JAKARTA, KBKNews.id – Ahmad Faisal tak pernah menyangka dengan perjalanan hidupnya bisa menuntut ilmu di Turki. Dia bahkan terlibat dalam pegembangan vaksin HIV bersama para ilmuwan dunia.
Faisal, pemuda asal Dusun Kobbae, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan ini berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Cita-cita kecilnya yakni menjadi dokter.
Dia merupakan alumni SMART Ekselensia binaan Dompet Dhuafa. Berbagai prestasi akademik dan non-akademik diperolehnya dengan bimbingan tenaga kependidikan dari SMART Ekselensia.
Faisal mengaku berbagai prestasi diraih salah satunya karena memaksimalkan waktu.
“Meski berasal dari daerah terpencil, saya selalu penasaran dengan hal baru. Sebab itulah, saya sangat senang belajar dan mengikuti lomba, baik tingkat regional maupun nasional, demi mengasah kemampuan dan keilmuan yang saya pelajari,” ujar Faisal seperti dilansir dari situs resmi Dompet Dhuafa, Kamis (7/8/2025).
Saat lulus jenjang sekolah menengah atas, Faisal berhasil lolos Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Padjajaran, Bandung, dan Breda University of Applied Sciences, Belanda. Hanya saja, dia sempat gamang dengan pilihannya.
“Setelah mengikuti berbagai perlombaan, saya belajar jika hidup adalah proses dimana kita bisa mengubah pilihan. Saya tersadar jika ambisi menjadi dokter bukanlah pilihan tepat,” ujar Faisal.
Dia memilih menjadi peneliti dan orang tuanya memberikan dukungan penuh. Menanggalkan mimpi menjadi dokter memang tak mudah, tapi dia telah memantapkan diri bahwa pilihannya adalah jalan terbaik.
“Awalnya sedih dan keputusan ini memang tidak mudah, namun saya harus bertanggungjawab. Saya akan kembali belajar dan mewujudkan mimpi bertolak ke Turki untuk berkuliah di sana. Saya yakin usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil,” kata Faisal.
Menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan dan mimpi Faisal akhirnya menjadi kenyataan, ia berhasil lolos beasiswa penuh Turkiye Burslari di Jurusan Molekuler dan Genetika Firat University, Turki.
“Alhamdulillah saya senang sekali karena Allah menjawab doa saya. Akhirnya saya bisa berkuliah di Turki, di jurusan idaman. Saya sangat berterima kasih kepada guru-guru SMART yang selalu mendukung saya,” jelas Faisal.
Faisal kini bergabung di Pusat Penelitian Tubitak, Turki, sebagai peniliti DNA guna mengembangkan vaksin HIV.





