
MATA dunia pekan terakhir ini tertuju pada isu ujicoba rudal Korea Utara dan konflik Suriah yang semakin memanas akibat penggunaan senjata kimia oleh para pihak bertikai yang kemudian memicu Amerika Serikat melancarkan serangan rudal jelajah (cruise missile) Tomahawk.
Serangan gas sarin yang menewaskan 86 orang termasuk puluhan anak-anak dan wanita di desa Sheik Houn, Provinsi Idlib (4/4) – diduga dilancarkan oleh pesawat-pesawat tempur rezim Bashar al-Assad – direspons AS dengan meluncurkan 59 Tomahawk ke pangkalan AU Suriah, Shayrat (6/4).
Belum diketahui, aksi susulan yang akan diambil Presiden AS Donald Trump, baik di palagan Suriah, maupun menghadapi konflik di Semenjung Korea. Yang jelas, armada AL AS dipimpin kapal induk USS Carl Vinson yang semula akan berlayar ke Australia, dibelokkan menuju Samudera Pasifik.
Jubir Komando AS di Pasifik Dave Benham mengemukakan, Gugus Tugas USS Carl Vinson yang dikawal sejumlah kapal perusak dan penjelajah bergerak ke utara untuk meningkatkan kesiapan dan kehadiran armada AL AS di Pasifik Barat.
Di lain pihak, Korut bergeming bahkan seolah-olah menantang AS dan konco-konconya, terus melakukan ujicoba rudal balistik, dan terakhir kali meluncurkan rudal Pukguksong (Bintang Utara) berbahan padat yang baru dikembangkannya (5/4).
Presiden Korut Kim Jong Un bahkan akan melakukan ujicoba rudal balistik berikutnya dalam rangkaian peringatan 105 tahun kelahiran bapak pendiri Korea Kim Il Sung, 15 April.
Aksi Korut ini pun direspons AS dengan menempatkan sistem rudal anti rudal Pertahanan Area di Ufuk Tinggi (Terminal High Altitude Area Defence – THAAD) di sejumlah wilayah Korsel.
Akibatnya, tidak Korut saja yang meradang, China yang sistem pertahanannya merasa ditelanjangi karena jangkauan radar sistem THAAD mampu mengendus posisi-posisi rudalnya, juga berkeberatan atas penempatan sistem anti rudal itu di Korsel.
Namun kemungkinan berkat keberhasilan lobi tingkat tinggi yang dilakukan Presiden Trump saat bertemu dengan Presiden Xi Jinping di AS pekan lalu, posisi China yang selama ini ngotot dan berpihak pada Korut, bergeser dan setuju pengenaan sanksi lebih keras terehadap Korut jika tetap bandel mengujicoba rudal-rudalnya.
AS minta China bujuk Korut
Di berbagai kesempatan, Presiden Trump selain mengajak China untuk membujuk mitra dekatnya, Korut untuk menghentikan program nuklirnya dan mengancam jika China tidak mau melakukannya, AS akan mengambil tindakan sepihak.
Korsel, mitra AS juga cemas atas kemungkinan tindakan militer AS, karena di satu pihak, mungkin aksi tersebut akan mampu mengakhiri ancaman nuklir dari negara tetangga serumpun itu, namun di pihak lain juga khawatir atas keselamatan rakyatnya dari aksi balasan Korut.
Kembali ke konflik Suriah, tidak bisa diprediski juga apakah AS, atas nama kemanusiaan,tidak menginginkan korban sipil berjatuhan lagi akibat senjata kimia, akan mengirimkan lagi rudal-rudal Tomahawknya ke posisi pasukan Suriah.
Tidak ada yang bisa memastikan, apakah Trump akan membuktikan ancamannya untuk melakukan aksi sepihak untuk melumpuhkan pusat-pusat peluncuran rudal di wilayah Korut seperti yang dilakukannya terhadap rezim Suriah.
Jika opsi itu diambil, risiko yang harus diperhitungkan adalah reaksi dari Rusia yang pasti menentang aksi sepihak AS terhadap sekutunya, Korut, juga respons China walaupun sudah menyatakan setuju sanksi lebih keras terhadap Korut, mitra dagang utama dan juga tetangganya itu.
Pemerintah Rusia, Iran dan kelompok milisi (dukungan Iran) sepakat membentuk pusat pengambilan keputusan bersama dalam memberikan dukungan terhadap rezim Presiden Bashar al-Assad. Ketiganya, mengecam keras aksi AS dan menganggapnya sebagai tindakan melampaui batas.
RI sebagai negara bebas aktif, mengecam pengunaan senjata kimia di Suriah, dan mendorong verifikasi di lapangan untuk mengusut pihak yang bertanggungjawab, namun di pihak lain juga menyayangkan aksi unilateral atau sepihak AS dalam merespons penggunaan senjata kimia.
Bagi RI, aksi militer tanpa persetujuan DK PBB bertentangan dengan prinsip hukum internasional dan solusi konflik secara damai.
Ancaman eskalasi konflik semakin nyata di semenanjung Korea dan Suriah yang berpotensi menyeret negara-negara lainnya. Semoga ini tidak terjadi! (AFP/AP/Reuters/NS)




