“Islam Tidak Permasalahkan Perbedaan”

Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi / KBK

Belakangan ini, kita sering mendengar kata-kata kebhinekaan disuarakan. Baik dalam aksi unjuk rasa maupun dalam spanduk-spanduk yang terpasang di berbagai tempat. Kata yang melekat di kaki Garuda itu belakang menjadi agak sensitif dibicarakan. Mengapa ada kesan kebhinekaan Indonesia terancam saat ini?

Cendikian muslim Dr.Hamid Fahmi Zarkasyi menilai, isu kebhinekaan Indonesia saat ini tidak bisa dibicarakan dari satu aspek saja. Menurutnya, di dalamnya meliputi unsur agama, sosiologis dan politik yang saling berkaitan.

Saat ini, ada kelompok-kelompok yang memainkan isu kebhinekaan dan persatuan untuk tujuan sebaliknya, yakni perpecahan. Ia mensinyalir ada gerakan bawah tanah yang tengah dilakukan ormas, partai politik dan kelompok lainnya untuk memecah belah bangsa. Kebhinekaan tidak hanya terdiri dari suku, agama dan ras tetapi di dalamnya juga termasuk golongan dan partai politik. Untuk itu, sebelum membincang masalah persatuan antarpemeluk agama, ada baiknya melihat dari sudut pandang internal terlebih dahulu, yaitu antar sesama pemeluk Islam.

Bila umat muslim telah bersatu merapatkan barisan, keislaman tiap muslim baru bisa dikatakan benar. Dari persatuan tersebut akan tercipta rasa ukuwah Islamiah dan jika ukuwah Islamiah tersebut telah terwujud, kebhinekaan sudah tidak lagi menjadi masalah.

“Islam merupakan agama yang plural dan sangat menghormati perbedaan. Jadi kebhinekaan bangsa sudah ada sejak Islam datang. Muslim yang tidak toleran itu berarti keIslamannya tidak benar. Tidak ada ceritanya di seluruh dunia Islam berdemo anti Yahudi, Nasrani, Budha dan lain-lain,” kata Hamid yang merupakan putra dari KH. Imam Zarkasyi pendiri Pesantren Modern Gontor, Ponorogo.

Datangnya bulan suci Ramadhan bisa dijadikan momentum bermuhasabah untuk merenungkan nilai keislaman dalam konteks merajut kebhinekaan. Seorang muslim yang menjalani puasa dengan baik, usai Ramadhan dipastikan berubah menjadi pribadi yang baik pula, penuh toleran dan menghormati sesama. Ramadhan akan diakhiri dengan Idul Fitri, dan bila setelah lebaran seseorang kembali ke jalan yang tak diridhoi Allah SWT maka individu tersebut dipastikan tidak mendapat fitrah.

Dari sudut pandang sosiologi Hamid menilai, Islam telah lama menjalankan kebhinekaan. Islam telah berhasil merangkul suku dan ras di Nusantara, utamanya menyatukan bangsa Melayu. Hal tersebut dapat dilhat dari penggunaan bahasa dimana kosa kata bangsa Melayu banyak yang menggunakan kata-kata berbahasa Arab. Hal tersebut membuat pandangan hidup Melayu adalah Islam.

Maka tak benar jika kebhinekaan Indonesia saat ini terancam. Hingga detik ini muslim, khususnya di Indonesia, sangat menjunjung nilai keislaman, selalu toleransi dengan perbedaan.

“Di Indonesia orang Islam menghormati suku dan agama lain.  Islam itu menghormati kebinekaan,” ujar pria yang menjabat Direktur Institute for The Study od Islamic Thought and Civilization (INSISTS) itu.

Bebicara relasi Islam dengan politik, sangat salah jika ada seseorang yang mengatakan bahwa agama tidak boleh dicampur dengan politik. Politik merupakan perilaku, bukan sekedar ilmu. Untuk itu alangkah baiknya jika seorang muslim yang berpolitik, pandangan politiknya harus memiliki sifat yang ihsan.

Ihsan merupakan akhlah terbaik dalam Islam dan keputusan politik terbaiklah yang diidamkan masyarakat dalam platfrom kebhinekaan saat ini. Untuk itu antara Islam dan politik tidak boleh dipisahkan. Golongan non-muslim justru akan beruntung dan merasa aman jika adanya orang Islam berpolitik dengan menerapkan nilai keislamannya secara benar.

