spot_img

Hidup Untuk Makan?

DI TikTok dan Youtube kini banyak beredar tentang sosok orang yang hobinya makan banyak. Dia punya perut sepertinya terbuat dari karet, sehingga makan nasi berapa piring pun muat. Udapalo pemilik chanel TikTok ini, sebelum mulai makan selalu “mengeluh” sedang tidak enak badan. Maka dimulai dengan makan porsi sedikit. Tetapi begitu nambah, justru nasi sebakul hampir dituang semua. Belum lauk pauk dan sayurnya, semua serba enak. Tetapi tak sampai 10 menit sudah ludes licin tandas.

Chanel Youtube Paul Rivery tidak menunjukkan perut karetnya, dalam arti porsi makannya masih wajar. Tetapi dia ini bisa disebut si Raja Cabe. Sambel sepiring pun tak terasa pedas baginya, seakan dia punya lidah sudah mati rasa. Bayangkan, ketika teman makannya sudah ampun-ampun kepedasan, dia malah meledek, “Kalau nggak kuat nyerah saja, ketimbang nanti lo nungging di toilet!”

Melihat cara makan Uda Palo dan Paul, penonton sudah kenyang duluan. Tetapi jangan heran, mereka bisa makan banyak dan lahap karena dalam kondisi badan sehat dan gigi masih lengkap atas bawah, paling ompong satu dua. Coba dalam kondisi sakit gigi misalnya, atau gigi sudah banyak yang tanggal, pastilah selezat apapun makanan yang terhidang takkan terasa enak.

Kita sering mendengar pertanyaan, hidup itu untuk makan, atau makan untuk hidup. Bagi para pemilik chanel di atas, menyesuaikan dengan kontennya pasti jawabnya adalah: hidup untuk makan! Padahal bagi kalangan umum yang tak punya motif “makan untuk cari duit” jawabnya wajar-wajar saja: makan untuk hidup! Sebab tanpa makan orang tak bisa bertahan hidup. Jika ada orang bisa bertahan hidup 40 hari tanpa menjalani makan dan minum, pastilah mereka orang yang sedang laku tirakat atau pati geni, kata orang Jawa.

Dengan makan asupan gizi masuk ke tubuh, menjadikan orang sehat dan bagi anak-anak juga menjamin pertumbuhan tubuhnya. Tetapi dalam agama diajarkan, makanlah secukupnya. Sebuah hadits Nabi mengatakan, “Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas”.

Sebuah hadits yang sanadnya tidak jelas (dhoif) juga mengatakan, “Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyang
Tetapi meski haditsnya lemah, tetapi makna ajarannya benar. Sebab orang yang makan berlebihan, justru merusak kesehatan. Setidaknya bisa kemlakaren (super kenyang) bagaikan ular piton menelan kambing. Cuma klengkas-klengkos tak bisa bergerak ke mana-mana.

Dalam budaya kita, berkaitan makan itu penting, anak-anak selalu ditanya. “Sudah makan belum?” Ketika ada tamu ke rumah, untuk menunjukkan keakraban, selalu diajak untuk makan. “Makan dulu,” kata tuan rumah. Tetapi bila yang ditawari orang Jawa, biasanya akan menjawab, “Matur nuwun, nembe mawon (terima kasih, baru saja makan).  Padahal kadang-kadang hanya sekedar jaga gengsi, meski kondisi perut sebetulnya sedang keroncongan stambul dua.

Hidup memang harus makan. Cuma makannya orang miskin, orang kaya dan rakus sebagaimana koruptor memang beda. Orang miskin selalu bertanya, “Besok apa yang dimakan?” Orang kaya juga bertanya, “Besok makan di mana?” Beda lagi si koruptor rakus, pertanyaannya selalu, “Besuk kita makan siapa?” Memang, demi mengenyangkan perut orang bisa melupakan kesetiaaan, persahabatan dan nilai-nilai. Mekjelang Pilpres 14 Februari mendatang, semua menjadi nampak nyata. Yang jendral jadi kopral, yang lawan jadi teman, yang pelanggar HAM berat disanjung-sanjung. Benar-benar tak punya prinsip.

Dalam kisah dunia perwayangan, sosok manusia paling rakus adalah Kumbokarno dari Ngalengkadiraja. Dalam bentuk raksasa, makannya banyak sekali. Karena memiliki ajian Gedong Menga, makan apa saja perutnya nampung termasuk tumpeng sewu. Ketika Prabu Dasamuka terdesak dari serangan prajurit kera milik Ramawijaya, dia minta tolong sang adik Kumbokarno untuk ikut bertempur membela negara. Kumbakarno yang sedang tidur dibangunkan dan disuruh makan kesukaannya yang banyak tersebut.

Selesai makan baru diminta maju perang bela negara Ngalengka. Tetapi Kumbokarno tidak mau dengan alasan, itu perang bukan masalah negara, tetapi berebut wanita. Hina sekali! Prabu Dasamuka marah, lalu katanya, “Kalau begitu kembalikan tumpeng sewu yang barusan kamu gaglak (makan).” Tanpa ragu lagi Kumbokarno langsung memuntahkan kembali makanan yang baru disantapnya. “Hoekkkk, hoeeekkk…..!” tumpahlah segala makanan itu. Tak hanya nasi tumpeng, tapi juga babi guling, ingkung ayam bahkan lalapan pete.

Demikianlah gambaran orang-orang yang hidup hanya untuk makan, yang dipikirkan hanya soal badogan (makanan) melulu. Padahal para ulama selalu mengatakan, kita hidup dunia itu hanya sebentar, ibarat hanya mampir ngombe. Bahkan kata budayawan Bantul Butet Kertaredjasa, hidup itu cuma mampir ngguyu. Ya, dia bisa mengatakan demikian karena lewat humor-monolog sarat sindiran tajamnya, Butet bisa hidup mapan dan diperhitungkan. (Cantrik Mataram).

spot_img

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


spot_img

Latest Articles