Indonesia Bisa Jadi “Kiblat” Dunia

JAKARTA (KBK) – Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Bambang Pranowo menyatakan Islam di Indonesia adalah Islam yang damai dan akan menjadi “kiblat” Islam di dunia.

Hal itu tercermin sejak dari proses masuknya Islam itu ke Indonesia hingga sekarang. Di mana ketika awal Islam masuk ke nusantara, agama Hindu sudah besar di Kerjaan Majapahit, Jawa Timur dan Agama Budha juga kuat di Kerajaan Sriwijaya, Palembang.

“Namun Islam mulai masuk Nusantara dengan damai, dia melakukan alkulturasi. Misalnya ketika Islam masuk ke Majapahit, masyarakat yang kuat memeluk Hindu selalu menjalankan ritual pernghormatan kepada yang mati di waktu 3 hari, 7 hari, 100 hari. Dengan masuknya Islam ke Indonesia, Islam tidak mengubah budaya itu, tapi dijadikan budaya itu sebagai wadah menyebarkan tauhid,” ungkapnya di depan ratusan Mahasiswa Kampus Umar Usman, di Gedung Phylantropi, Buncit, Jakarta Selatan, Rabu (2/12/2015).

Dilanjutkannya, akulturasi yang terjadi adalah yang tadinya peringatan kematian 3 hari, 7 hari dan seterusnya diisi yang sebelumnya diisi dengan meratap diganti dengan tahlil, makanannya yang tadinya  dipersembahkan untuk orang yang mati, diganti dengan makanan untuk yang hadir.

“Karena orang mati sudah tidak perlu makan, dalam Islam orang mati hanya perlu doa dari yang hidup, maka berkembanglah tahlilan,” jelas Bambang.

Nah, sampai sekarang, kata Bambang, penyebaran Islam di Indonesia itu terus berproses dengan damai. Seperti di Papua misalnya, ketika awal bergabung dengan Indonesia, Islam di sana hanya 3 persen, tapi sekarang sudah 30 persen.

“Kita tidak mendengar ada pertumpahan darah dalam penyebaran Islam di Papua,” jelas penasehat Badan Nasional Anti Terorisme (BNPT) ini.

Dikatakan Bambang, toleransi ini sudah duduk kokok sejak awal republik ini berdiri, buktinya dengan penghapusan 7 kata dalam Piagam Jakarta “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” di 18 Agustus 1945.

“Kalau ketika itu tidak ada penghapusan maka belum tentu Indonesia dapat disatukan. Penghapusan 7 kata itu disepakati ulama saat itu berpijak kepada perjanjian Ubaidiah yang saat itu rasulullah sepakat dengan menghapuskan 7 kata, agar umat Islam bisa umrah ke Mekah,” ujarnya.

Begitu juga ketika penetapan dasar negara Indonesia ketika itu, lanjut Bambang, jika tidak diganti maka wilayah timur mungkin akan terlepas dari Indonesia karena Islam itu memang mayoritas di Indonesia tapi hanya secara demografis, Islam itu hanya menyebar dari Sabang sampai Banyuwangi.

“Bagian Timur sampai Merauke malah mayoritas Hindu dan Katolik,” jelasnya. “Dengan toleransi, akhirnya Indonesia dapat disatukan dengan damai,” pungkasnya.

Advertisement