhir pekan ini, rekahan magma diduga masih terus berlangsung, sedangkan intensitas gempa menurun dibandingkan hari-hari sebelumnya, sementara hujan abu dan bau belerang belum terdeteksi, kecuali hawa panas yang terpantau di sekitar kawah dalam radius 100 meter.

Dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, beberapa kali peristiwa letusan gunung api terjadi tanpa aba-aba sehingga mengecoh kegiatan persiapan untuk mengantisipasinya.

Sebut saja letusan Gunung Agung pada 1963 yang terjadi tanpa peringatan dini, begitu pula letusan Gunung Galunggung pada 1983  dimana warga penghuni lereng gunung malah yang melaporkannya pada para petugas  PVMBG di Bandung.

Dalam kasus letusan Gunung Kelud 1990, direktur vulkanologi setempat bahkan menyatakan di media massa bahwa gunung dalam kondisi stabil dan bahkan intensitas gempa menurun, padahal pada hari yang sama, gunung meletus, mengakibatkan 50 nyawa melayang.

Gunung Sinabung di Kab. Karo Sumut lain lagi. Saat meletus, Minggu,29 Okt.2010  belum terpantau karena masih pada level kategori B, bahkan saat menyusul letusan hebat  pada 15 Sept.2013 masih berstatus Siaga.

Selain tidak bisa dipastikan, sarana pemantauan gunung berapi juga minim, rata-rata hanya tersedia empat sampai lima stasiun seismometer,  bahkan di sebagian gunung tidak terpasang, padahal 127 gunung berapi atau 30 persen dari seluruh gunung berapi berada di Indonesia.

Bandingkan dengan Gunung  St Hellen di AS yang ativitasnya dipantau 50 seismograf dan 20 tiltmeter, begitu pula dengan jumlah pengamat yang di Indonesia baru ada 45 orang atau tiap orang mengamati tiga sampai empat gunung. Di Jepang, tiap gunung diamati empat pengamat dan seorang profesor.

Kesulitan memprediksi letusan gunung  di sisi lain juga meningkatkan biaya. Contohnya, akibat peningkatan status Awas saja, jumlah pengungsi sudah mencapai 143.000 jiwa lebih, tersebar di 471 lokasi di sembilan kabupaten/kota di Bali.

Akibatnya, Gubernur Bali I Made Mangku Pastika merencanakan pemulangan sekitar 73.100 pengungsi dari 51 wilayah di zona aman ke tempat asal masing-masing, sehingga prioritas hanya diberikan pada warga yang tinggal di kawasan berbahaya.

Pertimbangan untuk menghemat biaya di satu pihak dan risiko jika gunung sewaktu-waktu meletus adalah pilihan sulit dan dilematis bagi penentu kebijakan di wilayah bencana. (Kompas/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement