SEMAR GUGAT

Ki Lurah Semar marah, karena SBG mempersulit pemugaran Candi Saptahargo.

DULU Candi Saptahargo hanya menjadi arena semedi Begawan Abiyasa sekaligus menelaah isi kitab suci. Tapi sesuai tuntutan zaman, tempat itu kini juga jadi arena diskusi politik macam “Warung Daun” di Jakarta. Tokoh-tokoh Pendawa seperti Gatutkaca, Antasena, sering hadir di sini. Setyaki dari Dwarawati juga tak pernah absen. Paling aktif adalah Resi Seta dari pertapan Suhini. Dalam setiap diskusi yang berlangsung pada malam Jumat – Selasa Kliwon, dia selalu tampil jadi pembicara.

Pokok bahasan cenderung hal-hal yang sensitif, mengkritisi kebijakan penguasa Kahyangan Sanghyang Betara Guru (SBG) yang tak pro rakyat ngercapada. Kebijakan-kebijakan yang tertera dalam Perda (Peraturan Dewa), cenderung hanya menguntungkan pemimpin-pemimpin negeri tertentu. Dalam hal subsidi misalnya, hanya yang “tahu jalan”-nya saja bisa memperoleh cepat. Yang lurus-lurus sesuai prosedur, jarang dapat alias hanya terhenti dalam proposal.

“Banggar Jonggring Salaka, lagaknya seperti Banggar DPR ngercapada,” kecam Resi Seta.

“SBG mestinya direformasi. Sayangnya, jangankan 2019, tahun berapa pun tak mungkin dia dilengserkan.” keluh Antasena, sosok muda yang terkenal vokal.

Kenapa Resi Seta sampai mengeluarkan kecaman sepedas itu? Karena usulan proyek rehab Candi Saptahargo milik Begawan Abiyasa, tak pernah digubris oleh penguasa Jonggring Salaka. Asalkan Abiyasa mengecek ke sektretaris kahyangan Betara Penyarikan, posisinya masih tetap. Artinya, usulan proyek itu hanya “dibintangi” oleh SBG. Di situ ada pula catatannya: bukan kebutuhan mendesak.

Namun ironisnya, proyek reklamasi dari negeri Timbultaunan, baru sebulan usul, langsung disetujui dan keluar anggarannya. Kabarnya para dewa pada kia-kia (pesta) karena kecipratan Apel Malang dan Dolar Washington. Buktinya, itu Betara Temboro yang biasanya naik Honda ’69 yang bunyinya ngukkk engukkkk….., kini sudah pakai Toyota Fortuner.

“Tolong dong dipercepat. Candi Saptahargo sudah nyaris roboh nih….” kata Begawan Abiyasa.

“Sampeyan jangan maksa-maksa begitu. Semua ada aturannya. Yang minta gedung baru bukan cuma pertapan Saptahargo, tahu!” jawab Betara Penyarikan keras, karena didatangi dan ditelpon Abiyasa melulu, tapi tidak ada “pengertian” sama sekali.

Kecewa dengan nihilnya perhatian dari SBG, Abiyasa – Resi Seta sampai melempar wacana: bagaimana jika pembangunan Candi Saptahargo dibiayai lewat dana CSR (Corporate Social Responsibility) saja? Hanya sekali mereka ngomong di TV swasta, langsung tanggapan rakyat demikian melimpah. Mayoritas publik sangat setuju.

“Nggak bisa dong. Candi Saptohargo tak bisa terima barang langsung. Harus berbentuk uang dan dibicarakan dengan DPRD-nya kahyangan” kata Ketua DPRD (Dewa Perwakilan Rakyat Dewa), Sanghyang Temboro.

“Lalu berembug dengan SBG, kan? Jika SBG tak mau bagi-bagi duitnya, proyek ditolak….!” tukas Resi Seta yang kumisnya tebel, keras sekali.

“Dengan sendirinya, dong.” Jawab Temboro tanpa malu-malu.

Sayang, ketika perusahaan swasta hendak menyeponsori rehab Candi Saptahargo, selalu diusili P2B (Pengawas dan Penertiban Bangunan) dari kahyangan. Yang tidak boleh lebih dari dua lantailah, yang GSB-nya tak boleh kurang dari 15 meterlah. Pokoknya jika tak ada fulus, pelanggaran ini harus diurus. Resi Seta dan Begawan Abiyasa dongkol sekali dengan ulah oknum-oknum P2B itu. Di kala rasa kecewa itu belum beroleh solusi, tiba-tiba Seta dan Abiyasa raib. HP mereka juga blank, tidak bisa dihubungi.

