Jangan Terlambat! Kenali Bahaya dan Risiko Aneurisma Otak

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Aneurisma otak, juga dikenal sebagai aneurisma serebral atau intrakranial, adalah kondisi di mana terjadi pembengkakan atau penonjolan pada pembuluh darah di otak.

Aneurisma sering tampak seperti buah beri yang menggantung, dan jika pembuluh tersebut robek, bisa menyebabkan gejala seperti sakit kepala parah hingga penurunan kesadaran.

Menurut dr. Beny Rilianto, Sp.N, Subsp.NIOO(K), FINA, M.Epid., aneurisma terjadi akibat pelemahan dinding pembuluh darah otak, yang lama-kelamaan bisa membesar dan berisiko pecah.

“Jadi, aneurisma ini analoginya adalah balon yang semakin lama semakin membesar, sehingga akan mencapai pada batas tertentu dan sangat mungkin seiring waktu menjadi ruptur atau pecah,” kata Beny yang bertugas di di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Mahar Mahardjono, Jakarta, Kamis (5/9/2024).

Aneurisma otak sangat berbahaya karena dapat menyebabkan perdarahan subarachnoid, sejenis stroke yang ditandai dengan sakit kepala hebat dan penurunan kesadaran.

Faktor risiko aneurisma termasuk genetika, tekanan darah tinggi, konsumsi alkohol, merokok, dan sindrom tertentu seperti sindrom Ehlers-Danlos. Wanita memiliki risiko dua kali lebih besar dibandingkan pria.

Aneurisma otak terbagi menjadi dua kategori: aneurisma yang pecah (ruptur) dan yang tidak pecah (non-ruptur).

Aneurisma yang pecah sering menyebabkan perdarahan subarachnoid dengan gejala sakit kepala parah dan penurunan fungsi otak, memerlukan penanganan medis segera. Sekitar 85% kasus perdarahan subarachnoid disebabkan oleh aneurisma yang pecah.

Aneurisma yang tidak pecah umumnya tidak menimbulkan gejala, namun pada beberapa kasus, jika letaknya di area tertentu di otak, bisa menyebabkan gejala akibat tekanan aneurisma tersebut, seperti gangguan gerakan bola mata.

“Walaupun belum tentu dia pecah, beberapa kasus itu yang paling sering adalah gangguan pada gerakan bola mata,” tuturnya.

Aneurisma biasanya terdeteksi melalui pencitraan medis seperti neuroimaging, yang membantu dokter menentukan langkah penanganan selanjutnya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here