SEMENJAK terjadi krisis ekonomi global, negara Buluketiga bukan lagi negara panjang punjung pasir wukir loh jinawi (adil makmur) lagi. Justru berbalik menjadi: panjang utang luar negrinya, munjung (melimpah) kasus korupsinya. Demikian juga para kawula di pedesaan, meskipun terlihat bahagia sejahtera, tapi sebetulnya mengalami krisis sandang pangan. Ternak ayam dan kambing yang bebas mencari makan di pagi hari, sore hari tak kembali ke kandang karena dibedog (ditangkap) tetangga sendiri.
Siapakah gerangan penguasa negeri Buluketiga, tiada duanya kecuali Prabu Tegalelana. Sebagai patih adalah Indrajala, tokoh perantauan dari Indramayu. Pada hari Senin selesai upacara bendera, sang prabu bersama patih Indrajala berdiskusi, membahas soal kesejahteraan rakyat. Di samping daya beli rakyat menurun, negara Buluketiga tengah mengalami pageblug. Pagi sakit, sore hari diantar mobil Yayasan Bunga Kamboja ke makam. Tengah malam kejang-kejang, pukul 12.00 siang tinggal nama.
“He patih Indrajala, hari ini juga saya instruksikan, kamu berangkat ke Ngamarta menculik Prabu Puntadewa untuk kita jadikan tumbal negara,” ujar sang prabu serius.
“Wah, kok pakai culik-culikan segala Gusti, memangnya mau bangun jembatan? Lagian dia kan sudah bukan anak kecil lagi.” jawab Patih Indrajala asal-asalan, mengacu pengalaman semasa kecil dulu.
Prabu Tegalelana pun buka kartu. Tatkala maneges (minta petunjuk) kepada jawata, mendapat wangsit bahwa negara Buluketiga bisa kembali aman sejahtera asalkan ditumbal dengan darah putih. Sang Prabu sebetulnya telah menghubungi PMI tetapi gagal. Tak ada stok katanya. Utusan lain juga telah dikirim ke Ngayogyakarta dan Surakarta. Tapi ternyata di dua kota itu yang banyak justru darah kraton, semisal KGPH (Kangjeng Gusti Pangeran Haryo) atau BRA (Bandara Raden Ayu).
Gambar Prabu Puntadewa memang sering menghiasi koran dan teve. Karenanya meski belum kenal, Patih Indrajala yakin saja bisa menemukan. Dia memang sosok yang selalu optimis dan selalu sukses membangun karier dan mengumpulkan harta, apa pun caranya. Banyak proyek negara yang tak pernah lepas dari campur tangannya.
“Kekuasaan harus bisa menciptakan keuangan,” kata Patih Indrajala sekali waktu.
“Jika untuk kepentingan pribadi, itu namanya korupsi,” kecam Tumenggung Mantrakendho.
Karena yang mengkritik cuma kelas tumenggung, jika pers pun hanya media online tanpa admin jelas, Patih Indrajala tak pernah menggubris. Dengan kekuasaannya dia terus menciptakan sumber-sumber keuangan baru, campur aduk antara untuk pribadi dan negara. Akibatnya, beberapa kali Patih Indrajala terjerat kasus hukum, tapi selalu lolos berkat rajin nyawer ke sana kemari.
Maka ketika ditugaskan ke negara Indraprasta, Indrajala senang luar biasa. Siapa tahu dapat peluang bisnis di sana. Menggunakan aji panglimunan, Indrajala dengan mudah masuk tempat peraduan Prabu Puntadewa. Nah, baru tahu sekarang, ternyata Puntadewa-Drupadi “pisah ranjang”, alias tidur sendiri-sendiri. Dewi Drupadi pakai spring bed, sinuwun Ngamarta cukup menggelar kasur Palembang. Tidur telentang, suara ngorok dan kerot bak simponi di tengah malam.
“Kamu siapa, sowan kepadaku kok nyelonong saja tanpa melapor Sekneg?” tegur Prabu Puntadewa yang terjaga mendadak, gara-gara hampir terinjak kaki Patih Indrajala.
“Mohon maaf Baginda. Saya terpaksa potong kompas, karena jika menggunakan prosedur resmi, banyak punglinya.” Jawab Patih Indrajala sambil menyembah.
“Kami juga baru bikin UU Tipikor, tapi nggak kelar-kelar!”
Indrajala pun mengutarakan maksud kedatangannya. Sebagai raja bijaksana yang menjadi idola Gubernur DKI, mau dikorbankan sebagai tumbal negara Prabu Puntadewa sama sekali tidak berkeberatan. Dalam kalkulasi politik Sang Prabu, paling-paling di sana diambil darah putihnya, seperti pendonor darah di PMI. Dan seperti lazimnya donor darah, tentunya nanti selepas diambil darah Sang Prabu disuguhi indomie rebus dan dapat minum susu. Cuma begitu saja, kenapa takut?
