REMBANG – Jelang Ramadhan, harga cabai rawit dari petani di Rembang mengalami keterpurukan harga. Petani akhirnya memilih untuk melakukan panen sendiri tanpa melibatkan buruh karena tidak ada upah untuk menggajinya.
“Setiap kali petik dapat rata-rata 10 kilogram. Padahal untuk membayar buruh petik saat ini petani harus mengeluarkan Rp 40.000/hari. Itu belum termasuk biaya konsumsi,” jelas, Jarwanto, seorang petani di Desa Kemendung Rembang.
Jarwanto menambahkan jika harga cabai rawit terus mengalami keterpurukan ia mempekirakan akan banyak petani hanya mendapatkan balik modal saja. Sebab, biasanya panen cabai rawit dilakukan sebanyak sepuluh kali pemetikan. “Saya sudah menjual sebanyak empat kali, dan harganya berkisar antara Rp 5.000,- hingga Rp 6.000,-/kilogram saja,” ujarnya.
Suaramerdeka.com memantau dan melaporkan harga cabai rawit dari petani berkisar antara Rp 5.000,- hingga Rp 6.500,-/kilogram. Keterpurukan harga cabai rawit ini sudah berlangsung sekitar sebulan terkahir.
Sementara itu, harga cabai merah jauh lebih baik dibandingkan dengan cabai rawit di tingkat pengecer. Saat ini harga cabai merah dari tangan penjual eceran di Pasar Kota Rembang masih mencapai Rp 16.000,-/kilogram.




