
PERANG Iran melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel masih berlangsung sengit. Iran mengandalkan stok ribuan rudal balistiknya, sebaliknya AS dan Israel memanfaatkan supremasi di udara dan laut serta teknologi.
Dunia menyaksikan, cakupan perang meluas setelah Iran denga dalih menyerang pangkalan militer AS di sejumlah negara Teluk, juga menyasar sejumlah fasilitas industri perminyakan di Arab Saudi, Bahrain, Kuwait dan Qatar.
Rudal-rudal balistik Iran ternyata selain mampu menjangkau wilayah Israel dan negara-negara Teluk mitra AS, juga ada yang berkecepatan hipersonik dan memiliki multi hulu ledak, sehingga sulit ditangkal oleh sistem pertahanan berlapis Israel. Satu dicegat, yang lain menyebar.
Saat memasuki area lawan, rudal berubah menjadi sejumlah hulu ledak terpisah yang bisa mencari sasaran sendiri-sendiri, sehingga jika berhasil dicegat sistem pertahanan udara Israel, sebagian masih ada yang lolos.
Sebaliknya, dengan supremasi udaranya, pesawat pesawat tempur AS dan Israel leluasa menguasai langit Iran, dan yang membuat berang Iran, hancurrya fasilitas industri migasnya di P. Kharg dibombardir lawan (16/3).
Nyaris tanpa perlawanan oleh pesawat-pesawa tempur Iran yang memang sebagian besar warisan AS di era -70 an seperti Phantom F-4, Tiger F-5, Sky Hawk- A4 yang yang sangat tidak seimbang dengan pesawat jet tempur generasi ke-5 AS berkualifikasi siluman seperti F-22 Raptor, F-35 Lightning atau bomber B-1B Lancer.
Udara dikuasai AS
Kapal-kapal perang lawas Iran juga dengan mudah menjadi sasaran pesawat-pesawat tempur dan drone AS dan Israel. Pihak AS mengeklaim sudah menenggelamkan 50-an kapal perang Iran atau hampir seluruh kekuatan AL-nya tanpa balas.
Sistem pertahanan dan intelijen Iran juga begitu rapuh, tercermin dari begitu mudahnya lawan mengincar petinggi-petinggi dan tokoh kunci negara itu.
Di hari pertama serangan saja, 28 Feb. pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei beserta Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh dan puluhan pejabat tinggi lainnya terbunuh, lalu puteranya, Mojtaba Khamenei yang menggantikannya dilaporkan terluka dan dilarikan ke Rusia walau hal itu juga diantah pihak Iran.
Korban lainnya a.l. Ali Larijani (Ketua Dewan Keamanan ) dan Esmail Khatib (Menteri Intelijen), Komandan satuan Basij Gholamreza Soleimani, komandan IRGC Moh. Pakpour dan jubir IRGC Ali Moh. Naini, dan yang masih diburu , Yahya Rahim Safavi (penasehat militer pemimpin tertinggi) dan Eskandar Momeni (Mendagri).
Adakan sayembara
AS juga menyayembarakan dengan hadiah 100.000 dolar AS (sekitar Rp169 miliar) bagi yang mengetahui keberadaan tokoh-tokoh Ira yang diburu tersebut.
Sementara itu, AS agaknya agaknya sedang bersiap melancarkan operasi amfibi, mengingat sudah didatangkan dua kapal serang amfibi yang mengangkut 5.000 marinir dan menarik satu kapal induknya USS Abraham Lincoln.
Perang bisa berlangsung lama, jika stok ratusan peluncur rudal balistik Iran yang lebih separuhnya sudah dihancurkan lawan masih bisa disembunyikan dan dioperasikan menyerang wilayah Israel dan negara-negara Teluk lainnya. (ns/berbagai sumber kantor berita trans nasional)




