spot_img

“Wait and See” Investor Pasca Pemilu  

IKLIM investasi di tanah air pada semester I tahun ini usai pemilu serentak yang digelar, Kamis (14/2) diperkirakan  masih lesu karena para investor masih menanti hasil final dan apa yang terjadi selanjutnya.

Hitung cepat Litbang Kompas sampai Jumat (15/2) siang (sampel sudah masuk 99,7 persen) mencatat, paslon Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka unggul dengan 58,5 persen suara, disusul paslon Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (25,23 persen),sementara paslon Ganjar Pranowo-Mahfud MD (16,32 persen).

Hasil hitung cepat KPU juga tidak terpaut jauh yakni 57 persen untuk Prabowo-Gibran, 24,98 persen Anies-Muhaimin dan 18,03 persen untuk Gajar-Mahfud.

Namun demikian, belum bisa dipastikan apakah Prabowo-Gibran akan memenangi pertarungan pilpres 2024 dengan satu putaran, karena selain meraih mayoritas suara (di atas 50 persen), juga harus mendapatkan minimal 20 persen suara di 20 dari total 38 provinsi.

Sementara itu, legitimasi bagi pemenang pemilu berpotensi digoyang terus mulai dari  isu konstitusional yakni pro-kontra keputusan MK terkait persoalan etika pencalonan Gibran dan, keterpihakan presiden, pejabat negara, ASN dan aparat  pada salah satu paslon.

Sejumlah dugaan pelanggaran kewenangan juga berpotesi digugat, misalnya terkait wilayah pemekaran yang langsung bisa ikut pemilu dan kevakuman UU Pemilu setelah addendum frasa oleh MK.

Belum lagi terkait penunjukan 20 pj gubernur, 280 pj bupati oleh presiden yang bisa dituding sebagai upaya untuk mengendalikan hasil pemilu serta dugaan penggelembungan suara dan adanya selisih suara antara hasil di TPS dengan Sistem Informasi Rekapitulasi (sirekap) KPU.

 

Wait and See

Di tengah berbagai isu seputar pemilu yang berpotensi menimbulkan gejolak politik, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede seperti dikutip kompas (16/2) menilai, arus investasi pada semester I 2024 diperkirakan belum pulih.

Karakteristik investor, khususnya asing  yang cenderung menunggu kebijakan yang diambil penguasa baru, akan bersikap wait and see, menunggu kepastian situasi politik.

Akselerasi investasi kemungkinan baru terjadi pada triwulan ke-2 tahun 2024 jika situasi politik stabil setelah hasil real count diumumkan.

Menurut catatan, porsi investasi PMA sepanjang 2023 terus turun dari awalnya 53,8 persen pada triwulan I menjadi 53,3 persen pada triwulan  II, 52,4 persen triwulan III dan 50,4 persen triwulan IV.

Sebaliknya, investasi domestik (PMDN) bakal menjadi tumpuan yang diharapkan terus naik setiap triwulan.

Di sisi lain, situasi ekonomi global yang sedang lesu juga menambah ketidakpastian terhadap pertumbuhan ekonomi khususnya dari sisi ekspor, mengingat sejumlah negara seperti Jepang sedang mengalami resesi.

Untuk segera mengakhiri ketidakpastian, dunia usaha berharap agar pemilu cukup berjalan dalam satu putaran saja walau itu juga tidak menjamin situasi bakal stabil.

(Kompas/ns)

spot_img

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


spot_img

Latest Articles