Jadi, tidak, AS Serang Iran?

Para pemimpin Iran sesumbar akan membumihanguskan Israel dan semua pangkalan militer AS di TImur Tengah jika berani mengusik negaranya. (ilustrasi: dok.ist. diktisaintek)

MEMPREDIKSI  jadi tidaknya Amerika Serikat (AS) menyerang Iran, mirip menghitung suara tokek: “jadi, tidak, jadi, tidak”.

Retorika perang yang dilontaran  kedua belah pihak, juga tak kalah sengitnya dibandingkan perang sesungguhnya. Narasi saling ancam, menghabisi dan membumihanguskan lawan digaungkan, walau dalam perang sesungguhnya nanti, teknologi bakal lebih banyak berbicara, berperan besar menentukan jalannya perang.

AS dan Iran kembali bersitegang setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan, waktu hampir habis untuk mencegah operasi militer terhadap Teheran.

Menlu Iran Abbas Araghchi pun merespons pernyataan Trump dengan memperingatkan, pasukan negaranya siap merespons cepat dan keras jika AS benar-benar melancarkan serangan.

Dalam pernyataannya, Araghchi mengatakan, pasukan Iran memiliki “jari di pelatuk” untuk memberikan balasan kuat terhadap setiap aksi militer AS.

Namun di sisi lain, Araghchi juga membuka peluang diplomasi dengan menyebut Iran tidak menutup pintu bagi perjanjian baru terkait program nuklirnya, selama dilakukan secara adil dan tanpa ancaman.

Iran, menurut dia,  selalu terbuka terhadap kesepakatan nuklir yang saling menguntungkan, adil, dan setara, tanpa paksaan, ancaman, maupun intimidasi, yang menjamin hak Iran atas teknologi nuklir bertujuan damai serta memastikan tidak ada senjata nuklir,” tulis Araghchi di platform X, dikutip dari Reuters.

Lebih ganas

Perang kali Ini, ungkap Araghchi, akan jauh lebih ganas dan ia kembali menegaskan posisi lama Teheran bahwa Iran tidak pernah berniat mengembangkan senjata nuklir.

Klaim ini selama bertahun-tahun diragukan oleh negara-negara Barat, yang menilai program nuklir Iran berpotensi diarahkan ke tujuan militer. Sebelumnya, Araghchi juga menilai bahwa diplomasi yang disertai ancaman militer tidak akan efektif.

Meski demikian, bahasanya kali ini dinilai mirip dengan pernyataan Trump, seolah memberi sinyal bahwa jalan negosiasi masih terbuka.

Nada jauh lebih keras justru datang dari Ali Shamkani, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang mengingatkan, tidak ada istilah “serangan terbatas” jika AS menyerang Iran.

“Setiap aksi militer Amerika, dari mana pun dan pada skala apa pun, akan dianggap sebagai awal perang. Responsnya akan langsung, menyeluruh, dan belum pernah terjadi sebelumnya, dengan sasaran utama, jantung Tel Aviv dan seluruh pendukung agresor,” tulis Shamkani.

Pernyataan ini menempatkan Israel, sekutu utama AS, sebagai target utama jika konflik terbuka pecah.

Sementara itu, Presiden Trump menyatakan bahwa “armada besar” kapal perang AS yang telah dikerahkan ke perairan sekitar Iran, menurut dia, siap menjalankan misi dengan cepat dan penuh kekuatan jika diperlukan.

Gugus Tempur USS Abraham LIncoln

Dipimpin kapal Induk USS Abraham Lincoln dengan 100-an pesawat termasuk Siluman F-35 , gugus tempur AS didukung  sejumlah kapal perusak berpeluncur rudal  sudah berada di Laut Mediteranea dI titik serang terhadap Iran.

Meski demikian, Araghchi kembali menekankan harapannya agar Iran dan AS dapat “duduk di meja perundingan” dan mencapai kesepakatan baru yang memastikan tidak adanya senjata nuklir, sekaligus menguntungkan semua pihak.

Di tengah meningkatnya tensi ini, Menlu AS Marco Rubio menyatakan bahwa kepemimpinan Iran berada pada titik terlemah sepanjang sejarahnya.

Kanselir Jerman Friedrich Merz bahkan menyebut bahwa “hari-hari Republik Islam Iran sudah terhitung”, merujuk pada penindakan keras terhadap aksi protes anti-pemerintah beberapa waktu terakhir.

Jerman dan Perancis juga mendorong Uni Eropa untuk menetapkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris.

IRGC selama ini dikenal sebagai kekuatan ideologis utama yang menjaga kelangsungan Revolusi Islam Iran sejak 1979. Saat ini, IRGC sudah masuk daftar teroris di AS dan Kanada, tetapi belum di Uni Eropa dan Inggris.

Bayang-bayang perang dan krisis kemanusiaan terjadi di tengah gejolak situasi domestik Iran. Gelombang protes anti-pemerintah sejak akhir Desember dilaporkan menewaskan ribuan orang.

Sudah 6.221 tewas

Lembaga pemantau HAM yang berbasis di AS, Human Rig Activists News Agency (HRANA), mencatat, 6.221 orang tewas, termasuk lebih dari 5.800 demonstran dan 100 anak-anak sejak maraknya aksi-aksi masa turun ke jalan di seluruh penjuru Iran akibat kekecewaan publik disebabkan belitan ekonomi termasuk inflasi yang menggila.

HRANA juga melaporkan lebih dari 42.000 orang ditangkap, sementara aparat keamanan menyisir rumah sakit untuk mencari demonstran yang terluka, sebuah kondisi yang disebut sebagai “dimensi baru penindasan berkelanjutan”.

Upaya diplomatik regional terus dilakukan. Iran dilaporkan menghubungi sejumlah sekutu AS di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Mesir, untuk menekan eskalasi konflik.

Dikutip dari AFP, para analis menilai, jika AS benar-benar menyerang Iran, skenario yang mungkin terjadi berupa serangan ke fasilitas militer atau nuklir, hingga upaya melemahkan kepemimpinan tertinggi Iran.

Namun langkah tersebut berisiko memicu perang regional yang lebih luas, melibatkan Israel dan sekutu-sekutu AS di Timur Tengah.

Dengan armada AS sudah dikerahkan dan Iran menyatakan siap membalas, dunia kini menunggu, apakah krisis akan berakhir di meja perundingan, atau justru berubah menjadi konflik berskala besar. (AFP/Reuters/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here