
PERANG antara Rusia dan Ukraina, dua negara bertetangga dan bekas sama-sama di bawah naungan Uni Soviet nun jauh di daratan Eropa sana, namun imbasnya terasa sejagat raya termasuk Indonesia yang diprediksi akan mengalami lonjakan harga-harga kebutuhan utama.
Minyak mentah jenis Brent sudah melonjak harganya meniadi 130 dollar AS per barel, akibat embargo produk minyak Uni Soviet termasuk Jerman yang membekukan proyek pipanisasi gas alam Northstream sepanjang 1.200 Km dari Rusia.
Bahkan Wakil PM Rusia Alexander Novak memprediksi, harga minyak mentah bisa mencapai 300 dollar AS per barel jika AS dan sekutunya jadi menjatuhkan sanksi terhadap sektor energi negaranya yang sejauh ini memasok sekitar 60 persen kebutuhah energi Eropa.
Kenaikan harga minyak mentah in’tl selain akan menaikkan harga komoditas impor Indonesia seperti gandum, kedelai dan daging sapi, karena naiknya ongkos angkut, juga menekan harga BBM di dalam negeri.
Padahal, sebelum harga minyak dunia naik pun, produsen tahu tempe sudah berteriak karena naiknya harga kedelai, sementara ibu-ibu juga menjerit akibat melonjaknya harga tahu-tempe, minyak goreng dan daging sapi.
Harga kedelai global naik akibat melonjaknya permintaan terutama dari China yang sedang berupaya melipat gandakan peternakan babi yang sebelumnya terimbas pandemi flu babi (H1N1). Kedelai dibutuhkan China untuk pakan ternak termasuk babi.
Sementara kenaikan minyak antara lain terjadi karena peningkatan kewajiban porsi penggunaan penggunaan bio diesel (B30) dalam kegiatan industri ditambah dengan panic buying akibat ulah spekulan yang berusaha menimbun stok.
Sedangkan kenaikan harga daging sapi terjadi antara lain karena negara eksportir utama yakni Australia dan Selandia Baru mengurangi ekspor untuk meningkatkan kebutuhan sapi bakalan di peternakan mereka.
Tergantung Impor
Menurut catatan, RI mengimpor gandum sekitar 31 ribu ton, gula pasir 3,1 juta ton, kedelai 2,49 juta ton dan daging sapi 211,4 ribu ton.
Sementara itu konflik berdarah Rusia vs Ukraina yang pecah akibat invasi Rusia 24 Februari lalu belum ada tanda-tanda mereda, walau wakil kedua belah pihak sudah bertemu di Belarus dan Turki.
Yang disepakati, baru mengenai koridor kemanusiaan yakni jalur evakuasi pengungsi , itu pun berjalan alot karena semula Rusia mempersyaratkan penggunaan jalur melalui wilayahnya atau wilayah Belarus sekutunya.
Rusia yang agaknya merasa “di atas angin” mengajukan sejumlah persyaratan yang sulit diterima lawan, seperti agar Ukraina menghentikan perlawanan atau mengubah konstitusi untuk memastikan netralitasnya.
Persyaratan lainnya, Ukraina harus mengakui wilayah Krimea yang diduduki Rusia pada 2014 adalah wilayah Rusia dan Ukraina diminta mengakui kedaulatan separatis Donetsk dan Luhansk di kawasan Donbass, Ukraina Timur untuk memerdekakan diri.
Sampai hari ke-14 (9/3), selain kesediaan Rusia menetapkan koridor evakuasi dari kota-kota Kiev, Chernihiv, Sumy, Kharkiv, dan Mariupol yang dibombardir dan menyebutkan gencatan senjata, Rabu pukul 10.00 pagi waktu Moskow, belum ada tanda-tanda konflik berakhir.
Sementara pandemi Covid-19 mulai mereda setelah melampaui puncaknya medio Februrari lalu, selain harus tetap mematuhi prokes, rakyat Indonesia juga harus bersiap-siap “mengencangkan ikat pinggang” menghadapi lonjakan harga-harga.
Selain imbas konflik Rusia vs Ukraina yang bakal mengatrol harga minyak global, setelah kenaikan minyak goreng kedelai, daging sapi, bakal disusul harga-harga sembako lainya menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.
Jadi disamping tetap harus mengenakan masker dan mematuhi prokes lainnya, rakyat Indonesia agaknya harus bersiap-siap pula mengenakan “ikat pinggang”.




