Hampir Separuh Pengidap TBC tak Terdeteksi

Hampir separuh dari pengidap TBC di Indonesia tidak terdeteksi hingga bisa menyebarkan penyakit menular tersebut kemana-mana.

ADA sekitar 969 ribu penderita penyakit tuberculosis (TBC) di Indonesia setiap tahun atau terbanyak kedua setelah India, namun yang teridentifikasi hanya 545 ribu orang, selebihnya 450-000 orang lagi tidak ketahuan.

“Padahal TBC adalah penyakit menular, sehingga yang tidak terdeteksi bisa menularkan ke mana-mana, “ kata Menkes Budi Gunadi Sadikin suisai mengikuti rapat terbatas penanganan TBC dipimpin Presiden Jokowi, Selasa lalu (18/7).

Berbagai langkah dilakukan oleh pemerintah untuk mempercepat eliminasi  atau pemberantasan  TBC seperti menggencarkan kegiatan surveillance (pelacakan), pengobatan dan juga program vaksinasi.

Pada 2022, menurut menkes, program surveillance sudah ditingkatkan sampai 720 ribu pengidap dibandingkan 540 ribu pengidap pada 2021 dan diharapkan segera bisa ditingkatkan sampai 90 persen pada tahun ini.

Selain bekerjasama dengan Kemendagri dan Kementerian Transmigrasi dan Desa Tertinggal dan Kementerian PUPR melalui koordinasi dengan Kemenko PMK, rendahnya disiplin pengidap TBC meminum obat secara rutin minimal selama enam bulan, juga menjadi kendala pengobatan TBC.

Sebagian pengidap TBC bosan untuk meminum obat yang jumlahnya cukup banyak lima sampai tujuh butir ragam pil antibiotik sekali minum sampai pengobatan selesai, jika tidak akan terjadi resistensi. Jika hal itu terjadi, pengobatan akan berlangsung lebih lama lagi, bisa-bisa pengidap harus meminum obat secara rutin selama 20 tahun.

Tempat karantina khusus di lokasi tempat terdeteksinya pengidap TBC, menurut Presiden Jokowi, paling tidak dua bulan pertama, perlu dipertimbangkan  agar tidak terjadi penularan.

“Selama dua bulan, kondisi pasien harus diawasi termasuk rutin minum obat, “ ujarnya. Koordinasi dengan KemenPUPR diperlukan untuk pembangunan pusat-pusat karantina.

Mengenai vaksinasi, pemerintah sedang berusaha mendatangkan tiga jenis vaksin baru TBC dan yang paling menungkinkan dalam waktu dekat yakni vaksin yang ditemukan Glaxososmithkline (GSK) yang diambil alih pengembangannya oleh Bill and Melinda Gates Foundation.

Saat ini vaksin tersebut sedang dalam fase uji klinis di Indonesia melalui kerjasama dengan Universitas Indonesia, Universitas Pejajaran dan BPOM. Dua kandidat vaksin lainnya yakni vaksin mRNA (messenger-ribonucleid acid) dilakukan kerjasama dengan industri farmasi terkemuka Moderna dan Pfizer (AS).

Sementara peneliti Grifith University, Australia Dcky Budiman mengemukakan, tingginya prevalensi TBC di Indonesia mencerminkan negeri ini masih masuk kategori negara berkembang, bahkan miskin, karena penyakit tersebut muncul di tengak kondisi lingkungan rumah berventilasi dan bergizi buruk.

Jika Indonesia ingin naik kelas ke negara maju, TBC harus berhasil dibasmi dulu!

 

 

 

Advertisement