
SEKITAR 50 ilmuwan diaspora Indonesia yang tinggal di 11 negara hadir dalam Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) yang diselenggarakan di Jakarta, 12 sampai 18 Agustus.
Menristek dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir yang membuka SCKD 2018 di Jakarta, Senin (14/8) mengemukakan, kehadiran diaspora di tanah air dapat menjadi pengungkit bagi pengembangan iptek, mengingat mereka yang hadir memiliki kompetensi dan mumpuni di bidangnya.
Sedangkan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brojonegoro dalam sambutannya berharap agar para ilmuwan diaspora memberikan dampak (positif-red) bagi pembangunan iptek di Indonesia dan luar negeri.
Menurut dia, para diaspora dapat dilibatkan dalam kegiatan riset dengan nilai tambah yang bisa dijadikan keunggulan Indonesia. “Tidak mesti riset yang sangat advanced , tetapi yang mampu menjawab kebutuhan bangsa, kemudian secara bertahap terus ditingkatkan, “ tuturnya.
Bambang mencontohkan, Korea Selatan dan Vietnam melakukan loncatan besar sehingga mereka tumbuh menjadi negara maju, bahkan Vietnam yang semula miskin dan terjajah, mampu menyalip Indonesia antara lain karena mereka memanfaatkan diaspora untuk membangun negara.
Dirjen Sumber Daya Iptek Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi Ali Ghufron sebelumnya menyatakan, para ilmuwan diaspora yang hadir dalam SCKD telah diseleksi ketat dengan melibatkan peran Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) dan Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia (I-4).
SCKD ditanggapi antusias oleh para ilmuwan diaspora. Sejak pendaftaran dibuka Juni lalu, 120 ilmuwan diaspora mendaftarkan diri dalam program ini.
Para ilmuwan diaspora tersebut, lanjut Ghufron, datang ke Indonesia tidak sekedar pulang kampung, berbincang dengan akademisi dan ilmuwan Indonesia mengenai pengembangan iptek, tetapi juga berkontribusi menyusun rekomendasi kebijakan pembangunan SDM Indonesia.
Acara Ketiga Kalinya
SCKD yang digelar 2018 adalah yang ketiga kalinya, bermula dari program serupa ”Visiting World Class Professor” pada 2016, kemudian diubah menjadi SCKD pada 2017 hingga saat ini. Ilmuwan diaspora yang dihadirkan tidak selalu sosok yang sama, sehingga banyak wajah baru yang mengikuti SCKD 2018.
“Banyak ilmuwan diaspora yang hadir adalah mereka yang masih muda, namun karya mereka sudah luar biasa, bahkan diakui dunia. Para anak muda inilah yang memiliki kesempatan panjang untuk membawa Indonesia ke puncak ilmu pengetahuan dunia,” tutur Ghufron.
Para ilmuwan diaspora yang berasal dari AS, Arab Saudi, Australia, Belanda, Inggeris, Jepang, Jerman, Kanada, Malaysia, Singapura dan Swedia itu selama di tanah air diminta membagi pengetahuan dan pengalaman, bersinergi dan menjalin relasi serta berkolaborasi dalam kegiatan riset dan publikasi bersama ilmuwan dalam negeri.
Mereka yang terpilih mengikuti SCKD sudah memiliki jabatan akademik minimal asisten profesor di institusinya. Tercatat, ada tujuh asisten profesor, 14 associate professor, 10 profesor, dan sisanya senior lecturer yang telah menjadi academic leader (dekan atau kepala pusat riset) serta ada pula yang menjadi peneliti profesional.
Latar belakang bidang keahlian mereka juga cukup beragam, mulai kedokteran, biologi molekuler, energi, teknik kimia, teknik elektro, farmasi, tata kota, pangan, kemaritiman, juga ilmu sosial.
Sumbangsih para ilmuwan diaspora itu tentu bermanfaat bagi negeri ini yang sedang membangun dan melangkah menuju era indutrialisasi 4.0.
Namun karena ilmuwan diaspora sudah terbiasa hidup dalam tatanan, kultur dan sistem politik yang berbeda di luar negeri, tentunya dituntut sikap saling pengertian, saling menghargai, saling asah dan asuh antara mereka dan ilmuwan di dalam negeri. (Sumberdaya Ristek Dikti/NS)




