
MILISI Hezbollah dukungan Iran bermarkas di Lebanon meluncurkan serangan enam puluhan roket ke posisi pasukan Israel di Gunung Meron, Israel utara, Sabtu (6/1) pasca tewasnya Wakil Pemimpin Hamas Saleh-al Arouri tiga hari sebelumnya.
Israel mengakui ada serangan roket yang menyasar kawasan G. Meron namun sejauh ini belum terkonfirmasi adanya korban jiwa. Saat serangan terjadi, terdengar sirene tanda serangan udara di kota-kota besar di Israel utara dan Dataran Tinggi Golan yang didudukinya.
Auri yang merupakan tokoh penting Brigade Qassam, Hezbollah berada di ibukota Lebanon, Beirut selatan tewas diduga akibat serangan drone Israel bersama empat komandan dan dua anggota Hamas lainnya.
Keberadaan al-Arouri di Beirut diduga mengikuti pertemuan antarpimpinan kelompok perlawanan terhadap Israel yakni Hamas, Garda Revolusi Iran dan Hezbollah guna menyatukan langkah dan strategi ke depannya.
Jubir Israel Mark Regev sendiri tidak memberikan konfirmasi terkait kematian Arouri dan seperti biasa, menyampaikan pernyataan standar: “Siapa pun pelakunya, ini bukan serangan terhadap negara Lebanon”.
Sementara Hezbollah mengklaim serangan roket yang dilancarkan ke pos pengendali udara Israel di Gunung Meron itu hanyalah respons awal atas pembunuhan terhadap pemimpin besar, Al-Arouri yang merupakan simbul perlawanan kelompoknya.
Milisi Hezbollah dukungan Iran beraliran Syiah, ideologi nasionalisme Islam yang berdiri pada 1985 aktif melakukan aksi-aksi perlawanan terhadap zionisme Israel, anti semitisme, Barat dan imperialisme. diperkirakan anggota Hezbollah sekitar 60.000 orang.
Terjunnya Hezbollah memerangi Israel, bisa memicu eskalasi perang Hamas vs negara Yahudi itu di wilayah Palestina di Jalur Gaza yang saat ini masih berlangsung walau menurut versi Israel intensitasnya kini menurun, puluhan korban warga Palestina masih berjatuhan akibat bombardemen Israel.
Israel dalam pernyataan menyebutkan, pertempuran di Gaza kini sudah pada tahap intensitas rendah, sehingga sekitar tiga brigade pasukannya (15.000-an personil) sudah ditarik ke garis belakang.
Eskalasi perang Hamas dan Israel dikhawatirkab akan menyeret negara-negara lainnya yang berada di belakang kedua belah pihak yang bertikai. (AP/AFP/Reuters)




