GARA-gara “ikan asin”Mentri Susi Pudjiastuti sempat sewot pada Tengku Zulkarnain, Wasekjen MUI. Tapi beberapa hari ini, “ikan asin” bikin repot artis sinetron Galih Ginanjar, karena diperiksa polisi. Masak bekas istri dianggap “ikan asin”, ini kan pelecehan. Tapi di tempat lain ada lho bini tetangga nan cantik direken sebagai ikan hias, sememtara wanita di tempat hiburan malam dianggap ikan belut.
Ikan asin banyak nama padanannya. Di Yogya ada yang menyebut rese, sehingga di warung-warung belanja pete-rese dapatnya juga ikan asin kecil-kecil dengan petai sepotong. Ada juga yang menyebutnya teri, sementara di Purworejo ikan asin disebut gesek. Maka jika orang tubuhnya kurus kering, akan diolok-olok dengan kata: awak kok kaya gesek.
Ketika ikan asin disebut oleh Tengku Zulkarnain, Wasekjen MUI yang lebih terkenal sebagai aktivis medsos, Menteri Kelautan Susi Pujiaastuti jadi sewot pula dibuatnya. Soalnya Tengkuzul –begitu nama bekennya di medsos– dalam twitternya menyindir Bu Mentri, “Dengan bentangan laut lebih dari 99.000 Km Indonesia kok masih impor ikan asin, salah uruskah negeri ini?” Maka menteri jebolan SMAN I Yogyakarta itu membalas, “Tahun berapa dan kenapa ? Anda pikir masyarakat bodoh? Mereka jauh lebih pintar dari kita .. kita artinya anda dan saya lebih bodoh !” kata Susi membalas tweet Tengkuzul.
Perang Tengkuzul-Susi pun selesai. Tapi ketika “ikan asin” disebut oleh artis sinetron Galih Ginanjar, dampaknya dia bisa diperiksa polisi sampai 13 jam lamanya. Soalnya si artis bermulut ember juga. Bagaimana mungkin, masalah keburukan bekas istrinya –soal yang pribadi sekali pula– kok diumbar keluar sampai masuk medsos. Tentu saja Fairuz bekas istrinya mencak-mencak dan lapor polisi.
Misalkan sampai pengadilan nanti, Galih Ginanjar juga bakal kerepotan. Sebab merujuk sidang MK soal sengketa Pilpres kemarin, apakah dia bisa menunjukkan bukti “ikan asin” yang didalilkan? Misalkan posita dan petitumnya sempurna pun, tegakah majelis hakim menghadirkan bukti “ikan asin” itu ke persidangan?
Sebetulnya di kalangan lelaki hidung belang atau para bajul buntung istilahnya, masalah “ikan asin”, “ikan belut” sampai “ikan hias” sudah biasa jadi guyonan dalam komunitas mereka. Tapi awas, paparan itu sekedar dalam bentuk kiasan, bukan aslinya sebagaimana yang didalilkan Galih Ginanjar.
Kata para hidung belang atau para petualang asmara, istri sendiri diibaratkan sebagai ikan asin karena, sebagai suami istri mereka sudah seperti kakak beradik. Urusan nafkah batin tak lagi menjadi topik utama, berjalan sambil lalu saja. Tapi jika lama tak melakukan, akhirnya enak juga bagaikan ikan asin untuk lauk makan, karena tak ada lauk yang lain.
Adapun “ikan belut” yang dimaksudkan adalah, wanita penghibur yang biasa di tempat hiburan malam. Bukan menggeneralisir bahwa setiap wanita penghibur bisa menjadi “hiburan” di ranjang, tapi biasanya memang ada juga yang nyambi. Kelihatannya angker susah disentuh, tapi bila pandai-pandai cara meng-aproach-nya, bakal kena juga. Kan begitu ikan belut di ler-leran (lumpur siap ditanami) sawah. Kelihatanya licin susah ditangkap, tapi dengan keahlian jari jemari bermain di dalam lumpur, si belut akhirnya bisa juga dimasukkan kepis (tempat ikan).
Paling gawat penuh resiko adalah “ikan hias”, karena ini erat hubungannya dengan ungkapan: rumput tetangga nampak lebih hijau dari rumput di halaman sendiri. Dalam pergaulan antar tetangga, baik yang di kompleks perumahan maupun gang-gang kampung, sering ditemukan wanita cantik yang merupakan istri orang. Di kalangan para petualang asmara, ini biasa disebut “ikan hias” sebagaimana maskoki atau koi.
Kenapa disebut “ikan hias”? Sebab betapapun bagus itu ikan, berlenggang-lenggok dalam air akuarium dengan sirip dan jumbai-jumbainya nan indah, orang hanya bisa memandangi saja. Sebagai orang luar tak boleh menggorengnya, nanti bisa dicap lelaki subita alias suka bini tetangga. Jika yang empunya ikan tahu, pasti akan cemburu meski baru sekedar suka belum sampai buka-buka!
Padahal di banyak kejadian, bila kepepet ikan hias ini bisa juga “digoreng”. Bukan di wajan panas, melainkan di hotel atau villa nan sejuk. Bagaimana rasanya? Kata para praktisinya, gurih juga apa lagi bila dibumbu asam manis. Tapi seyogyanya jangan sampailah menggoreng “ikan hias” jenis demikian. Sebab sangat beresiko, banyak lelaki petualang mati konyol gara-gara urusan menggoreng “ikan hias” ini. Orang Jawa punya pepatah, sedumuk bathuk senyari bumi, urusan wanita dan tanah akan dibela sampai mati. (Cantrik Metaram)





