Haru dan Penuh Hikmah, Kisah Rasulullah dan Anak Yatim di Hari Idulfitri

JAKARTA – Hari Raya Idulfitri adalah momen sukacita bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa Ramadan selama sebulan. Baju baru, aroma harum masakan opor, dan berkumpul bersama keluarga menjadi cara untuk menikmati kebahagiaan tersebut.

Namun, bagaimana jika ada seseorang yang masih bersedih di tengah kebahagiaan itu, seperti kisah ketika Rasulullah menemukan seorang anak yatim menangis di Hari Raya Idulfitri?

Kisah dimulai ketika Rasulullah pergi untuk melaksanakan salat Id. Beliau melihat anak-anak bermain dengan gembira.

Namun, ada satu anak di depannya yang tampak sedih dengan pakaian yang lusuh dan wajah yang muram. Rasulullah tersentuh, lalu bertanya, “Wahai anak kecil, apa yang membuatmu menangis? Kenapa tidak ikut bermain bersama teman-temanmu?” ucap Rasulullah.

Anak itu tidak menyadari bahwa orang di hadapannya adalah Rasulullah, pemimpin mereka. Ia menceritakan bahwa ia merindukan ayahnya dan diusir dari rumah oleh ibu dan ayah tirinya karena masalah rumah tangga.

Sambil terisak, anak perempuan itu, menjawab, “Wahai laki-laki di hadapanku, ayahku telah meninggal saat mengikuti peperangan bersama Rasulullah. Setelah itu, ibuku menikah lagi dan memakan semua hartaku. Lalu, ayah tiriku mengusirku dari rumah,” kata gadis kecil itu.

Rasulullah mendengarkan dengan hati-hati. Gadis kecil itu melanjutkan bahwa ia tidak memiliki apa-apa, termasuk pakaian yang layak dan tempat tinggal.

Rasulullah mendengarkan dengan seksama, lalu anak yatim perempuan itu melanjutkan kembali mengeluarkan isi lubuk hatinya bahwa ia tidak memiliki apapun untuk dikenakan. Ia juga kebingungan mencari sandang, pangan, dan papan untuk bertahan hidup.

“Sejak itu akupun tidak punya makanan, minuman, pakaian, dan rumah. Ketika telah sampai hari ini (Idulfitri), aku melihat begitu banyak anak-anak berbahagia dengan ayah-ayah mereka. Aku pun sedih dan menangis,” ucapnya.

Rasulullah SAW merupakan pendengar yang baik dan aktif. Beliau paham rasanya hidup terguncang karena menjadi yatim sejak kecil dan harus bertahan hidup, minimal untuk diri sendiri.

Rasulullah bermaksud ingin mengadopsinya, bersama dengan keluarga kecilnya, “Wahai anak kecil, bersediakah jika aku menjadi bapakmu, ‘Aisyah menjadi ibumu, Ali menjadi pamanmu, Hasan dan Husein menjadi kedua saudara laki-lakimu, dan Fatimah menjadi saudara perempuanmu?” tanya Rasulullah.

Anak itu terkejut mengetahui bahwa orang yang berbicara padanya adalah Rasulullah. Ia merasa senang karena merasa diperhatikan.

Rasulullah membawanya pulang dan memberinya makanan yang lezat, pakaian baru, dan minyak wangi. Hatinya menjadi riang. Dan, ia kembali bermain dengan teman-temannya.

Teman-temannya heran melihat perubahan itu dan bertanya mengapa ia begitu bahagia.

“Bukankah engkau yang dulu menangis, mengapa sekarang terlihat begitu bahagia?”

Gadis itu menjawab kalau ia sudah tidak lagi kelaparan karena bantuan dari Rasulullah SAW dan keluarganya.

“Memang, dulu aku kelaparan, tapi sekarang aku kenyang. Dulu pakaianku buruk, kini sudah tidak lagi. Dulu aku seorang yatim, tapi kini Rasulullah adalah ayahku, ‘Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudara laki-lakiku, Ali pamanku, dan Fatimah saudara perempuanku. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia?”

Anak-anak yang mendengar pengakuan itu merasa iri, “Andai saja bapak kami syahid saat peperangan, pasti sudah seperti engkau.”

Sepeninggal Rasulullah wafat, anak kecil itu kembali terkatung-katung sebagai yatim. Kemudian, ia diasuh oleh sahabat Rasulullah seumur hidup, yaitu Abu Bakar ra.

Hikmah dari Kisah Rasulullah dan Anak Yatim

Rasulullah sebagai kepala negara menaruh perhatian besar untuk anak yatim yang menjadi korban perang karena ayahnya ikut tugas negara.

Tindakannya menyejahterakan anak yatim menjadi contoh bagi umat Islam untuk mengasihi, merawat dan mengurusi anak yatim di sekitar kita. Rasulullah bersabda:

“Aku dan orang yang mengurus (menanggung) anak yatim (kedudukannya) di dalam surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan (kedua jarinya yaitu) telunjuk dan jari tengah serta agak merenggangkan keduanya. (HR Imam Al-Bukhari)

Seringkali, anak yatim tidak memiliki akses untuk kebutuhan dasarnya, seperti makanan, minuman, pakaian, rumah, hingga di tahap pendidikan. Maka dari itu, menyantuni para yatim adalah tugas mulia sekaligus tantangan agar mereka menjadi orang yang berhasil di masa depan.

Kesejahteraan yatim adalah tanggung jawab kita bersama. Anda bisa menjadi bagian baik dengan memberikan sedekah yatim di Dompet Dhuafa.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here