Hamas Sebut Israel Sesatkan Opini Publik, Ingin Perpanjang Agresi di Gaza

Ilustrasi: Pasukan Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat. (Foto: Anadolu)

GAZA – Kelompok pejuang Hamas Palestina mengkritik pemerintah Israel dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Hamas menyatakan bahwa Israel melakukan berbagai cara untuk menyesatkan opini publik dan mempertahankan agresi di Jalur Gaza.

“Netanyahu dan pemerintahannya berusaha dengan segala cara untuk terus menyesatkan opini publik Zionis dan memperpanjang agresi, meskipun tentara mereka yang kalah menderita kerugian nyawa dan peralatan,” kata anggota biro politik Hamas, Osama Hamdan, dalam konferensi pers di Beirut, Lebanon, Rabu (7/2/2024).

Hamdan menuduh Netanyahu dan pemerintah Israel berupaya menghindari tanggung jawab pasca-agresi dan menunda konfrontasi dengan komite investigasi mengenai kegagalan menyedihkan setelah 7 Oktober.

Dia juga mencatat seruan dari pemerintah Israel untuk mengusir rakyat Palestina di Jalur Gaza sebagai upaya menghalangi penghentian agresi terhadap warga sipil.

Pernyataan ini muncul setelah Netanyahu menolak tuntutan Hamas terkait kesepakatan pertukaran tahanan. Netanyahu mengancam akan melanjutkan pertempuran di Jalur Gaza dan menyerang Rafah di selatan.

Hamdan mengklaim bahwa Hamas telah merespons positif proposal gencatan senjata, sambil menyampaikan tanggapannya kepada Qatar dan Mesir.

“Hamas menanggapi secara positif usulan tersebut, meskipun ada reaksi Zionis, yang berusaha untuk mengabaikan hak-hak paling dasar rakyat,” katanya.

Delegasi Hamas, yang dipimpin oleh pejabat senior Khalil al-Hayya, dijadwalkan pergi ke Kairo, Mesir, untuk melanjutkan dialog mengenai proposal tersebut. Pihak penjamin perjanjian yang ditentukan Hamas melibatkan Qatar, Mesir, Turki, Rusia, dan PBB.

Seorang sumber informasi Palestina menyatakan bahwa Hamas setuju dengan rencana pertukaran tahanan dan gencatan senjata di Gaza. Proposal tersebut mencakup tiga tahap dengan penghentian operasi militer sepenuhnya di kedua belah pihak. Perundingan diharapkan berakhir pada tahap kedua, menurut sumber tersebut.

Pertemuan di Paris pada 28 Januari membahas kesepakatan pertukaran tahanan dan gencatan senjata dalam tiga tahap, melibatkan Israel, Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar.

https://m.antaranews.com/berita/3954987/hamas-tuding-israel-ingin-perpanjang-agresi-di-gaza?utm_source=antaranews&utm_medium=mobile&utm_campaign=latest_category

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here