 

Tunggal Ika

Dari segudang isu kebhinekaan yang tengah mencuat, “Tunggal Ika” atau persatuan bangsa justru jarang disinggung, bahkan hanya dipandang sebelah mata oleh khalayak. Menurut Hamid hal tersebut bisa terjadi karena antar golongan mau pun partai politik telah memiliki dan disibukan oleh kepentingan masing-masing, baik kepentingan materil maupun kekuasaan.

Sifat seperti itulah yang dimaksud berpolitik tanpa menggunakan agama. Dari sejumlah partai politik yang mengatasnamakan Islam di Indonesia, tak semuanya menggunakan visi dan misi keislaman. Partai politik yang seyogyanya mengayomi aspirasi masyarakat justru hanya bisa dipersatukan oleh kepentingan antar golongan.

Pancasila pun belakangan juga dipahami secara berbeda-beda. Tak sedikit golongan yang hanya mementingkan salah satu satu dari lima nilai yang terkandung di Pancasila. Guna menyatukan antara golongan yang sarat kepentingan tersebut pemerintah dituntut tegas dan konsisten untuk meluruskan serta menghormati nilai-nilai Pancasila, khususnya sila pertama yang dimaknai menghormati seluruh agama.

“Artinya yang mayoritas diberi haknya, kita tidak boleh sok humanis atau adil. Yang namanya mayoritas di seluruh dunia itu mengayomi minoritas. Di India itu tidak ada orang Islam jadi menteri, hal seperti ini sudah cair di Indonesia. Di sini ada orang Kristen jadi menteri, Indonesia sudah toleransi sekali, tidak ada masalah,” kata Hamid yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas Islam Darussalam itu.

Dalam fenomena isu kebhinekaan saat ini negara harus segera bertindak cepat. Dialog antar pemimpin agama dan juga dialog antara pemerintah dengan pimpinan pucuk ormas Islam dan partai politik perlu intens dilakukan. Hamid melihat dialog tersebut sulit mencapai titik temu ketika semuanya menonjolkan kepentingannya masing-masing.

Hamid membantah, aksi bela Islam yang pernah dilakukan beberapa waktu belakangan dituding sebagai  penyulut perpecahan. Menurutnya, aksi bela Islam  semata-mata untuk menunjukan sebuah kepedulian umat terhadap agama dalam tajuk kehidupan bernegara.

Hamid mensinyalir dalang utama yang meniupkan perpecahan dalam isu kebhinekaan adalah orang-orang dari golongan sekuler yang kini sudah menjangkit media dan tokoh-tokoh besar. Mereka mengamini teori Fukuyama, bahwa agama nantinya akan meningkat menjadi fundamentalisme dan ekstrimisme. Oleh karena itu sekarang agama sedang dimusuhi oleh banyak orang di seluruh penjuru dunia. Kebatilan yang sering dihembuskan lama-kelamaan akan terlihat seperti kebenaran dan hal tersebutlah yang kini tengah terjadi di Indonesia.

“Ini menurut saya sebuah peristiwa yang penting dicatat. Di berbagai belahan dunia orang-orang sedang memojokan agama baik Yahudi maupun Nasrani, semua dimarjinalkan oleh orang-orang penganut sekulerisme, atheisme dan liberalisme. Mereka menyebut agama itu radikal. Namun di Indonesia Islam itu justru bangkit karena rasa persaudaraan antar sesama yang sudah terjalin lama,”  ujar Ketua Majelis Intelektual  dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) tersebut.

Dalam memaknai perbedaan-perbedaan tersebut sebagai umat muslim ada tiga kriteria yang patut dipahami. Pertama umat muslim tidak perlu meributkan kebaikan dan keburukan orang lain. Seorang muslim tidak patut memaki atau beradu argumen dalam hal perbedaan. Perbedaan akan terasa lebih indah jika sesama umat saling mengisi dengan toleransi.

Kedua adalah hak dan batil. Dalam menyikapi perbedaan umat muslim wajib membela sebuah kebenaran yang mutlak. Karena sesungguhnya yang benar itu nyata, dan yang bathil itu juga nyata. Tinggal bagamaiana kita jujur menggunakan hati nurani kita dalam melihat kebenaran.

“Dalam menyikapi perbedaan, umat Islam jangan meributkan kebaikan maupun keburukan orang lain, hak dan batil harus benar-benar ditegakan dan kalau sudah ada aliran di luar Islam kita sudah tahu harus memilih yang mana,” tutup Hamid.

 

 

 

 

 

 

Advertisement