Kubu Ngamarta sungguh merasa kehilangan dengan raibnya dwitunggal Abiyasa – Seta. Jangan-jangan diculik. Mereka adalah begawan yang bekerja tanpa pamrih. Asal umat ngercapada menjadi arif dan bijaksana meniti kehidupan, mereka sudahlah senang. Sayangnya, proyek untuk pengarifan umat itu justru diganjal oleh SBG penguasa Jonggring Salaka. Asal berhasil “membintangi” proyek wayang ngercapada, puasnya bukan main. Gue yang kuasa, mau apa luh? Kalau diprotes, jawabnya: duit nenek lu?

“Kok sampai diculik, apakah eyang Abiyasa bikin puisi politik macam Fadli Zon?” Setyaki menduga-duga.

“Ah, masak? Saya kira SBG tak sekejam Orde Baru dulu, cuma puisi saja diopenin.” Antasena membantah teori sapukawat Dwarawati itu.

Sementara itu di Jonggring Salaka Betara Guru alias SBG sedang bersilang opini dengan Patih Narada. Dewa model pulau Kalimantan itu menuduh SBG semakin menunjukkan arogansinya sebuah kekuasaan. Apa ruginya meloloskan dana CSR untuk Candi Saptahargo? Toh tak mengganggu APBN kahyangan. Tapi SBG bersikukuh, ini sebuah pelajaran bagi rakyat ngercapada yang selalu mengkritisi kahyangan. Dikuatirkan, jika Candi Saptaharga berhasil direhab, itu hanya akan menjadi ajang diskusi untuk memusuhi Kahyangan.

“Percaya sama aku, ada maksud-maksud terselubung Seta – Abiyasa memugar Candi Saptahargo.” SBG mencoba meyakinkan patihnya.

“Ah, gombil! Jadi penguasa kok curiga melulu sama rakyatnya.”

Belum juga selesai tokoh Jonggring Salaka itu berdialog empat mata, mendadak masuk Prabu Dewasrani dari Tunggul Malaya. Dengan sikap sempurna dia melaporkan bahwa usaha penculikan Seta – Abiyasa berhasil dengan mulus. Mereka kini disekap di Pasetran Gandamayit, di bawah pengawasan Betari Durga. Mereka tidur di kasur tipis produk Palembang, tanpa AC dan tak boleh mengajar para cantriknya selama menjalani tahanan.

“Adi Guru? Jadi Seta dan Abiyasa jadi ditahan juga? Terlaluuuuu…..” kata Betara Narada dengan aksen niru pedangdut Rhoma Irama.

“Belum ada Perpu-nya kok main tangkap saja…..” potong Betara Brama dengan wajah masgul.

Benar-benar nggak boleh dirasani (dibicarakan). Belum juga SBG menyampaikan alasan soal penahanan Seta – Abiyasa, mendadak masuklah Resi Seta dan Abiyasa, dengan ditemani Ki Lurah Semar. Tentu saja SBG dan Dewasrani terkejut, kenapa tawanannya bisa lepas bahkan datang ke Jonggring Salaka pula. Apa lagi ditemani Semar, tokoh Karangkebolotan yang sangat ditakuti oleh SBG selama ini.

“Ada apa Kakang Semar ke Bale Marcakunda sambil mengajak Seta – Abiyasa?”

“Nggak usah berlagak pilon, kamu. Kenapa para Bapak Bangsa ini kamu sekap? Apakah mereka berdosa, jika membela kepentingan umat ngercapada, ha? Ayo jawab, atau njaluk tak entuti meneh kowe….” ujar Semar sambil menuding-nuding muka SBG.

Wah, Semar ini lho, ngarani kok waton nyata (menuduh kok asal benar). SBG yang merasa kehilangan muka di depan publik, mencoba kabur. Tapi segera ditarik jubah kebesarannya, hingga terjatuh. Tanpa ampun lagi SBG diinjak-injaknya hingga kesulitan bernapas. Apa lagi “bom atom” produk Karangkebolotan juga menyertainya. Langsung SBG jadi gele (teler).

Prabu Dewasrani yang mencoba membela sang ayah angkat, malah dibuat bancakan oleh Seta – Abiyasa. Meski sudah layak masuk Panti Werda Cipayung, sepak terjang mereka masih rosa-rosa kayak Mbah Marijan. Raja Tunggulmalaya ini juga dibuat kesed dua begawan itu.

“Hayo, diijinkan nggak proyek Candi Saptahargo pakai CSR?” ancam Semar.

“Iya, iya, nanti saya ijinkan. Aduh, duh, aduh. Kodok kalung kupat, awak boyok sing ra kuwat.” Rintih SBG.

Dengan kawalan ketat Semar, SBG kemudian membuka proposal proyek CSR pembangunan Candi Saptaharga, lalu ditandatangani sret sret. Dengan persetujuan itu berarti Abiyasa tak lama lagi bisa menyaksikan padepokan Candi Saptaharga yang tampak mewah dan representatif.

“Gedung jadi, diskusi kita tambah seru dong…..” Kata Resi Seta dan Abiyasa nyaris bareng.

“Iya, tapi jangan dimasukkan ajaran khilafah lho ya.” (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement