Israel serang Gaza dengan skala penuh

Pasukan Israel melancarkan serangan besar besaran ke Gaza timur, Senin (11/8) beberapa saat setelah PM Benjamin Netanyahu menyatakan bertekad akan melancarkan serangan dalam kecepatan penuh terhadap Hamas (foto: Anadolu)

PASUKAN Israel melancarkan serangan besar-besaran ke kawasan timur Gaza, Senin (11/8) beberapa jam setelah PM  Israel Benjamin Netanyahu menyatakan akan memperluas medan tempur “dengan kecepatan penuh” untuk menyasar Hamas.

Reuters berdasarkan keterangan sejumlah saksi mata mengatakan bahwa tank tank dan pesawat tempur Israel menggempur tiga wilayah di timur Kota Gaza yakni Sabra, Zeitoun, dan Shejaia.

Sejumlah penduduk Kota Gaza mengatakan bahwa malam itu adalah salah satu malam terburuk dalam beberapa minggu terakhir ini akibat bombardemen masif Israel.

“Suara itu seperti perang dimulai kembali,” kata Amr Salah (25) kepada Reuters melalui aplikasi obrolan.

Tank tank Israel mengarahkan tembakan ke rumah-rumah, yang  beberapa di antaranya terkena, sementara pesawat melancarkan serangan rudal yang sebagian jatuh di sejumlah ruas jalan di timur Gaza.

Kejadian itu meningkatkan kekhawatiran masyarakat akan persiapan militer untuk serangan yang lebih dalam ke Kota Gaza.

Menurut Hamas, Kota Gaza sekarang menjadi tempat berlindung sekitar satu juta warga Palestina setelah pemindahan penduduk dari tepi utara wilayah kantong tersebut.

Militer Israel mengatakan bahwa pasukannya menembakkan artileri ke arah Hamas di daerah tersebut. Menurut mereka, tidak ada tanda-tanda pasukan bergerak lebih dalam ke Kota Gaza sebagai bagian dari serangan Israel yang baru disetujui oleh kabinet keamanan.

 Menyasar wartawan

Serangan Israel terhadap Gaza juga menargetkan jurnalis di Gaza,  satu di antaranya mengenai kompleks RS Al Shifa di Kota Gaza, menewaskan enam jurnalis, termasuk wartawan terkenal Al Jazeera Anas Al-Sharif.

Empat lainnya adalah koresponden Mohammed Qreiqeh, dan tiga juru kamera Ibrahim Zaher, Mohammed Noufal, dan Moamen Aliwa serta freelancer lokal Mohammad Al-Khaldi.

Israel mengonfirmasi bahwa mereka telah menargetkan dan membunuh Al-Sharif, karena dianggap sebagai kepala sel Hamas dan terlibat dalam serangan roket terhadap Israel.

Al Jazeera membantah klaim tersebut, dan sebelum kematiannya, Al-Sharif juga membantah tuduhan Israel bahwa ia memiliki hubungan dengan Hamas.

Kantor media pemerintah Gaza yang dikelola Hamas mengatakan 238 jurnalis telah tewas dalam hampir dua tahun perang, sementara Komite Perlindungan Jurnalis mengatakan setidaknya 186 jurnalis telah tewas.

Pasukan Israel, Minggu (10/8) juga  mengatakan telah membongkar situs peluncuran roket di timur Kota Gaza, yang digunakan Hamas untuk menyasar ke komunitas Israel di seberang perbatasan.

Pada hari yang sama, Netanyahu mengatakan bahwa dia telah memberi instruksi kepada anggota militernya untuk mempercepat rencana mereka melakukan serangan baru.

“Saya ingin mengakhiri perang ini secepat mungkin, dan itulah mengapa saya telah memerintahkan IDF (Pasukan Pertahanan Israel) untuk memperpendek jadwal pengambilalihan kontrol atas Kota Gaza,” katanya.

Netanyahu mengatakan bahwa tujuan serangan baru ini akan fokus pada Kota Gaza, yang ia sebut sebagai “ibu kota Hamas”.

Ia juga mengindikasikan bahwa wilayah pesisir Gaza tengah mungkin menjadi target berikutnya, mengatakan bahwa Hamas juga telah berpindah ke sana.

 Menuai kritik in’l

Perluasan perang yang dilakukan Netanyahu terhadap Gaza  menuai kritik dari berbagai pemimpin dunia seperti  Presiden Perancis Emmanuel Macron yang menyebutnya sebagai “bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya” dan “langkah menuju perang yang tak berujung.”

Sementara Jerman, salah satu sekutu utama Israel menghentikan ekspor peralatan militer ke Israel yang dapat digunakan di Gaza.

Inggris dan sekutu-sekutu lainnya di Eropa mendesak Israel untuk mempertimbangkan kembali keputusannya untuk meningkatkan kampanye militer di Gaza.

Dubes AS utuk Israel Mike Huckabee mengatakan kepada Reuters bahwa beberapa negara tampaknya lebih menekan Israel daripada Hamas, yang dianggap memicu perang.

Konflik Hamas – Israel kali ini berawal dari serangan Hamas ke wilayah Israel selatan pada 7 Oktober 2023  membunuh 1.200 orang dan membawa 251 sandera ke Gaza.

Menurut laporan Israel, sekitar 50-an sandera masih ada di Gaza, tetapi hanya sekitar 20 yang diyakini masih hidup.

Sementara itu, Pejabat Keehatan Gaza menyebutkan, lebih dari 61.000 warga Palestina telah tewas dalam kampanye serangan Israel sejak 8 Oktober 2023.

Eskalasi militer yang direncanakan oleh  Israel saat ini berlangsung saat Gaza telah dilanda bencana kelaparan yang sangat parah akibat blokade Israel sejak Maret lalu.

Retorika damai terus berkumandang,  tapi Israel bergeming, bahkan PM Netanyahu dilaporkan berencana menguasai seluruh Gaza dalam upaya menihilkan ancaman Hamas. (Reuters/ns)

 

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here