Hong Kong Kisruh

Para calon penumpang pesawat kesulitan menuju ruang keberangkatan Bandara Hong Kong yang dipadati ribuan pengunjuk rasa sejak Senin (12/8). Tuntutan pendemo yang semula menolak pengesahan RUU Ekstradisi, beralih mendesak pengunduran diri penguasa Hong Kong Carrie Lam yang pro Beijing.

AKSI-AKSI massa semakin sulit dikendalikan, bahkan ribuan pengunjukrasa praktis melumpuhkan Bandara Int’l Hong Kong dan memaksa otoritas bandara membatalkan seluruh penerbangan.

Senin pagi (12/8), paling tidak 200 penerbangan dibatalkan, sedangkan Selasa pagi, aktivitas take-off dan landing pesawat masih dilayani, namun kehadiran ribuan pendemo kemudian memaksa otoritas bandara membatalkan seluruh penerbangan.

Ribuan massa menggunakan troli-troli bagasi di bandara untuk memblokade menuju ruang keberangkatan pesawat. Tidak diketahui jumlah korban yang jatuh dalam aksi massa melawan aparat yang saat itu bertubi-tubi melontarkan tabung gas gas air mata.

Hong Kong, salah satu destinasi wisata favorit dunia sedang bergerak ke arah situasi paling rawan akibat eskalasi aksi-aksi unjuk massa yang semula untuk menentang usulan pengesahan perubahan UU Ekstradisi, kemudian beralih untuk menggulingkan Ketua Eksekutif Carrie Lam.

Rancangan perubahan UU Ekstradisi usulan Lam memuat pasal yang memungkinkan tersangka diadili di Taiwan, Makau atau China daratan sehingga ditolak mayoritas warga karena dikhawatirkan akan digunakan oleh otoritas China untuk memberangus lawan-lawannya.

Lam (62), politisi gaek perempuan yang dikenal piawai dan cermat di bidang administrasi itu orientasi politiknya dinilai condong ke Beijing.

Diangkat menjadi kepala eksekutif Hong Kong, Maret 2017, Lam bukan lah pilihan publik, tetapi ditetapkan oleh komite dengan 1.194 anggota yang didominasi para politisi pro-Beijing dimana pembentukannya (pada 2014) juga memicu aksi massa.

Dikecam PBB
Tindakan aparat keamanan otoritas wilayah administrasi khusus China terhadap pendemo, Selasa (13/8) juga mengundang kecaman dari Ketua HAM PBB Michele Bachelet.

Bachelet mengingatkan, penembakan tabung gas air mata langsung ke titik keramaian massa, apalagi di ruang tertutup dan dilakukan berulang kali bisa mengakibatkan risiko kematian atau cedera serius.

Ia juga meminta agar para petugas keamanan memperhatikan hak-hak warga dalam berpendapat, melakukan respons secara proporsional dan terukur termasuk saat terjadi gesekan antara pendemo dan aparat.

Lam yang berupaya menahan tangis, dalam jumpa pers di bandara Hong Kong, Selasa mengingatkan, kekerasan, akan mendorong Hong Kong ke jalan yang tidak bisa kembali dan akan menjerumuskan masyarakat Hong Kong ke dalam situasi yang sangat mengkhawatirkan dan berbahaya.

“Luangkan waktu sebentar untuk berpikir, lihat kota kita, rumah kita, apakah Anda semua benar-benar ingin melihatnya terdorong ke dalam jurang?,” tanya Lam. Namun Lam tetap bergeming, menolak tuntutan pendemo yang memintanya lengser.

Kerugian ekonomi Hong Kong sudah di depan mata terutama akibat anjloknya kunjungan turis di tengah aksi-aksi unjuk rasa.

Menurut catatan, 30 juta turis manca negara yang berkunjung ke Hong Kong pada 2018 menghasilkan devisa sebesar 42 milyar dollar AS (sekitar Rp588 triliun).

Indeks saham Hang Seng, Selasa ditutup dengan pennurunan 2,10 persen, begitu pula saham Cathay Pasifik anjlok 2,55 persen atau mencapai level penurunan terendah sejak satu dasawarsa terakhir.

Sekarang tinggal adu kuat, antara “people power” dan rezim penguasa China daratan. (AP/Reuters/ns)

Advertisement