Jakarta, KBKNews.id – Harga emas kembali mencetak rekor tertinggi, baik di pasar global maupun ritel Indonesia. Lonjakan ini memicu pertanyaan klasik yang selalu muncul setiap kali emas menembus level psikologis baru. Lebih baik beli sekarang atau justru jual?
Menurut Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, pertanyaan tersebut memang terlihat sederhana, tetapi jawabannya tidak pernah hitam putih.
“Pertanyaan ini terasa sederhana, tapi jawabannya tidak pernah hitam putih,” ujar Achmad dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 24 Desember 2025.
Ia menilai, banyak orang keliru memaknai rekor harga sebagai sinyal pasti untuk satu tindakan. Padahal, rekor hanya menunjukkan posisi harga hari ini, bukan kepastian arah esok hari.
“Rekor hanya menandai posisi hari ini, bukan kepastian besok. Keputusan beli atau jual seharusnya ditentukan oleh tujuan, horizon waktu, dan kemampuan menanggung risiko, bukan oleh euforia rekor semata,” tegasnya.
Harga Emas Ibarat Lift di Gedung Tinggi
Achmad mengibaratkan pergerakan harga emas seperti lift di gedung pencakar langit. Ketika lift mencapai lantai tertinggi yang pernah dicapai, respons orang bisa sangat berbeda.
“Ada yang panik dan menekan tombol keluar karena takut lift langsung turun. Ada juga yang buru-buru masuk karena merasa lift akan terus naik tanpa henti,” jelasnya.
Padahal, seperti lift, harga emas bisa berhenti sejenak, naik lagi, atau justru turun beberapa lantai sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Di titik rekor, risiko salah langkah justru paling mahal, terutama bagi pembeli ritel.
Mengapa Harga Emas Bisa Meledak?
Secara global, lonjakan harga emas didorong oleh kombinasi faktor ketidakpastian geopolitik, ekspektasi pemangkasan suku bunga global, serta meningkatnya permintaan aset safe haven.
Reuters melaporkan harga spot gold menembus level USD 4.500 per troy ounce, level yang secara historis jarang disentuh. Data live Kitco menunjukkan harga emas berada di kisaran USD 4.508,60 per ounce, atau setara sekitar USD 144,95 per gram.
“Di titik ini, emas sering berubah dari alat lindung nilai menjadi bahan obrolan. Ketika itu terjadi, risiko keputusan impulsif meningkat,” kata Achmad.
Rekor Global Bertemu Realitas Ritel Indonesia
Di Indonesia, masyarakat tidak membeli emas spot, melainkan emas ritel seperti Antam, UBS, atau Galeri24. Di sinilah dilema beli atau jual menjadi lebih nyata karena adanya selisih harga beli dan jual kembali.
Per 24 Desember 2025, harga emas batangan Antam 1 gram tercatat Rp 2.590.000, atau Rp 2.596.475 setelah PPh 0,25 persen. Sementara itu, harga buyback berada di kisaran Rp 2.420.000 per gram.
Artinya, terdapat selisih sekitar Rp 170.000 per gram, atau sekitar 6,6 persen.
“Selisih ini seperti tiket masuk dan tiket keluar yang harus dibayar untuk ikut naik lift harga emas. Kalau berharap untung cepat, gap ini harus ditutup dulu,” jelas Achmad.
Inilah sebabnya emas, menurutnya, tidak cocok diperlakukan seperti instrumen trading harian bagi kebanyakan rumah tangga.
Jadi, Beli atau Jual Kuncinya Ada pada Tujuan
Achmad menekankan, keputusan terkait emas harus kembali pada tujuan masing-masing individu.
Jika tujuan Anda sebagai perlindungan nilai jangka panjang, maka rekor harga bukan alasan mutlak untuk berhenti membeli, juga bukan alasan untuk mengejar harga. Pendekatan yang lebih rasional adalah membeli secara bertahap dan menjaga porsi emas tetap wajar dalam portofolio.
Namun, jika tujuan Anda spekulasi jangka pendek, justru area rekor adalah wilayah paling berisiko.
“Di area rekor, sentimen mudah berbalik. Satu kabar tentang meredanya ketegangan geopolitik atau perubahan ekspektasi suku bunga bisa memicu koreksi cepat,” ujarnya.
Sementara itu, bagi mereka yang sudah memiliki emas dari harga jauh lebih rendah, kondisi rekor dapat menjadi momentum untuk merapikan portofolio.
“Menjual sebagian untuk mengunci keuntungan sering lebih sehat daripada menunggu sampai euforia berakhir,” tambahnya.
Rekor Harga Emas dan Ujian Kedewasaan Finansial
Menurut Achmad, rekor harga emas hari ini memberikan dua pelajaran penting. Pertama, emas masih dipercaya sebagai aset lindung nilai ketika dunia terasa rapuh. Kedua, di pasar ritel, keputusan tidak bisa hanya berpatokan pada grafik naik.
“Harga Antam 1 gram Rp 2,59 juta, sementara buyback Rp 2,42 juta, menunjukkan ada biaya keluar-masuk yang tidak kecil. Ini harus dihitung dengan jernih,” katanya.
Karena itu, jawabannya bukan sekadar beli atau jual, melainkan memahami posisi dan kebutuhan diri sendiri.
“Rekor harga bukan kompas moral. Kompasnya tetap tujuan hidup, ketahanan keuangan, dan kedisiplinan,” pungkas Achmad.
Pada akhirnya, emas bukan soal menebak puncak harga, melainkan cara menjaga kewarasan finansial di tengah dunia yang penuh ketidakpastian.





