INSAN DD MEMPERINGATI HARI KEMERDEKAAN KE-79 INDONESIA

Udara cerah hari sabtu pagi di lapangan Zona Madina Yayasan Dompet Dhuafa Republika (YDDR) Parung, Bogor berlangsung upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-79. Suatu peristiwa yang membanggakan dan mengharukan. Semua unsur dan organ Dompet Dhuafa Republika lebur dalam kebersamaan, bersyukur, bahagia dalam suasana khidmat. Saat  semua insan YDDR yang terdiri dari Pengurus Pusat, Pengurus MPP, Sekolah Smart Ekselensia Indonesia, Lembaga Pendidikan Al Syukro, DMC, LPM, Barzah, RST, LKC, LPI, STIM Budi Bakti, Cabang DD, maupun dari unsur DDSE, serta Kampung Silat Jampang DD. Tanpa latihan lama, para pelaksana upacara telah melaksanakan tugasnya dengan baik.

Lebih membanggakan, upacara yang dikemas formal, mengikuti protokoler standar peringatan hari kemerdekaan nasional. Peserta upacara mengenakan warna-warni busana budaya nusantara, simbolisme, “tetap satu dalam kebhinekaan,” sebagaimana falsafah lambang Pancasila.

Tepat pukul 09.00 WIB, ketika pemandu Upacara Ananda Refan Desta Egi Pratama (SMART EI) dan Syafira Ulfa (DD Pendidikan) menyatakan upacara akan dimulai. Pemimpin upacara, Cicih Kurniasih (MPP Pendidikan), berbusana nasional, bersuara lantang memberikan aba-aba tanda dimulainya upacara. Kemudian kembali dengan suara yang tegas, ia memberikan aba-aba penghormatan kepada Inspektur Upacara, Ketua Pengurus YDDR, Ahmad Juwaini.

Kemudian rangkaian upacara mengalir, dimulai ketika Anna Rahmawati (MPP Pemberdayaan) membacakan Pembukaan UUD 1945, Iwan Ridwan (YRST) membacakan Naskah Proklamasi Kemerdekaan, Pembacaan Naskah Proklamasi DD oleh  drg. Rima Febrianti (YRST) dan Rina Fatimah (STIM Budi Bhakti). Sebuah pemandangan yang mengharukan dan membanggakan, bukan hanya menjadi bukti penghormatan insan DD pada hari kemerdekaan bangsa, tetapi lambang adanya persatuan, dan kemajemukan atau nasionalisme terselenggaranya upacara. Ini juga bukti berseminya selalu rasa kebersamaan DD pada satu visi.

 

Lihatlah, Pasukan Paskibraka dibawakan oleh siswa SMART Ekselensia Indonesia, berbusana putih-putih, dasi hitam, berkopiah hitam, tertib dan langkah harmonis, berbaris menuju tiang bendera untuk mengibarkan bendera Merah Putih. Semua berlangsung lancar khidmat.

Berikutnya, Inspektur Upacara, Ahmad Juwaini, Ketua Pengurus YDDR, memberikan sambutan yang mengugah para peserta upacara. Ia menguraikan tugas yang diemban oleh YDDR selama lebih dari 30 tahun. Adalah tugas untuk  mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD ’45.

Menurut Ahmad Juwaini, bahwa untuk Melindungi Segenap Bangsa Indonesia Dan Seluruh Tumpah Darah Indonesia, YDDR membuktikannya dengan Program Kemanusiaan dan Penanggulangan Bencana, ini dilakukan hampir di seluruh wilayah Indonesia. DD telah memberikan bantuan darurat, pemulihan pasca-bencana, dan rehabilitasi bagi korban bencana adalah contoh konkret dari usaha melindungi segenap bangsa Indonesia.

Bahwa untuk Memajukan Kesejahteraan Umum, YDDR melaksanakan Program Pemberdayaan Ekonomi dan Sosial. Melakukan pelatihan keterampilan, serta pengembangan pertanian dan peternakan berbasis Filantropreneur .

Bahwa untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, YDDR telah membuktikan dalam bentuk Program Pendidikan dan Pengembangan SDM, menyediakan beasiswa untuk siswa kurang mampu, mendirikan sekolah di daerah terpencil, serta mengadakan program pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia.

Bahwa untuk Melaksanakan Ketertiban Dunia Yang Berdasarkan Kemerdekaan, Perdamaian Abadi, dan Keadilan Sosial, YDDR melakukan Program Kemanusiaan Global, selain fokus di dalam negeri, YDDR melakukan kegiatan  berupa bantuan kemanusiaan di berbagai negara.

Sebagai “gong” penutup, tampil Parni Hadi, Inisiator dan Ketua Pembina YDDR, melangkah ke depan menghadap peserta defile. Ia  berbusana kasual, formal untuk upacara. Baju putih lengan pendek, berhiasan sulaman warna merah tulisan DD di bagian dada. Ia  terharu dan memberikan apresiasi atas terselenggaranya upacara khidmat Peringatan 79 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia yang diselenggarakan oleh DD.

Orasi Parni Hadi selalu memberikan apresiasi pada insan DD. Ucapannya yang mengharapkan sumber daya DD perlu selalu diperhatikan, mendapatkan tepuk tangan serentak oleh peserta defile. Agenda selanjutnya adalah penampilan sendratari dari para bidan RS Rumah Sehat Terpadu yang sangat luwes dan menarik. Setelah pembacaan doa yang disampaikan oleh Ahmad Shonhaji (YSMI), upacara pun selesai.

Parni Hadi sebagai inisiator DD/Ketua Pembina YDDR, melakukan penanaman “Pohon Kehidupan” secara simbolis di halaman Zona Madina. Kemudian ia lebur ke lapangan upacara disambut dan salaman peserta upacara.

Ironi-ironi Kemerdekaan

Apa yang tertinggal setelah kita memperingati hari kemerdekaan? Setelah 79 tahun merdeka?  Masih banyak yang tersisa dan menjadi ironi-ironi kemerdekaan. Masih banyak pahlawan sejati dilupakan, tenggelam nama dan baktinya kepada negara dan bangsa. Mereka lenyap dan tersisih dari glamour perayaan Hari Kemerdekaan. Karena perjalanan nasib, pahlawan yang sebenarnya hanya berdiri sebagai penonton di luar panggung.

Sementara elit politik kita sekarang, sudah lupa pada kearifan yang diwariskan oleh para pendiri bangsa dan pendahulu kita. Para elit politik kita mengira kekuasaan baginya adalah “wangsit” yang dititipkan untuk diri pribadinya, keluarga dan sekutu-sekutu politiknya. Mereka kini hanya menghabiskan waktu memikirkan strategi memenangkan kekuasaan. Lupa pada perjuangan kemerdekaan 79 tahun lalu yang ditebus dengan darah pahlawan. (AMM/Dompet Dhuafa)

 

 

Penulis : Andi Makmur Makka

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here