Harjuna Sayembara

Prabu Dewasrani tersinggung, karena kesertaannya dalam sayembara dibatalkan Harjuna.

HARJUNA memang tampan, bininya cantik-cantik pula, maka tak mengherankan Dewi Gandasasi putri hasil perkawinan Harjuna melawan Dewi Gandawati, lahir dalam kondisi yang cantik jelita pula. Wayangnya putih, betis mbunting padi dan bodi seksi. Kalau dibandingkan dengan Firsa Husein, seimbanglah. Cuma, putri Madukara ini jauh lebih muda, dan tak pernah jadi tersangka kasus chatting pornografi.

Demikian cantik dan seksinya Dewi Gandasasi, banyak wayang lelaki yang jatuh kasmaran dengannya. Peminatnya antara lain, Dewakusuma putra Raden Sadewa, bujang lapuk legendaris Sarjokesuma dari Ngastina. Bahkan Prabu Dewasrani dari negri Ngawu-awu langit yang bininya sudah ombyokan, ngotot alkhotot ikut sayembara persunting Dewi Gandasasi yang ngganda arum (berbau wangi) lantaran tak pernah lepas dari parfum.

“Sampeyan kan sudah banyak bini, kenapa pengin juga Dewi Gandasasi? Kasihan dong, yang lain nggak kebagian,” punakawan Togog mengingatkan.

“Kamu ini gimana, Gog? Kata juragan ayam bakar “Wong Solo”, banyak istri kan banyak rejeki.” Jawab Dewasrani ngeyel.

Togog tak bisa berbuat apa-apa, karena Prabu Dewasrani memang sembada (sesuai). Kuat di onderdil, tapi juga mampu di materil. Di negerinya, dia merangkap jadi anggota DPR yang ditaruh di Pansus Angket KPK. Dus karena itu, Prabu Dewasrani juga menuai banyak kecaman, bahkan Begawan Abiyasa dari Candi Saptaharga mencapnya: Dewasrani anggota DPR pandir.

Bareng Togog tentunya, Prabu Dewasrani telah tiba di negeri Madukara, kawasan elit tempat tinggal Harjuna. Ternyata peserta sayembara begitu banyak, bahkan sudah nyaris ditutup. Tapi karena berani ngepeli bagian pendaftaran, Dewasrani masih bisa disesel-seselke (diselipkan).

“Sst, syaratnya apa untuk bisa jadi peserta?” Dewasrani bertanya penuh bisik.

“Persyaratan umum: sampeyan lelaki tulen, pintar bicara, santun dan seiman.” Jawab bagian pendaftaran.

Raden Harjuna pusing juga, karena begitu banyak peminat putrinya. Tak mungkin diterima semuanya. Maka seleksinya diperketat dengan berbagai syarat tambahan. Di samping harus bisa menunjukkan LHKPL (Laporan Harta Kekayaan Pengantin Lelaki) minimal Rp 5 M, juga harus mampu main akrobat di udara. Yakni berjalan mondar-mandir di atas kawat selama 1 jam. Jika semua itu bisa dipenuhi, Dewi Gandasasi akan menjadi milik Anda.

Dengan persyaratan itu, peserta memang jadi mengerucut. Tadinya tercatat 50 wayang, kini tinggal dua orang. Yakni Dewasrani sendiri, dan Sarjokesuma putra Prabu Duryudana dari negeri Ngastina. Soal kekayaan memang tak diragukan dia ini. Tapi soal tampang, ya Tuhaaaan…..! Anak raja kok lholhak lholhok begitu. Pandangannya kosong mirip pecandu narkoba, jadi ketua partai tapi tak bisa ngomong diplomatis. Jika ditanya pers, jawabnya sangat standar: biarkan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya.

“Kabarnya Partai Karya Peduli Janda terlibat kasus suap. Tanggapan Anda?” tanya pers.

“Partai kami memang sedang mendapat ujian…..” begitu dia menjawab. Nampak “ndeso” banget.

Begitulah, di kala kesatrian Madukara terus hiruk pikuk,  tiba-tiba datang menyusul peserta baru, Bambang Dewakusuma dari Sawojajar. Dia datang telat karena masih sibuk ngurus surat keterangan Bebas G.30.S/PKI. Untung dia masih keponakan Harjuna sendiri, sehingga meski panitia menolak tapi dia dapat dispensasi ikut sayembara.

“Panitia pendaftaran sayembara kan bukan dewan juri TTS, sehingga keputusannya masih bisa diganggu gugat.” Begitu alasan Harjuna.

