
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di luar rumah di tengah cuaca panas ekstrem sampai 38 derajat Celsius yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, diprediksi berlangsung hingga akhir Okt. sampai awal Nov. 2025.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, Minggu (19/10) menjelaskan, suhu udara siang hari di sejumlah daerah telah mencapai kisaran 37 hingga 38 derajat Celsius.
“BMKG mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan, terutama bagi lansia dan anak-anak,” ujarnya.
Sementara itu Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menambahkan bahwa paparan sinar ultraviolet (UV) pada jam-jam tersebut berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi.
“Paparan sinar matahari langsung pada indeks UV tinggi dapat menyebabkan iritasi kulit dan mata dalam hitungan menit sehingga harus dihindari, “ujarnya.
BMKG menyarankan pada masyarakat agar menggunakan pelindung diri seperti topi, jaket, payung, kacamata hitam, dan tabir surya jika terpaksa berada di luar ruangan.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk memperbanyak konsumsi air putih guna mencegah dehidrasi.
Wilayah dengan suhu maks.
Dalam laporan observasi terbaru, BMKG mencatat beberapa wilayah Indonesia mengalami suhu maksimum yang tergolong ekstrem.
Di antaranya: Karanganyar, Jawa Tengah, mencapai 38,2 derajat Celsius; Majalengka, Jawa Barat, 37,6 derajat Celsius; Boven Digoel, Papua, 37,3 derajat Celsius; dan Surabaya, Jawa Timur, 37 derajat Celsius.
Selain itu, suhu tinggi juga terpantau di sejumlah wilayah Jabodetabek dan Banten. Di Kemayoran dan Halim, Jakarta, suhu berkisar antara 34 hingga 35 derajat Celsius, sementara di Curug dan Tanjung Priok berada di kisaran 33 hingga 34 derajat Celsius.
“Kondisi ini dapat memicu heatstroke atau kelelahan akibat panas jika masyarakat tidak melindungi diri,” tambah Andri.
Ketua Tim Kerja Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardani, menjelaskan bahwa cuaca panas di Indonesia disebabkan oleh minimnya tutupan awan yang memungkinkan radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi.
“Gerak semu Matahari pada bulan Oktober sudah berada sedikit di selatan ekuator, sehingga wilayah Jakarta dan sekitarnya menerima penyinaran yang lebih intens,” jelasnya.
Selain faktor posisi Matahari, penguatan indeks monsoon Australia juga menjadi salah satu penyebab udara kering dan panas dari wilayah gurun Australia masuk ke Indonesia.
“Saat ini kita memasuki masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Kondisi ini ditandai dengan siang yang terik dan cerah, lalu diikuti hujan lokal pada sore hingga malam hari akibat proses konveksi,” ujarnya.
Berisiko bagi kesehatan
BMKG mengingatkan bahwa cuaca panas ekstrem tidak hanya berdampak pada ketidaknyamanan, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan pekerja lapangan.
Untuk itu, masyarakat disarankan untuk tetap di dalam ruangan ber-AC, memperbanyak asupan cairan, serta menghindari minuman berkafein atau beralkohol yang memicu dehidrasi.
Selain itu, mengenakan pakaian longgar berwarna terang dan berbahan ringan juga dapat membantu tubuh beradaptasi dengan suhu tinggi.
“Kesadaran menjaga tubuh tetap terhidrasi dan melindungi diri dari paparan langsung sinar matahari sangat penting di kondisi seperti sekarang,” ujar Andri.
BMKG memperkirakan kondisi suhu tinggi ini akan berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November 2025, sebelum akhirnya suhu mulai menurun seiring datangnya musim hujan.
Namun, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan memantau informasi cuaca resmi dari BMKG agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi secara tepat.
Dengan meningkatnya indeks UV dan suhu udara ekstrem, masyarakat diharapkan dapat menyesuaikan aktivitas harian dan menerapkan langkah-langkah pencegahan demi menjaga kesehatan di tengah cuaca panas yang masih berlanjut hingga beberapa minggu ke depan.
Waspada dan harap patuhi himbauan BMKG.




