Indonesia Urutan Kedua Negara Paling Banyak Dilanda Gempa

Seorang warga menggendong anaknya melintasi rumah yang roboh akibat gempa di Cieunder, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Jumat (25/11/2022). (Foto: ANTARA/Wahyu Putro A)

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa berdasarkan data STATISTA, Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara yang paling sering terkena gempa.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengungkapkan bahwa menurut data STATISTA periode 1990 hingga 2024, Indonesia menempati peringkat kedua dengan 166 kali gempa besar, setelah China yang mengalami 186 kali gempa.

“Tahukah, kita ada di peringkat kedua,” katanya di Jakarta, Kamis (4/1/2024)

Daryono menyampaikan bahwa di Indonesia terdapat 13 segmen subduksi lempeng dan lebih dari 295 sesar aktif, termasuk yang belum terpetakan.

Ia menegaskan bahwa tingginya aktivitas gempa belakangan ini adalah hal yang wajar. Bukan karena saling memicu, melainkan karena Indonesia memiliki banyak sumber gempa.

“Banyaknya aktivitas gempa di berbagai tempat akhir-akhir ini masih wajar dan bukan berarti saling picu antargempa karena memang sumber gempa kita banyak,” katanya.

Warga diimbau untuk waspada terhadap kawasan perbukitan dengan tebing curam, karena gempa susulan yang signifikan dapat memicu longsor dan runtuhan batu.

Daryono menambahkan, hingga tahun 2023, BMKG terus melakukan kegiatan penguatan literasi kebencanaan gempa bumi dan tsunami melalui penyusunan buku-buku sains populer tentang mitigasi gempa bumi dan tsunami.

BMKG juga aktif melakukan kegiatan penguatan kapasitas Mitra BMKG dan masyarakat di daerah rawan bencana gempa dan tsunami melalui program Sekolah Lapangan Gempabumi dan Tsunami (SLG) untuk stakeholder/masyarakat dan BMKG Goes to School (BGTS) untuk siswa sekolah.

Daryono menyampaikan, hingga 2023, BMKG berhasil melibatkan 37.293 peserta dari 26 lokasi dalam kegiatan edukasi mitigasi SLG, dan 39.157 peserta siswa sekolah di 35 Unit Pelaksana Teknis BMKG di daerah dalam kegiatan BGTS.

“Apalagi pascahujan ketidakstabilan lereng mudah terjadi sehingga dapat memicu longsor,” katanya, dilansir dari Antara.

Selain itu, hingga 2023, BMKG berhasil memfasilitasi sembilan Komunitas Masyarakat Siaga Tsunami di delapan Kabupaten untuk mendapatkan Pengakuan Internasional dari UNESCO sebagai Tsunami Ready Community.

BMKG juga memfasilitasi 10 Komunitas Masyarakat Siaga Tsunami di empat Kabupaten/Kota untuk mendapatkan pengakuan Masyarakat Siaga Tsunami Level Nasional, dan pengakuan ini akan dilanjutkan di tingkat internasional pada tahun 2024.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here