
PENGUASA Israel mengancam akan membentuk koalisi untuk menyerang Iran jika negara itu tidak menghentikan langkahnya meningkatkan kapasitas pengayaan uranium yang bisa digunakan sebagai bahan baku bom nuklir.
“Jika Iran tidak menghentikan upaya melakukan kembali pengayaan uranium (dalam jumlah-red) tidak terawasi, akan keluar pernyataan tegas dari AS, negara-negara Barat dan Arab, termasuk Israel untuk membentuk koalisi melawannya, “ kata Menteri Intelijen Israel, Yisrael Katz dalam wawacara dengan radio setempat, Selasa (6/5).
Iran sendiri telah menginformasikan pada Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), dalam waktu dekat akan meningkatkan kapasitas pengayaan uranium sebatas kesepakatan nuklir 2015.
Jubir program nuklir Iran Bahrouz Kamalvandi (6/5) memastikan, pihaknya telah mengirim surat pemberitahuan kepada IAEA, sedangkan program peningkatan kapasitas uranium merupakan perintah Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
“Iran akan tetap mempertahankan program nuklir pasca penarikan diri AS dari Kesepakatan Nuklir 2015.
Presiden AS Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir antara Iran dengan AS, Jerman, Perancis, Rusia, China dan Jerman pada 2015 dan mengancam akan menjatuhkan lagi sanksi ekonomi jika negara itu tidak bersedia melucuti seluruh program nuklirnya.
Sementara PM Israel Benyamin Netanyahu yang sedang melawat ke Jerman mengingatkan, campurtangan Iran di sejumlah konflik di Timur Tengah akan menciptakan eksodus pengungsi ke Eropa.
Jika pecah perang terbuka antara Israel, kekuatan militer terbesar ke-15 dunia melawan Iran yang berada di urutan ke-21, korban kedua belah pihak bakal sangat besar.
Israel walau memiliki pasukan lebih sedikit, sekitar 168.000 orang plus 550.000 anggota cadangan dibandingkan Iran dengan 534 ribu tentara plus 400 ribu cadangan didukung Garda Revolusi, dikenal sangat terlatih dan dilengkapi senjata modern.
Negara Jahudi itu unggul dalam jumlah tank dengan 3.650 buah termasuk tank tempur utama (MBT) Merkava buatannya, dibandingkan Iran dengan 1.800 tank ex-Uni Soviet seperti T-72 dan T-62 yang relatif tua.
Di laut, kekuatan keduanya hampir seimbang. Iran a.l. memiliki tiga kapal selam, tiga korvet dan 68 kapal patroli cepat, sedangkan Israel mengoperasikan a.l. masing-masing tiga fregat, korvet dan kapal selam.
Di matra udara, Israel unggul dalam jumlah dan mutu pesawat (combat proven atau teruji dalam pertempuran). AU Israel mengoperasikan 875 pesawat tempur a.l. F-15 Eagle dan F-16 Fighting Falcon serta yang terbaru “siluman” F-35 “Lightning” buatan AS ditambah 255 pesawat berbagai jenis.
Iran mengoperasikan 180 pesawat tempur termasuk Mig-29 ex-Rusia, F-1 Mirage (Perancis), pesawat F-14 Tomcat dan F-4 Phantom buatan AS yang relatif lawas karena diterima dari AS sebelum embargo di bawah tahun ’80-an dan 480 pesawat berbagai jenis lainnya .
Sebaliknya, Iran walau bertahun-tahun diembargo oleh AS dan negara-negara Barat lainnya, masih bisa mengembangkan sendiri rudal-rudal balistik yang bisa menjangkau wilayah Israel dan juga didukung sistem pertahanan udara buatan Rusia.
Sedangkan Israel memayungi wilayahnya dari serangan rudal lawan dengan sistem Iron Dome atau Kubah Baja menggunakan rudal-rudal buatan lokal dan Patriot buatan AS yang terbukti cukup efektif menangkal serangan rudal Scud ex-Soviet yang diluncurkan Irak dalam Perang Teluk 1 (1990).
Iran dilaporkan mengandalkan sistem pertahanan udara S-300 buatan Rusia yang diintegrasikan dengan radar, penjejak, rudal dan baterai meriam anti pesawat terbang, sedangkan Israel juga disebut-sebut memiliki senjata nuklir yang bisa digunakan sewaktu-waktu jika terdesak.
Seperti pertandingan, kedua belah pihak merasa jumawa akan memenangkannya, namun di pertempuran sesungguhnya nanti, akan diuji doktrin militer, taktik dan strategi yang diterapkan, keandalan alutsista dan juga kejelian intelijen.
Tentu saja “the man behind the gun” ikut menentukan kalah-menangnya pihak yang berperang.
(AP/AFP/Reuters/NS).