Sesungguhnya dana penculikan sudah dianggarkan cukup, hingga ratusan juta. Sesuai juklak (petunjuk pelaksana), setelah penculikan berhasil mustinya Prabu Puntadewa dinaikkan pesawat Garuda apa Lion Air. Tapi karena Patih Indrajala mau cari untung dan lebihan, raja agung Ngamarta tersebut cukuplah diajak terbang dengan cara gendong belakang, mirip lagu Mbah Surip almarhum.
“Ini bagaimana? Raja Ngamarta kok disuruh ngethapel (nyemplak) di punggung?” Prabu Puntadewa protes.
“Sekali-sekali boleh dong Baginda, Presiden Jokowi saja mau naik ojek. Tapi kan penak ta, mantep ta? Tak gendong ke mana-mana….!” ujar Patih Indrajala menirukan Mbah Surip sambil menghentak bumi, terbang ke langit bebas.
Bakda subuh Ngamarta geger. Dewi Drupadi turun dari peraduan menangis histeris lantaran ditinggal suami. Ditilik dari pusaka Kaca Paesan Prabu Bethara Kresna dan dibantu CCTV, nampak jelas bahwa Prabu Puntadewa diculik Indrajala, teroris dari negara Buluketiga. Keluarga Pandhawa segera menunjuk Harjuna untuk merebut kembali Prabu Puntadewa. Jangan sampai sang prabu dibuat tumbal, lantaran dibuat bekakak itu artinya mati, bukan sekedar donor darah lalu diberi mie rebus!
Demikian tergesa-gesa Raden Harjuna sehingga kehilangan kewaspadaan nasionalnya. Baru saja masuk taman kraton Buluketiga, terkena hipnotis ala Kuya. Seketika itu juga dia berubah wujud menjadi patung, presis di taman kota di Solo Baru, di Sukoharjo. Tangan berubah jadi batu, kaki juga membatu, termasuk perut hingga puser sekalian. Pendek kata seluruh tubuh telah berubah menjadi keras semunya. Jika ada umpatan “ndhasmu atos”, kini Harjuna telah mengalami sendiri.
Berjam-jam ngececeng nggak bisa bergerak, menjadikan Harjuna kesemutan. Beruntung terlihat oleh Retna Tegawati permaisuri Prabu Tegalelana, yang baru saja keluar dari toilet. Menemukan patung demikian tampan, langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Dengan pasword rahasia Harjuna berhasil dibikin pulih seperti sedia kala.
Ternyata istri Prabu Tegalelana tersebut termasuk perempuan gatelan. Kesatria Madukara itu lalu dirayu-rayu diajak menuntaskan birahi. Bagi Harjuna yang hobi begituan, kenapa tidak? Hasrat Retna Tegawati segera dituntaskan hingga tas tuntas tas!
“Sampeyan masih mak josss sekali, pakai jamu apa Mas?” Retna Tegawati heran.
“Ah…., ini cuma warisan Mbah Maridjan kok,” Harjuna senyum simpul.
Belum juga puas bermesraan, mendadak kedaton Buluketiga geger. Raksasa hibrida mengamuk. Prabu Tegalelana sekali injak mecedhel, pecah perutnya. Ternyata itu Dewa Amral penjelmaan Prabu Puntadewa. Nampaknya sinuwun Ngamarta marah besar, katanya donor darah dapat mie rebus, malah dipaksa berkoban jiwa. Tak sudilah awak!
Demi mengetahui siapa pelakunya, Harjuna langsung membantu sekalian. Patih Indrajala si pencuri sakti ke Ngamarta, diudak-udak. Werkudara, Gathutkaca dan Sencaki yang menyusul ke Buluketiga, ikut membantu pengejaran. Dengan Toyota Fortuner Indrajala berlari ke arah barat. Tapi syukur alhamudillah, mobil itu oleng di daerah Permata Hijau, nyerempet pohon mahoni dan nabrak tiang listrik, gubrakkkkkk! Kepala Indrajala benjol sebesar bakpao.
“Janganlah kalian tangkap aku. Aku sedang menjalankan tugas negara.” Kata Patih Indrajala garang.
“Tugas negara, nenek lu? Kami jauh-jauh ke sini juga mengemban tugas negara. Tauuk!” jawab Sencaki.
Akhirnya Patih Indrajala dibuat jambalan (bancakan) antara Gatutkaca-Sencaki dan Werkudara. Seperti nasib juragannya, Indrajala dengan sekali injak langsung tewas oleh Werkudara. Dengan ambulans mayat Tegalelana-Indrajala dikirim ke Pondok Ranggon untuk dimakamkan.
“Mas, Mas, rumah saya hancur nih dibuat ajang kalian berantem.” Protes punakawan Bilung – Togog kepada Gatutkaca.
“Sabar, ya. Nanti kalian dapat pengganti rumah tapak dengan DP nol persen,” jawab Sencaki terkesan sekedar menghibur. Soalnya mana ana rumah kreditan di Ngamarta dengan DP nol persen. (Ki Guna Watoncarita).



