Hari ke-36 Perang: Iran Tolak Gencatan Senjata

Hari ke-36 Perang: Iran Tolak Gencatan Senjata

IRAN dilaporkan telah menolak proposal dari Amerika Serikat yang diajukan Rabu (1/4) lalu untuk gencatan senjata selama 48 jam.

Sumber anonim kepada kantor berita semi-resmi Iran, Fars (4/4) menyebutkan, Washington telah meningkatkan upaya diplomatiknya untuk mengamankan gencatan senjata, khususnya setelah serangan Iran menargetkan depot pasukan militer AS di Pulau Bubiyan, Kuwait (1/4).

Menurut laporan Fars, proposal itu disebut diajukan menyusul intensifikasi krisis di kawasan itu dan masalah serius bagi pasukan AS akibat salah perhitungan negara.

Laporan itu menambahkan, tanggapan Iran terhadap tawaran tersebut tidak diberikan secara tertulis, melainkan melalui kelanjutan serangan di medan perang.

Sementara dalam perkembangan terakhir di lapangan, Iran dilaporkan berhasil menembak jatuh dua pesawat tempur AS masing-masing satu A-10 Thunderbolt II yang dan Strike Eagle F-15E (4/4).

Menurut catatan, A-10 yang disebut juga warthog adalah jenis pesawaat empur bantuan serangan darat khususnya untuk memburu tank lawan, sementara Strike Eagle F-15 adalah varian khusus F-15. Pesawat A-10 ditembak jatuh di selatan Iran di dekat Selat Hormuz, sementara F-15 di barat daya Iran dekat wilayah Kuwait.

Pilot persawat A-10 berhasil diselematkan oleh helikopter Tim SAR AS, sedangkan pilot F-15 masih dinyatakan hilang (missing in action).

Pemerintah Iran Beri Hadiah

Pemerintah Iran pun mengumumkan hadiah bagi warga yang berhasil menemukan pilot AS tersebut. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) juga telah mengerahkan pasukan untuk menyisir area jatuhnya pesawat F-15E milik AS.

Kantor berita Iran Fars yang memiliki hubungan dekat dengan dinas keamanan negara itu, juga mengedarkan sejumlah foto yang diklaim sebagai puing-puing jet yang jatuh.

Sementara itu Presiden AS Donald Trump mengeklaim telah meraih tujuan perang di Iran. Trump bahkan sempat mengeklaim sukses melumpuhkan militer Iran.

Presiden Amerika Serikat itu juga menyatakan negaranya berpotensi mengambil alih minyak Iran seiring berlanjutnya konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz.

Pernyataan itu disampaikan Trump melalui media sosial pada Jumat (3/4). Dalam postingan itu, Trump mengklaim AS dapat dengan mudah membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Kabar tentang kemungkinan serbuan darat pasukan AS ke Iran makin santer setelah pasukan tambahan terus mengalir ke lokasi yang dirahasiakan di kawasan Timur Tengah.

Ratusan anggota satuan khusus US Navy Seal, Rangers (Baret Hijau), 2.000-an personil Divisi Lintas Udara ke-82 dan 5.000-an anggota marinr sedang disiapkan, sebagai tambahan sekitar 50.000 personil militer AS yang ditempatkan di berbagai pangkalan di negara-negarac Timur Tengah.

Hanya Allah dan {residen Trump yang tau apakah sekedar gertakan atau operasi darat akan segera dilancarkan. (Reuters/Fars/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here