
KEJAYAAN Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) agaknya sudah menjelang di penghujung hari setelah sekitar separuh wilayah kota Raqqa, benteng pertahanan terakhir kelompok radikal itu jatuh ke tangan lawannya, Pasukan Demokratik Suriah (SDF).
SDF berintikan legiun Arab dan suku Kurdi melancarkan offensive untuk merebut Raqqa, ibukota NIIS di Suriah sejak 6 Juni lalu menyusul berakhirnya perlawanan kelompok militan Islam itu dari kota tua Mosul di Irak, 9 Juli lalu.
Jatuhnya seluruh kota Raqqa yang berlokasi sepanjang timur laut Sungai Eufrat tampaknya tinggal menghitung hari, menyusul kekalahan laskar NIIS di kota Aleppo (160 Km dari Raqqa) awal Januari lalu, basis utamanya di kota terbesar kedua di Suriah setelah Damaskus, diikuti jatuhnya delapan kota lainnya.
Pemimpin NIIS Abu Bakr al-Bagdhadi Irak memproklamasikan khilafah NIIS dari Masjid al-Nuri di kota tua Mosul pada 10 Juni 2014 dan menyatakan Mosul di Irak dan Raqqa di Suriah sebagai ibukota kembarnya.
Keberadaan al- Bagdhadi sendiri sejauh ini masih misteri, walau pihak intelijen Barat baru-baru ini yang mengorek sumber informasi dari kalangan elit internal NIIS telah mengkonfirmasi kematiannya.
Walau sudah berhasil menguasai separuh wilayah Raqqa, milisi SDF didukung gempuran udara dari pesawat-pesawat tempur AS harus berhati-hati melakukan gerak maju untuk menghabisi seluruh kekuatan NIIS demi menghindari jatuhnya korban kedua belah pihak.
Milisi SDF bergerak lamban untuk membebaskan kawasan utara kota Raqqa mengingat pasukan NIIS sebelumnya sudah menebar bom dan ranjau darat secara sporadis, sehingga mengancam keselamatan anggota pasukannya.
Jubir Unit Perlindungan Perempuan Suriah (YPJ) Nazreen Abdullah mengemukakan, selain ranjau yang ditanam atau berada di tangan pasukan NIIS cukup besar jumlah dan luas sebarannya, milisi NIIS dikhawatirkan juga akan nekat untuk melancarkan serangan bunuh diri jika terdesak.
Seperti juga yang dilakukan di Mosul atau pemberontak Maute di Marawi, Filipina, milisi atau kelompok yang berafiliasi dengan NIIS tidak ragu-ragu memanfaatkan warga sipil yang terjebak di tengah pertempuran menjadi perisai hidup.
Ubah taktik
Bagi NIIS, kekalahan mereka di palagan utama di Mosul, Irak dan Aleppo serta Raqqa, Suriah, juga di Marawi, Filipina, kemungkinan akan mengubah taktik mereka dengan melancarkan aksi-aksi kecil-kecilan dan sporadis di berbagai tempat di dunia.
Di Irak dan Suriah sendiri, pertanyaan yang sering muncul, apakah pasca takluknya NIIS akan membuat kedua negeri itu bebas konflik?,
Masih banyak potensi pemicu konflik lainnya seperti friksi sektarian antara kelompok Syiah dan Sunni, rivalitas perebutan hegemoni pengaruh di kawasan (antara Iran, Turki dan Arab Saudi misalnya), kesukuan (Kurdi) atau perebutan kekuasaan antarelit lokal masing-masing.
NIIS bisa bermetamorfosa atau tampil dengan nama atau wajah baru, melebur dengan kelompok radikal lainnya atau memindahkan aksi-aksi mereka ke wilayah lain seperti yang diserukan oleh al Baghdadi.
RI sebagai negara cinta damai, cuma berharap, agar saudara-saudara kita di Timur Tengah mengedepankan kompromi dan perdamaian serta tidak mudah terpicu konflik yang bisa berkepanjangan, sangat melelahkan dan merugikan semuanya. (AP/AFP/ns)




