BOGOR – Raihan Hamdan Hawari, anak berusia sepuluh tahun dan berasal dari Kampung Kandang Panjang, RT 03/RW 07, Desa Tajurhalang, Kec amatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor harus menahan derita sejak kecil karena menderita atresia ani.
Penyakit yang dideritanya karena dia tidak memiliki lubang anus dengan kelainan saluran lubang anus tersambung ke dalam saluran kandung kemih.
“Agak shock untuk awal-awal. Karena anak pertama. Kita juga tidak punya riwayat seperti itu. Kaget jadinya,” ujar Supriatna (39), selaku ayah Raihan.
Hingga kini, Raihan sudah melakukan operasi sebanyak tiga kali. Operasi pertama dilakukan ketika Raihan berusia dua hari yakni operasi untuk pemasangan kolostomi yakni pembuangan sementara di usus sebelah kiri.
Operasi kedua ketika sudah berusia 10 bulan, yakni operasi pembuatan lubang anus dan memutus saluran yang tersambung ke saluran pipis. Lalu operasi yang ketiga itu pembedahan, jadi anus buatan itu diperlebar lagi. Lantaran terapi yang seharusnya berkala, dilakukan kurang maksimal.
Kini Raihan yang sudah duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar, kondisi kesehatannya masih pasang surut.
Namun Raihan cukup beruntung memiliki orang tua seperti Supriatna dan Devi Fitriani. Mereka terus berusaha merawat dan memberikan yang terbaik bagi putra sulungnya tersebut.
Walaupun kadang memang banyak lika-liku yang dialami. Bahkan mereka harus memutar otak dengan membuat kantung kolostomi sendiri menggunakan kantung plastik es dan double tip. Karena kantung kolostomi itu cukup mahal dan membuat iritasi di tubuh Raihan. Jika dulu kantung kolostomi itu bisa dapat tiga dengan harga Rp. 50.000. Sekarang dengan harga Rp.54.000 hanya dapat satu.
“Dengan intensitas perawatan Raihan, saya dan istri sempat ke sana-sini untuk meminta pertolongan. Belum lagi harus berhenti kuliah dan kehilangan pekerjaan, karena harus bolak-balik rumah sakit,” tambahnya, yang juga pelatih silat di Kampung Silat Djampang Zona Madina Dompet Dhuafa.
Rencananya Raihan akan melakukan operasi yang keempat yakni menyambung kantung kolostomi ke anus buatan di RSUP Fatmawati. Nanti dilihat perkembangan selanjutanya apakah kotorannya bisa keluar melalui anus buatan itu atau bagaimana. Untuk mempermudah terapi atau perawatannya. Sehingga Raihan tidak kesulitan tatkala sedang melakukan perawatan. Namun untuk melakukannya, tentu membutuhkan biaya besar.
“Jadi kita sempat konsultasi ke dokter. Karena kita heran kenapa lama sekali di RSCM. Kala itu masih menggunakan BPJS. Namun agak ribet dan mengantri lama, jadi kita tidak pakai lagi. Akhirnya berkat rujukan RST Dompet Dhuafa kita pindah ke RSUP Fatmawati bagian umum. Namun untuk biaya operasinya itu kurang lebih sekitar Rp. 10.450.000. Itu belum termasuk untuk jam visit dokter, ruang rawat dan segala macam. Walaupun sempat nego juga, bisa atau tidaknya kira-kira untuk operasi kategori umum tapi yang lain-lainnya menggunakan BPJS. Karena targetnya ingin cepat selesai operasi sebelum tanggal masuk sekolah,” tambahnya.
Hingga kini donasi untuk Raihan dalam laman donasi.zonamadina.com sudah terkumpul sebanyak RP. 450.000. Raihan sendiri sedang menjalani rawat jalan sambil menunggu dan berharap melaksanakan operasi keempat yang insyaa Allah bisa jadi operasi terakhirnya.



