Iduladha 1445 H, Refleksi Pengorbanan Seorang Hamba Kepada Sang Pencipta

0
40

Jakarta – Idul Adha atau Iduladha (عيد الأضحى‎) adalah hari raya umat Islam tanggal 10 Zulhijjah. Idul Adha merupakan peringatan peristiwa kurban Nabi Ibrahim a.s. yang mengorbankan putranya, Ismail, yang kemudian digantikan oleh Allah Swt. dengan domba.

Kata Idul Adha berasal dari kata ‘id dan ‘adha. ‘Id berakar pada kata ‘aada ya’uudu’ yang artinya “menengok”, “menjenguk”, atau “kembali”. Kata Adha bermakna ‘qurban’ (kurban).

Disebut ‘Id karena hari raya kembali berulang setiap tahun. Di Indonesia, Id kerap disamakan artinya dengan ayyada’, yakni “berhari raya”. Dengan demikian, Idul Adha berarti kembali melakukan penyembelihan hewan kurban sehingga dikenal pula sebagai Hari Raya Qurban.

Hewan kurban yang sedang dikuliti (Foto : kbknews)

Hukum melaksanakan kurban menjadi wajib bagi orang yang mampu atau memiliki keluasan rezeki untuk berqurban di hari Idul Adha. Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.” (QS Al-Kautsar).

daging kurban sedang dipotong/dicacah. (Foto : kbknews)

Menilik pada sejarahnya, Iduladha bermula saat Allah SWT memerintahkan pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. untuk menempatkan istrinya, Hajar, bersama anaknya, Ismail, yang saat itu masih menyusu.

Hajar dan Ismail ditempatkan di lembah yang tandus, gersang, dan tidak tumbuh sebatang pohon pun. Lembah itu begitu sunyi dan sepi tidak ada penghuni seorangpun.

Nabi Ibrahim pada saat itu tidak mengetahui maksud sebenarnya dari wahyu Allah yang menyuruh menempatkan istri dan putranya yang masih bayi ditempatkan di suatu tempat paling asing, di sisi utara sejauh lebih dari 1600 KM dari negaranya sendiri, Palestina.

Tapi baik Nabi Ibrahim, maupin istrinya Siti Hajar, menerima perintah itu dengan ikhlas dan tawakkal.

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami sesunggunnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di suatu lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahmu (Baitullah) yang dimuliakan. Ya Tuhan kami (sedemikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah gati sebagia manusia cenderung kepada mereka dan berizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS Ibrahim: 37).

Diceritakan oleh Ibnu Abbas r.a., tatkala Siti Hajar kehabisan air minum hingga tidak biasa menyusui nabi Ismail, beliau mencari air kian kemari sambil lari-lari kecil (Sa’i) antara bukit Sofa dan Marwah sebanyak 7 kali. Tiba-tiba Allah mengutus malaikat jibril membuat mata air Zam Zam. Siti Hajar dan Nabi Ismail memperoleh sumber kehidupan.

Lembah yang dulunya gersang kemudian memiliki persediaan air yang berlimpah. mengetahui kabar bahwa persedian air yang berlimpah di daerah tersebut, banyak dari berbagai pelosok terutama para pedagang ke tempat siti hajar dan nabi ismail, untuk membeli air.

Berkat sumber air tersebut, maka rezeki datang dari berbagai penjuru, dan makmurlah tempat di sekitarnya. Pada akhirnya lembah itu hingga saat ini terkenal dengan kota Mekkah, sebuah kota yang aman dan makmur, berkat do’a Nabi Ibrahim.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berdo’a: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, sebagai negeri yang aman sentosa dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kiamat.” (QS Al-Baqarah: 126)

Dalam kitab Misykatul Anwar disebutkan, Nabi Ibrahim memiliki kekayaan 1000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 ekor unta. Riwayat lain mengatakan, kekayaan Nabi Ibrahim mencapai 12.000 ekor ternak. Suatu jumlah yang menurut orang di zamannya adalah tergolong milliuner.

Ketika pada suatu hari, Ibrahim ditanya oleh seseorang “milik siapa ternak sebanyak ini?” maka dijawabnya ; “Kepunyaan Allah, tetapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma ternak, bila Allah meminta anak kesayanganku Ismail, niscaya akan aku serahkan juga.”

Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’anul ‘adzim berpendapat, pernyataan Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan anaknya jika dikehendaki oleh Allah itulah yang kemudian dijadikan ujian, yaitu Allah menguji iman dan taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia mengorbankan putranya yang kala itu masih berusia 7 tahun supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri.

قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Ibrahim berkata : “Hai anakkku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS Ash-shaffat: 102).

Ketika keduanya siap untuk melaksanakan perintah Allah, setan menggoda Nabi Ibrahim agar membatalkan niatnya mengurbankan Ismail.

Domba Kurban (Foto : kbknews)

Nabi Ibrahim pun mengambil batu, lalu mengucapkan, “Bismillahi Allahu akbar,”, dan batu itu dilemparkan kepada setan.

Kini seluruh jamaah haji mengikuti apa yang dulu dilakukan oleh Nabi Ibrahim saat mengusir setan dengan melempar batu seraya berkata, “Bismillahi Allahu akbar”. Hal ini menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah.

Nabi Ibrahim memantapkan niatnya. Nabi Ismail pasrah bulat-bulat, seperti ayahnya yang telah tawakkal.

Sedetik setelah pisau nyaris digerakkan, tiba-tiba Allah berseru dengan firmannya, menyuruh menghentikan perbuatannya tidak usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya. Allah telah meridloi kedua ayah dan anak memasrahkan tawakkal mereka.

Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai korban, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an surat As-Saffat ayat 107-110:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

“Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ

“Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.”

سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ

“Yaitu kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim.”

كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

“Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Menyaksikan tragedi penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia itu, Malaikat Jibril kagum, seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.”

Nabi Ibrahim menjawab “Laailaha illahu Allahu Akbar.” Yang kemudian dismbung oleh Nabi Ismail “Allahu Akbar Walillahil Hamdu.’

Ritual Iduladha Di Indonesia

Saat Iduladha tiba, sebagian masyarakat muslim di Indonesia merayakannya dengan berkuban, baik domba, kambing maupun sapi. Sepakan sebelum hari raya Iduladha, sentra-sentra peternakan serta pedagang hewan kurban mulai menggeliat dan menjajakan hewannya di pinggir jalan.

Pemotongan hewan kurban menjadi hari yang dinanti, baik oleh pengkurban maupun oleh penerima manfaat daging kurban dari golongan masyarakat miskin.

Daging kurban tersebut biasanya akan disajikan dengan berbagai hidangan khas, seperti sup, sate maupun hidangan lainnya.

 

Advertisement div class="td-visible-desktop">

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here