“Uuh, ndeso! Payah……” keluh panitia sayembara.

Dan karena Bambang Dewakesuma adalah keponakan sendiri, Harjuna berani menjamin bahwa  Dewi Gandasasi kelak akan diserahkan kepadanya. Kalau pun ikut sayembara, hanya sekedar formalitas saja.  Harjuna memang yakin seyakin-yakinnya, Dewasrani dan Sarjokesuma tak bisa main akrobat udara. Apa lagi Sarjokesuma, sebagai pecandu narkoba musti dilarang mengudara, maksudnya: ikut akrobat udara.

“Tapi benar Pakde, Dewi Gandasasi buat Dewakesuma,” ujar satria muda itu menyelidik.

“Iya, iya. Pokoknya STNK dan BPKB, termasuk SIM, Pakde yang menyiapkan. Kamu tahunya tinggal nyemplak!” Harjuna menggaransi.

Pada hari H, sayembara “akrobat udara” itu dilangsungkan. Tapi merujuk pengalaman maskapai Lion Air, sebelum mengikuti sayembara peserta diwajibkan tes air kencing. Sarjokesuma dari tampangnya saja sudah demikian mencurigakan, sehingga saat dites dan diperiksa dilaboratorium klinik, hasilnya positif. Dia pengidap narkoba, sehingga keikutsertaannya dalam sayembara batal demi hukum.

“Udah, udah, kamu pulang saja sono. Ngempeng sama simbok….,” ujar panitia mendorong-dorong Sarjokesuma agar keluar gelanggang.

“Gimana sih? Panitianya aneh-aneh saja. Cuma mau naik cewek saja kok harus naik blabar kawat segala…,” keluh Sarjokesuma.

Di kala Sarjokesuma mundur dari gelanggang akibat didiskwalifikasi, barulah masuk Prabu Dewasrani. Kabarnya dia mampir dulu ke Pasetran Gandamayit, minta dukungan politik penasihat spiritualnya, Batari Durga. Dan beda dengan Sarjokesuma, hasil tes urine negatif alias bebas narkoba. Karenanya dia langsung boleh meniti wot ogal-agil yang dipasang di alun-alun Madukara.

Jauh dari dugaan orang, Prabu Dewasrani ternyata dengan mudah meniti jembatan kawat tersebut, bahkan bisa mondar-mandir dengan tenang laksana jalan tol. Semua penonton takjub, mengelu-elukannya. “Hidup Dewasrani, hidup Dewasrani. Lanjutkan ….!” kata suporter bawaan dari Ngawu-awu langit.

“Nih, gampang kan? Bentar lagi saya nikah nih.” Kata Dewasrani penuh optimis.

“Nggak bisa! Kamu curang, pakai doping….!” teriak Harjuna dari panggung kehormatan.

Semua terperanjat. Mereka lupa bahwa Harjuna sesungguhnya punya ajian Lenga Jayengkaton, sehingga dengan minyak yang baunya mirip minyak wangi para ustadz itu dia bisa melihat dengan nyata makhluk halus. Dan dalam pandangan mata Harjuna, saat Dewasrani meniti kawat udara, ternyata dipandu dan dipegangi Jaramaya dan Jarameya anak buah Betari Durga. Pantesan saja semuanya lancar.

“Nggak mau, saya harus nikah dengan Dewi Gandasasi.”

“Nggak bisa. Kamu didiskwalifikasi juga.” Hardik Harjuna.

Kemudian Harjuna memerintahkan Gatutkaca, Setyaki, Antasena, Antareja dan Abimanyu, untuk berbaris di depannya. Bagaikan acara akikahan bayi, para sapukawat Ngamarta itu disemprot minyak Jayengkaton, crot….crot…..crot; sehingga mereka dengan mudah bisa melihat pisik para teroris dari Pasetran Gandamayit itu.

“Tangkap, tangkap, jangan diberi ampun!” seru Setyaki.

“Kita mutilasi ramai-ramai,” seru Antasena pula.

Jaramaya-Jarameya lari terbirit-birit cari selamat. Sedangkan Prabu Dewasrani yang kecewa, segera menyerang Raden Harjuna. Tetapi Werkudara turun tangan. Raja Ngawu-awu Langit itu sekali tendang sudah kontal, terbang entah ke mana. Tinggal kini Bambang Dewakusuma yang terima durian runtuh. Bisa menikahi Dewi Gandasasi tanpa keluar modal.  Tanpa berjuang, tahu-tahu nanti malam bisa mbelah duren jatohan. (Ki Guna Watoncarita)

 

Advertisement