KALANGAN ibu-ibu warga Depok, Cibinong dan Jakarta Timur pertengahan Oktober lalu dibuat dongkol, karena tabung gas melon 3 Kg yang dibelinya ternyata bercampur air. Polisi segera mencari siapa dalang –yang pasti bukan gaya Yogyakarta maupun Surakarta – penipuan ini. Beberapa hari kemudian segera tertangkap, mereka adalah Januar Ashari (24) dan M. Irfanissivi (19).
Ditilik dari usianya, mereka masih sangatlah muda. Tapi sayangnya, semuda itu sudah berotak kriminal. Mereka punya kreativitas, tapi sekedar untuk mencari uang kertas. Kata orang bijak, pemuda itu harapan bangsa. Tapi kalau model Januar Ashari dan Irfanissivi ini, bukan lagi harapan bangsa melainkan harapan LP Salemba. Bayangkan, muda-muda begitu kok sudah jadi penipu! Masih muda jadi penipu, tuanya mau jadi apa?
Tapi mereka tidak sendirian. Tipu-menipu ini memang bukan monopoli kawula muda keblinger. Yang muda, yang tua maupun kemampo (setengah tua) banyak yang berburu rejeki cari gampangnya saja. Palsukan produk ini itu tidaklah tabu, yang penting untung gede. Bila ini dibiarkan, apakah kita akan menjadi bangsa penipu?
Dulu menipu lewat uang palsu, kini vaksin palsu, BPJS palsu. Bahkan beras pun, juga dipalsu, dari yang dicampuri plastik hingga dioplos dengan raskin. Namun ada juga pemalsuan produk, meski merugikan konsumen tapi bukan tindak pidana. Bakso misalnya, di era gombalisasi ini sudah terjadi pemalsuan secara masif atas bakso-bakso senusantara. Katanya bakso sapi, tapi hanya baunya doang. Isinya lebih banyak tepung ketimbang dagingnya. Digigit tak ada merahnya daging, karena tepung lebih dominan. Ini produsen jual bakso apa jualan tepung?
Bambu juga menjadi komoditas penipuan. Bagaimana tidak, belum cukup umur sudah ditebang untuk dijual ke kota. Ini kan merugikan. Mending jualan tunas bambu (rebung), masih muda tapi enak digudeg. Sedangkan bambu muda, sebagai bahan bangunan tidak awet, digudeg juga siapa yang doyan?
Lalu kacang tanah, mangga, pisang; masih muda sudah dilempar ke pasar Jakarta. Ubi Cilembu sami mawon. Katanya manis asli, tapi ternyata ada juga yang disuntik gula Jawa. Paling konyol buah salak. Kata penjualnya manis-manis, tapi begitu dibuka di rumah sepet semua. Ketika diadukan ke polisi, pedagang salak itu menjawab santai, “Sampeyan dapat salak sepet sekranjang saja lapor polisi. Saya salak satu truk sepet semua, diam saja…..”
Ada juga pedagang yang mencoba “palsu-palsu” sedikit, karena takut pelanggan kabur. Misalnya saat harga kedelai melonjak, tahunya jadi tipis-tipis. Ini masih bisa dimaklumi. Yang celaka, harga sama tapi timbangan dikurangi. Ingatlah, Allah mengancam: “Kecelakaan besar bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi..” (QS. Al-Muthaffifin: 1-5)
Memalsu itu boleh, sepanjang menguntungkan korban pemalsuan itu sendiri. Misalnya, rambut palsu (wig), ini sangat menolong lelaki yang berambut ala profesor tempo doeloe. Dengan rambut palsu (cemara), banyak wanita bisa pakai konde gede dalam resepsi di gedung-gedung pertemuan. Mereka menjadi begitu ayu, berkebaya ala Putri Solo yang berjalan kaya macan luwe (seperti harimau lapar).
Gigi palsu, itu juga membuat kakek nenek doyan kacang goreng atawa peyek. Begitu pula alis palsu, mau dibikin seperti mbulan nanggal sepisan (bulan tanggal satu), atau mirip punya Andi Meriem Matalata alm; semua bisa. Cuma jangan terlalu ekstrem, alis dibuat pindah jalur. Yakni, alis asli digusur (cukur) habis, lalu dibentuk di tempat lain, mentang-mentang tidak harus bayar ganti rugi. (Cantrik Metaram)





