Inggeris Berharap Perancis Ikut Brexit

Warga keturunan menolak pencalonan Marine Le Pen yang dianggap rasis dalam Pemilu Perancis (berdikarionline)

CALON independen presiden Perancis pro Uni Eropa (UE) Emmanuel Macron (39) bersaing ketat melawan tokoh ekstrim kanan Marine Le Pen (58) dari Front Nasional (FN) yang akan  mengikuti jejak Inggeris keluar (Brexit) dari perhimpunan negara-negara Eropah itu.

Inggeris yang saat ini dalam proses negosiasi Brexit sangat mengkhawatirkan kemenangan Macron pada putaran kedua Pemilu Perancis pada 7 Mei nanti karena jika itu terjadi, bisa mempersulit tawar-menawar pihaknya dengan UE.

Selain terkait nasib warga yang bermukim di negara UE dan sebaliknya, persoalan imigrasi juga harus dituntaskan oleh negara yang keluar dari UE, termasuk “mahar  perceraian”, seperti Inggeris yang harus membayar 50 milyar poundsterling.

Jika Le Pen memenangi pilpres Perancis dan berujung keluar dari UE atau Frexit (France Exit), tentu akan merupakan pukulan telak bagi perhimpunan negara-negara Eropa beranggotakan 27 negara itu pasca Brexit.

Le Pen dinilai lebih taktis menyetir strategi kampanye dengan memanfaatkan momentum, sehingga lawannya, Macron tertinggal selangkah. Le Pen, misalnya  menyambangi pekerja pabrik mesin cuci di kota kelahiran Macron di Amiens yang di ambang tutup. Macron yang juga berkunjung ke sana kemudian, dianggap kalah start.

Saling serang dilancarkan atas program lawannya. Le Pen menuding Macron sebagai ekonom global pro globalisasi yang menyebabkan petani dan nelayan kehilangan kerjaan, sebaliknya Macron menyebut rencana Perancis exit dari UE jika Le Pen menang, akan mematikan industri perikanan.

Partai Le Pen, FN juga diguncang tuduhan rasis terkait pernyataan kontroversial pimpinan sementaranya (selama Le Pen fokus untuk Pilpres) , Jean-Francois Jalkh terkait isu holocaust.

Tudingan terhadap Jalkh bahwa ia tidak mempercayai adanya pembantaian massal terhadap kaum Yahudi oleh Nazi Jerman di era Perang Dunia II, membebani FN yang sejak semula distigmatisasi rasis dan anti Yahudi.

Perebutan suara kedua kontestan diprediksi bakalan seru, mengingat masih ada sejumlah pemilik hak suara belum menentukan pilihan (swing voters) , sementara mayoritas pendukung Le Pen lebih loyal (tidak akan berpindah), berbeda dengan pendukung Macron.

Pada putaran pertama, Macron meraup 23,7 persen suara, Le Pen 21,5 persen dan dua kandidat lain yang tersingkir yakni Francois Fillon dari Partai Republik 19,9 persen serta Jean-Luc Melenchon dari partai kiri La France insoumise 19,6 persen.

Keunggulan Macron a.l. pada usianya yang relatif muda (39), tertaut 24 tahun dari isterinya, Brigitte Trugneux, ibu teman sekelasnya di SMA, janda beranak tiga dari suaminya terdahulu, seorang bankir.

Selain bagi Perancis, hasil Pemilu nanti juga berdampak bagi nasib UE ke depan. (AP/Reuters/NS)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement