JAKARTA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi DKI Jakarta mengimbau warga Jakarta untuk mewaspadai bencana pergerakan tanah pada Januari 2019.
Dalam laman resmi BPBD DKI Jakarta, dijelaskan gerakan tanah adalah suatu konsekuensi fenomena dinamis alam untuk mencapai kondisi baru akibat gangguan keseimbangan lereng yang terjadi, baik secara alamiah maupun akibat ulah manusia.
Gerakan tanah akan terjadi pada suatu lereng, jika ada keadaan ketidakseimbangan yang menyebabkan terjadinya suatu proses mekanis, mengakibatkan sebagian dari lereng tersebut bergerak mengikuti gaya gravitasi dan selanjutnya setelah terjadi longsor, lereng akan seimbang atau stabil kembali.
Tanah longsor merupakan bentuk erosi dimana pengangkutan atau gerakan massa tanah terjadi pada suatu saat dalam volume yang relatif besar. Ditinjau dari segi gerakannya, maka selain erosi longsor masih ada beberapa erosi akibat gerakan massa tanah, yaitu rayapan (creep), runtuhan batuan (rock fall), dan aliran lumpur (mud flow).
BPBD melanjutkan, karena massa yang bergerak, dalam longsor merupakan massa yang besar maka sering kejadian longsor akan membawa korban, berupa kerusakan lingkungan, yaitu lahan pertanian, permukiman, dan infrastruktur, serta hilangnya nyawa manusia.
Proses terjadinya gerakan tanah melibatkan interaksi yang kompleks antara aspek geologi, geomorfologi, hidrologi, curah hujan, dan tata guna lahan.
Sementara itu BPBD merilis wilayah yang berpotensi diantaranya di Jakarta Selatan ya akni di Cilandak, Jagakarsa, Kebayoran Baru, Kebayora Lama, Mampang Prapatan, Pancoran, Pasar Minggu dan Pesanggrahan.
Wilayah lainnya yakni Jakarta Timur diantaranya di Kramatjati dan Pasar Rebo.
Keduanya berpotensi mengalami pergerakan tanah kategori menengah. Oleh karena itu, mengimbau kepada Masyarakat DKI Jakarta Khususnya wilayah tersebut agar waspada terhadap potensi pergerakan tanah yang ada.





