Irasshaimase, Abe San

PM Jepang Shinzo Abe dan Presiden Jokowi di Bogor, 14 Januari

HUBUNGAN persahabatan dan kerjasama ekonomi antara Indonesia dan “saudara tua”-nya, Jepang, semakin hangat, tercermin dari lawatan Perdana Menteri negara matahari terbit itu, Shinzo Abe, Minggu (15/2).

Tidak tanggung-tanggung, Abe dalam kunjungan resminya kali ini juga mengajak 30 (CEO) atau pimpinan perusahaan terkemuka Jepang guna menjajagi kerjasama dan mencari peluang penanaman investasi di Indonesia.

Di bidang investasi, Jepang telah menjadi mitra utama sejak dibukanya pintu lebar-lebar bagi kegiatan penanaman modal asing di awal pemerintahan Orde Baru pada dekade 1970-an.

Pembangunan Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat adalah salah satu proyek strategis  yang dibahas dalam pertemuan antara PM Abe  dan Presiden Jokowi, selain pengembangan ladang minyak Masela dan pembangunan jalur KA semi cepat Jakarta – Surabaya.                                                           Belum diketahui nilai investasi yang akan ditanam Jepang pada proyek-proyek strategis tersebut, namun pembiayaan Proyek Pelabuhan Patimban saja diperkirakan  memerlukan dana sekitar Rp 43 triliun lebih.

Sedangkan rencana pengembangan ladang minyak dan gas Blok Masela di Laut Atafura, Maluku merupakan mega proyek “multi years” yang baru rampung dalam 10 atau 15 tahun mendatang dan memerlukan investasi ratusan triliun rupiah.

Proyek pembangunan jalur KA Jakarta – Surabaya diharapkan akan memulihkan hubungan kedua negara yang sempat terganggu sebelumnya akibat keputusan  RI  menetapkan Tiongkok sebagai pemenang tender proyek jalur KA Cepat Bandung – Jakarta.  Jepang menganggap keputusan itu tidak fair.

PM Abe dalam pertemuan yang berlangsung di Istana Bogor itu menjanjikan infrastruktur bermutu tinggi sesuai dengan keunggulan Jepang, terutama proyek perkeretapian dan pembangkit tenaga listrik.

Bukti kongkrit semakin eratnya kerjasama kedua negara di sektor ekonomi tercermin dari nilai investasi Jepang yang meningkat dua kali lipat pada 2016 (Jan. – Sept.) dua kali lipatnya menjadi sekitar 4,5 milyar dollar AS dibandingkan periode sama 2015.

Dalam pertemuan keenam antara PM Abe dan Presiden Jokowi dalam dua tahun terakhir ini, disampaikan pula niat Jepang untuk menyumbangkan 74 milyar Yen bagi sejumlah proyek irigasi dan pelestarian pantai di Indonesia.

Laut Tiongkok Selatan (LTS).

PM Abe dan Presiden Jokowi dalam pertemuan mereka kali ini juga membahas potensi konflik di kawasan Laut Tiongkok Selatan yang dipersengketakan antara Tiongkok dan sejumlah negara anggota ASEAN (Brunei, Filipina, Malaysia dan Vietnam).

Abe memandang perlu penegakan hukum internasional dan penyelesaian damai sengketa LTS dan mengharapkan kepemimpinan Presiden Jokowi untuk menjaga kesatuan dan sentralitas ASEAN.

“Jepang mendukung penuh kelanjutan ASEAN  dan kepemimpinan Indonesia di bawah Presiden Jokowi, “ tandas Abe.

Terkait LTS, PM Abe menyatakan, pemerintahnya berkomitmen untuk memegang teguh tiga prinsip yakni klarifikasi tuntutan mengacu pada hukum internasional, tidak menggunakan kekuatan militer atau memaksa serta penyelesaian konflik melalui upaya damai.

Jepang juga mengajak RI berkoordinasi merespons potensi ancaman terhadap stabilitas dan perdamaian regional akibat uji-uji coba rudal nuklir Korea Utara dan unjuk gigi kekuatan militer Tiongkok di LTS.

Selain bidang ekonomi, hubungan RI – Jepang cukup erat selama ini. Di bidang pendidikan, ribuan pelajar dan mahasiswa Indonesia mendapatkan beasiswa dari Mombusho atau Mendikbud Jepang.

Jepang juga memberikan bantuan lunak dan hibah di berbagai sektor, juga bersumber dari dana pampasan perang, seperti Jembatan Musi yang menjadi “icon” kota Palembang dan santunan bagi “Jugun Ianfu” atau budak wanita pemuas sex di era pendudukan Jepang “tempo doeloe”.

Istilah  “saudara tua” dipropagandakan oleh Nippon Hoso Kyokai (Radio Jepang – NHK) saat menduduki Indonesia dalam kampanye perangnya untuk menguasai kawasan Asia dan mengenyahkan kelompok sekutu sebelum takluk pasca dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki oleh AS pada  6 dan 9 Agustus 1945.

Hubungan RI Jepang pada 2017 memasuki tahun ke-59 dengan fokus utamanya di bidang ekonomi termasuk kemaritiman yakni kerjasama keamanan, pengembangan SDM dan pengusahaan maritim.

Irasshaimase, nii San. Selamat datang kakak

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement