
INDONESIA bakal menjadi satu-satunya dari sepuluh negara anggota ASEAN yang mengoperasikan KA berkecepatan tinggi jika proyek KA Cepat Jakarta – Bandung (KCJB) bekerjasama dengan China rampung awal 2022.
Presiden Jokowi meninjau pembangunan terowongan (tunnel) dengan panjang 1.885 meter kawasan Pondokgede, Kota Bekasi, Jawa Barat di bawah jalur jalan tol Jakarta – Cikampek yang merupakan salah satu dari 13 terowongan di lintas jalur KA sepanjang 142,3 Km tersebut.
Proyek senilai 6,2 milyar dollar AS (sekitar Rp86 triliun) yang dikerjakan konsorsium PT KA Cepat Indonesia China (KCIC) tersebut, 60 persen sahamnya dikuasai PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia dan 40 persen oleh konsorsium perusahaan China.
Sebanyak 75persen pendanaan proyek tersebut dilakukan oleh Bank Pembangunan China (CDB), sedangkan sisanya dari ekuitas para pemilik saham yakni empat BUMN (PT KAI, PT Wika, PTPN VIII dan PT Jasa Marga) serta konsorsium perusahaan China.
Terdiri dari delapan rangkaian (gerbong) luks type terbaru buatan China CR400AF berkapasitas 600 penumpang, KCJB mampu melaju pada kecepatan 350 Km per jam, sehingga Jakarta – Bandung p.p bisa ditempuh sekitar 36 menit.
Dibandingkan dengan KA Parahiyangan yang dioperasikan saat ini dengan waktu tempuh lebih tiga jam, keuntungan yang diperoleh penumpang selain kenyamanan adalah waktu perjalanan yang jauh lebih singkat.
Di Jakarta, stasiun Halim Perdanakusumah menjadi stasiun pemberangkatan dan stasiun destinasi akhir, sedangkan pemberhentian yakni Stasiun Karawang, Stasiun Walini dan Stasiun Tegalluar (Bandung).
Walau pun harga tiketnya lebih mahal yakni sekitar Rp228.000 dibandingkan KA Parahiyangan yang dioperasikan saat ini (Rp110.000 untuk Kelas Bisnis dan Rp150.000 kelas eksekutif) sekali jalan, KA cepat memamngkas waktu perjalanan.
Walaupun melaju dalam kecepatan tinggi, KCJB menggunakan teknologi low cabin noise sehingga sistem peredam getarannya berfungsi optimal, menambah kenyamanan penumpang.
Proyek KCJB juga merupakan lompatan dan juga alih teknologi, sehingga jika dikembangkan lagi di masa mendatang untuk rute Jakarta – Surabaya atau Bandung – Surabaya pp. diharapkan sudah dapat dikuasai oleh SDM Indonesia.
China sendiri sudah berpengalaman mengembangkan KA super cepat dan sudah mengoperasikan KA berkecepatan 430 Km untuk jalur KA Pudong dan Longyang (Shanghai) sejak 2003.
Saat ini China juga menggunakan KA teknologi magnetic Maglev dari Jerman yang mampu melaju dalam kecepatan sampai 630 Km per jam.
Di sisi lain, penggunaan moda transportasi berkecepatan tinggi dan lintasan bawah tanah tentunya yang tidak boleh lengah adalah presisi sistem keamanan dan risiko kecelakaan yang tinggi pula termasuk para petugasnya.




