Hijrahnya Anak Mualaf Pulau Meranti ke ‘Pulau Ilmu’

Pelepasan Ronal Febri Putra (14 tahun) dan Ahmad Choiri (13 tahun) untuk sekolah di SMP Cendekia, Bogor melalui Yayasan Fitrah Madani Selat Panjang. Foto: Ist

RANGSANG PESISIR – Jauh dari pelosok negeri di sebuah Pulau di Kabupaten Meranti, Propinsi Riau, tepatnya di SDN 12 Sokop Lokal Jauh, Dusun Bandarraya, Desa Sokop, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Propinsi Riau, ada empat anak yang telah mualaf sejak Maret 2017 lalu.

Kini, mereka disekolahkan di sekolah ternama di pulau Jawa. Dua anak Ronal Febri Putra (14 tahun) dan Ahmad Choiri (13 tahun) disekolahkan di SMP Cendekia Baznas, Bogor. Dua anak lainnya Amzah (14 tahun) dan Abdul Qowi (13 tahun) lulus di pondok pesantren Ma’ad Al-Abqary, Banten.

Mendapatkan kesempatan masuk pondok pesantren ternama di pulau Jawa itu, tidaklah mudah. Meski mereka anak-anak mualaf, namun mereka tetap mengikuti prosedur penerimaan siswa baru, mulai dari pendaftaran hingga tes psikologi.

Dan terakhir, mereka juga disurvey (home visit) oleh tim utusan pondok pesantren. Semua tahap-tahap tersebut, pastinya membuat deg-degan para orang tua yang masih beragama nenek moyang Suku Akit, yang di Indonesia dimasukkan ke dalam Agama Budha.

“Kami memang sudah mempercayakan kepada utusan Dompet Dhuafa, Bapak Jamil untuk mengarahkan dan mengajari anak kami untuk menjawab tes yang diberikan pihak sekolah. Kami berharap anak-anak kami, Abdul Qowi, Amzah, Ronal, dan Choiri lulus di sekolah yang mereka inginkan,” ungkap Aheng (53 tahun) selaku kepala Suku Akit sekaligus orang tua dari Abdul Qowi.

Redovan Jamil, Konsultan Sekolah Literasi Dompet Dhuafa yang bertugas di Desa Sokop, terus mengupayakan agar anak-anak mualaf tersebut bisa lulus di sekolah pavorit itu. Mulai dari memberi bersemangat, hingga memberikan les pada sore harinya.

Kepada KBK, Jamil juga mengaku terus memotivasi anak-anak untuk giat belajar agama. Seusai salat magrib berjamaah, anak mualaf yang berada di Sokop sebanyak tujuh orang selalu belajar mengaji di masjid Darul Islami Madani. Masjid satu-satunya di dusun tersebut, dikarenakan umat Islam di sana minoritas di tengah mayoritas Agama Budha yang dianut Suku Akit.

Sabtu (8/7/2017) Choiri dan Ronal diterbangkan ke Pulau Jawa, untuk segera sekolah di SMP Cendekia Baznas, Bogor.

Mereka langsung diantar Jamil Redovan yang selama ini sudah mendampinginya, kini ia didaulat selaku penanggungjawab serta wali pengantar untuk anak-anak. Pelepasan mualaf ini, melalui bantuan Yayasan Fitrah Madani meranti, Selat Panjang, Kabupaten Kepulauan Meranti.

Sementara itu, Amzah dan Abdul Qowi akan diberangkatkan ke pondok pesantren Ma’ad Al-Abqary, Banten, Ahad (14/7/2017). Ia akan dijemput langsung oleh Trainer TOPS Dompet Dhuafa (Zayd Sayfullah).

“Harapan saya selaku orang tua, hendaknya anak-anak kami menjadi anak yang bisa menjadi tauladan untuk anak-anak Dusun Bandaraya, Desa Sokop. Juga bisa membanggakan orang tua, serta meraih mimpinya menjadi ustads”, tutur Parica (37 tahun) orang tuanya Amzah yang masih menganut agama nenek moyang Suku Akit yang di Indonesia dimasukkan dalam Agama Budha.

Meski berbeda agama, para orang tua tersebut, dengan senang hati menyerahkan anak-anak mereka untuk masuk sekolah Islam, karena mereka percaya dengan pendampingan Dompet Dhuafa yang akan mengantarkan anak mereka ke masa depan yang lebih baik dari mereka.

Advertisement