
ULAMA ultrakonservatif yang sebelumnya menjabat ketua hakim Iran, Ebrahim Raisi (62) terpilih sebagai presiden pada pilpres yang digelar Sabtu (19/6) di tengah kesulitan ekonomi yang menghimpit negara itu.
Raisi berhasil meraup 17,8 juta atau 62 persen suara sah yang masuk dalam pilpres yang diikuti oleh hanya 44 persen dari 59 juta rakyat yang memiliki hak pilih atau dengan partisipasi terendah dalam sejarah pemilu Iran.
Tiga capres lainnya, dua diantaranya beraliran ultrakonservatif yakni Mohsen Rezai dan Amirhosein Qazizadeh Hashemi serta sosok reformis Abdolnasser Hemmati sudah mengakui kalah dan sekaligus mengucapkan selamat pada Raisi.
Raisi selanjutnya akan mengisi jabatan presiden mulai Agustus nanti untuk periode empat tahun sampai 2025, menggantikan Hassan Rouhani yang sudah menjabat dua periode sebelumnya.
Raisi yang menjadi wakil jaksa pengadilan revolusi Iran pada 1988 dituding sebagai aktor utama terjadinya pembantaian terhadap ribuan kelompok Marxis dan juga pengasingan terhadap Sah Iran Reza Pahlevi.
Himpitan ekonomi yang membuat tingkat inflasi di Iran mencapai 50 persen akibat sanksi ekonomi yang dikenakan Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat pasca dibatalkannya kesepakatan nuklir (JCPOA) oleh Amerika Serikat, berkontribusi besar terhadap rendahnya partisipasi warga mengikuti pilres kali ini.
Persoalan Besar
Selain problem ekonomi, Iran yang berebut pengaruh di kawasan Timur Tengah, bersaing terutama dengan Arab Saudi juga harus mempertahankan hegemoninya terutama dalam konteks perseteruan dengan Israel dan dukungan terhadap Palestina.
Iran juga aktif mengirimkan satuan garda revolusinya untuk membantu rezim Suriah di bawah Bashar Al Assad, membantu kelompok Hesbollah, Lebanon melawan Israel dan membantu milisi Houti di Yaman memerangi rezim mantan Presiden Abdourabuh Mansour Hadi yang didukung Arab Saudi dan Uni Arab Eemirat.
Pasalnya, sejumlah negara Arab yakni Bahrain, Uni Emirat Arab, Maroko dan Sudan malah membuka hubungan diplomatik dengan Israel tahun lalu menyusul Mesir (1978) dan Yordan (1994) dan Saudi yang melakukannya secara diam-diam.
Israel yang menjadi musuh bebuyutan Iran melalui jubir kemenlunya menyebutkan, negaranya akan terus mengamati kepemimpinan Raisi yang sejak semula berkomitmen mengembangkan program nuklir Iran.
“Pilihan tersebut (untuk mengembangkan nuklir) semakin memperjelas niat Iran sesungguhnya yang memicu keprihatinan internasional, “ demikian pernyataan kemlu Israel.
Menurut catatan, Israel sejak lama juga sudah memiliki senjata nuklir yang sewaktu-waktu bisa digunakan dalam keadaan terdesak jika terjadi lagi perang melawan kubu negara-negara Arab.
Siapa pun yang memimpin Iran hari ini bakal berhadapan dengan kesulitan ekonomi yang sewaktu-waktu bisa memicu distabilitas politik, sekaligus perubahan konstalasi politik kawasan dan juga kesiapan melawan Israel yang terus mengintip. (AP/AFP/Reuters /ns)




