Melakukan perjalanan ke Somalia untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan memiliki tantangan yang tak mudah. Tim Dompet Dhuafa harus menempuh perjalanan sedikitnya 36 jam untuk untuk mencapai Negeri Tanduk Afrika ini.
Terik matahari terasa menyengat di kulit saat kami menjejakkan kaki di Bandar Udara (Bandara) Aden Abdulle, Mogadishu. Tidak ada garbarata di bandara utama ibu kota Somalia ini. Semua penumpang harus menuruni anak tangga pesawat, ditemani deru mesin yang meraung.
Waktu menunjukkan pukul 11.55 waktu Somalia, Ahad 2 April 2017. Pesawat dengan nomor penerbangan TK 0686 tersebut seharusnya mendarat pada pukul 8.40. Namun karena kendala teknis, pesawat mengalami keterlambatan. Pesawat Air Bus A 321-200 ini dalam jadwalnya hanya transit di Djibouti selama 40 menit, namun ternyata juga harus turun di Antalya Turki untuk mengisi bahan bakar.
Bandara Aden tidak terlalu besar. Beberapa bagian juga nampak baru direnovasi. Tak banyak maskapai yang membuka rute ke negara ini. Tercatat hanya ada 7 maskapai yang melayani penerbangan dari dan ke bandara dengan kode IATA MGQ ini. Turkish Airlines menjadi satu-satunya maskapai internasional besar yang membuka layanan di sini, 6 hari dalam sepekan.
Keberadaan maskapai Turkish Airlines tak terlepas dari peran besar Turki dalam merevitalisasi Bandara Aden. Sejak perang sipil pecah pada tahun 1991, layanan penerbangan di sini kerap mengalami gangguan. Baru pada tahun 2010, setelah situasi keamanan mulai sedikit membaik, renovasi bandara kembali dilakukan. Puncaknya pada tahun 2013, Pemerintah Turki, secara resmi mengumumkan rencana untuk memodernisasi bandara. Upaya ini merupakan bentuk keterlibatan Turki dalam proses rekonstruksi pasca-konflik di Somalia.
Setelah turun dari pesawat, semua penumpang internasional digiring ke pintu kedatangan internasional. Tak banyak konter imigrasi yang tersedia. Hanya ada tiga untuk warga asing, dan satu untuk warga lokal. Satu konter lagi khusus untuk melayani visa. Terkait dengan visa, kita bisa mendapatkannya saat kedatangan (visa on arrival), atau mengajukan melalui konsulat yang terdapat di Nairobi, Kenya maupun Addis Ababa, Ethiopia.
Namun, untuk mendapatkan visa saat kedatangan bagi orang asing juga tak mudah. Visa akan dikeluarkan jika ada surat resmi dari sponsor, yang disampaikan ke imigrasi bandara dua hari sebelum kedatangan. Kalaupun sudah mendapat visa, kita belum tentu bisa keluar dari bandara. Perwakilan dari lembaga yang mengundang harus menjemput kita di bandara.
Tak cukup sampai di situ, warga asing yang mengunjungi Somalia juga harus memiliki jaminan kemanan. Oleh karenanya, saat mobil jemputan kami tiba, di dalamnya juga ikut satu orang pria berseragam yang menenteng senjata AK 47. Kemana pun kami pergi, dia akan menyertai.
Faisal Abdullehi, seorang warga lokal mengatakan, bandara adalah salah satu tempat “paling aman” di Somalia. Setiap harinya ada ratusan tantara dan polisi yang berjaga di sekitarnya. “Terlebih kemarin ada Wakil Perdana Menteri Turki yang datang ke Mogadishu,” katanya.
Masih Rapuh
Suasana “horror” memang sangat terasa beberapa saat setelah keluar dari bandara. Perimeternya dibuat berlapis-lapis. Guardrail beton terpasang membatasi gerak setiap orang yang mengakses bandara. Pos-pos pemantau yang tinggi, lengkap dengan personil bersenjata juga terdapat di sejumlah titik. Belum lagi aparat yang lalu-lalang dengan senjata mesin otomatis. Kami menghitung, setidaknya harus melalui 6 portal pos pemeriksaan dari bandara sebelum melintasi jalan raya.
Sebenarnya, selain pemandangan orang-orang bersenjata, kehidupan warga di Mogadishu terlihat berjalan normal. Dalam radius 5 km dari bandara, kami melihat geliat sosial ekonoim warga. Mulai dari masjid yang ramai dengan jamaahnya, kedai-kedai yang dikunjungi pelanggan, hingga puluhan remaja yang baru keluar dari sekolah. Suasana menyeramkan seperti dalam film “Black Hawk Down” yang dibintangi Josh Hartnett sudah banyak berkurang.
“Saat ini situasinya berangsur membaik, meski belum pulih seutuhnya,” tambah Faisal.
Sejak perang sipil meletus pada tahun 1991, situasi kemanan Somalia benar-benar runyam. Kelompok-kelompok bersenjata bermunculan. Mereka merebutkan kekuasaan politik. Saking rumitnya, kita sulit mengidentifikasi perang ini antara siapa melawan siapa. Sebut saja Salvation Democratic Front (SSDF; Front Demokratik Keselamatan Somalia), Somali National Movement (SNM; Gerakan Nasional Somalia), Somali Patriot Movement (SPM; Gerakan Patriot Somalia), dan United Somali Congress (USC; Dewan Somalia Bersatu).
Dalam perkembangannya, lahir juga gabungan kelompok bersenjata bernama Transitional Federal Government (TFG; Pemerintahan Federal Transisi). Muncul juga kelompok baru bernama Islamic Courts Union (ICU; Uni Pengadilan Islam). Kelompok ini merupakan gabungan dari 11 kelompok Islamis lokal yang awalnya dibentuk untuk melaksanakan syariat Islam di wilayah kekuasaan masing-masing. Dari sinilah kemudian Al Shabab, kelompok yang dicap sebagai teroris Afrika lahir.
Hingga kini, gangguan kemanan, khususnya oleh Al Shabab yang berafiliasi dengan Al Qaedah masih kerap terjadi. Baik di kota, terlebih di desa-desa. Mereka biasanya melancarkan serangan bom mobil bunuh diri.
Konflik berkepanjangan yang terjadi di Somalia ini semakin menyengsarakan rakyat Somalia yang berjuang dari jeratan kemiskinan. Terlebih saat ini mereka dilanda bencana kekeringan dan kelaparan. Setengah dari populasi Somalia membutuhkan bantuan segera. Namun, ancaman keamanan, khususnya penculikan, membuat lembaga-lembaga donor internasional di Somalia juga khawatir. Mereka tidak leluasa menyalurkan bantuan.
Kami pun merasakan hal yang sama. Antara hotel tempat kami menginap dengan kantor lembaga mitra hanya berjarak dua rumah. Namun, kami tak diizinkan ke sana dengan berjalan kaki. Kami harus naik mobil, lengkap dengan pengawalan. “Risiko keamanan sekecil apa pun harus dihindari,” kata Zahir, staf lembaga lokal yang mendampingi kami.
Selain membantu dengan materi, kita hanya berharap yang terbaik untuk rakyat Somalia.





