
GAZA – Hamas menyatakan bahwa mereka tetap berkomitmen pada proposal gencatan senjata yang didukung oleh Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, dan resolusi Dewan Keamanan PBB.
“Kami menegaskan komitmen kami terhadap apa yang disepakati setelah proposal yang didukung Presiden Biden pada akhir Mei dan Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 2735 yang disetujui gerakan ini pada 2 Juli,” kata anggota biro politik Hamas, Khalil al-Hayya, melalui video Telegram, Kamis (5/9/2024).
Menurut al-Hayya, kesepakatan tersebut harus mencakup penghentian total agresi terhadap rakyat Palestina, penarikan seluruh pasukan Israel dari Jalur Gaza, termasuk Koridor Philadelphia, serta pengakuan atas hak pengungsi Palestina untuk kembali.
Selain itu, kesepakatan juga mencakup rekonstruksi daerah yang hancur akibat serangan, dan kesepakatan nyata mengenai pertukaran sandera.
“Kami tidak memerlukan proposal baru dan proposal apa pun dari pihak mana pun pada dasarnya harus fokus pada upaya memaksa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan pemerintahan fasisnya untuk menerapkan apa yang telah disepakati sebelumnya,” ucapnya.
Dia menegaskan bahwa proposal tidak bisa kembali ke titik awal atau berputar dalam lingkaran setan yang sama yang diinginkan Netanyahu.
“Jika Pemerintah AS dan Presiden Biden benar-benar ingin mencapai gencatan senjata dan mencapai kesepakatan pertukaran sandera, mereka harus meninggalkan bias buta terhadap pendudukan Israel, memberikan tekanan nyata pada Netanyahu dan pemerintahannya dan memaksa mereka untuk mematuhi apa yang sudah disepakati sebelumnya,” ungkapnya.
Al-Hayya juga menyebutkan bahwa Hamas telah memulai komunikasi dengan mediator dan beberapa negara regional serta internasional untuk memperjelas posisi mereka dan status perundingan.
Pada Mei lalu, Biden mengungkapkan bahwa Israel mengajukan rencana tiga tahap untuk mengakhiri permusuhan di Gaza, yang mencakup gencatan senjata, pertukaran sandera, dan rekonstruksi Gaza.
Namun, Netanyahu menegaskan bahwa militer Israel harus tetap hadir di Koridor Philadelphia, yang dianggapnya sebagai jalur penting bagi Hamas untuk memperkuat persenjataannya.




