JAKARTA, KBKNEWS.id – Seorang ibu hamil, Irene Sokoy, bersama bayi yang dikandungnya meninggal setelah ditolak empat rumah sakit di Jayapura.
Peristiwa ini memicu perhatian publik dan mendorong Gubernur Papua Matius Derek Fakhiri menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada keluarga korban.
Fakhiri menyebut kematian Irene sebagai bukti seriusnya kerusakan sistem layanan kesehatan di Papua. Ia menegaskan pemerintah daerah tidak boleh menutup mata atas buruknya pengelolaan fasilitas kesehatan.
“Ini contoh nyata kebobrokan pelayanan. Saya mohon maaf atas kelalaian pemerintah dari atas hingga bawah,” ujarnya saat mendatangi rumah keluarga Irene di Kampung Hobong, Sentani.
Gubernur menyampaikan bahwa sejumlah peralatan medis di berbagai rumah sakit masih rusak dan tidak terurus. Ia berjanji melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk mengganti direksi rumah sakit yang berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi. Ia juga telah meminta dukungan langsung dari Menteri Kesehatan untuk memperbaiki manajemen dan sarana kesehatan di Papua.
Fakhiri menegaskan seluruh rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta, harus menempatkan keselamatan pasien di atas segala prosedur administratif. “Layani dulu pasien, urusan administrasi di belakang. Tidak ada alasan untuk menolak,” katanya, dikutip kompas.com.
Kronologi yang dihimpun keluarga menunjukkan Irene mulai mengalami kontraksi pada Minggu siang. Ia dibawa dengan speedboat ke RSUD Yowari, namun tidak segera ditangani karena dokter tidak berada di tempat dan proses rujukan berjalan lambat. Keluarga kemudian memindahkannya ke tiga rumah sakit lain, tetapi tetap tidak mendapatkan penanganan memadai hingga akhirnya meninggal pada Senin dini hari.





