RAKYAT Amerika Serikat akan menagih janji , sedangkan masyarakat internasional akan mencemati dengan seksama sepak-terjang Presiden Donald Trump di masa kepemimpinnya sampai empat tahun kedepan (2017 – 2021).
Sikap populis untuk lebih fokus menyejahterakan rakyat AS, memberikan andil kemenangan tidak terduga Trump dalam pemilu presiden, sebaliknya, kecenderungan proteksionis yang dilontarkannya selama kampanye, cukup mencemaskan kaum imigran dan negara-negara lain.
Pribadi Trump yang menuai kontroversi dan mengundang polemik di media tidak terbantahkan lagi dari fakta dan data sikap warga yang pro dan kontra terhadapnya.
Dari jajak pendapat yang diselenggarakan Gallup saat ia mulai memapakkan kakinya di Gedung Putih (20/1), lebih banyak rakyat AS yang tidak menyukainya (54 persen) ketimbang yang menyukainya (40 persen).
Angka tersebut, berbanding terbalik dengan yang diraih pendahulunya, presiden kulit hitam pertama AS, Barack Obama yang pada “debut” kariernya sebagai orang nomor 1 AS didukung 79 persen responden.
Bahkan di penghujung masa jabatan presiden dua periode sejak 2009, Obama masih dicintai rakyatnya, tercermin dari popularitasnya yang masih bertengger pada angka 60 persen. Angka ini luar biasa, mengingat popularitas presiden petahana biasanya menurun drastis menjelang akhir jabatannya.
Tetapi Trump yang diusung Partai Republik tidak peduli pada pencitraan atau popularitas, bahkan ia terbukti mampu mengecoh prediksi banyak orang, dengan mengalahkan capres dari Partai Demokrat, Hillary Clinton yang lebih populer dan lebih diunggulkan.
Mengena
Janji-janji Trump saat kampanye untuk menjadikan AS berjaya lagi ternyata “mengena” dan menggugah lagi mimpi-mimpi penduduk pedesaan dan kalangan miskin di AS yang merasa termarjinalisasi dan kurang diperhatikan.
Sosok Trump yang berani “tampil beda”, agaknya muncul sebagai antitesa terhadap pemimpin-pemimpin sebelumnya yang mapan dengan pemikiran mereka mengenai peran AS sebagai “goodfather” bagi negara-negara sahabat dan sebagai polisi dunia bagi lawan-lawannya.
Bahkan secara “blak-blakkan”, Trump menyindir dan menilai, hanya sosok pemimpin lemah lah yang terobsesi pada popularitas dan “rating” atau peringkat pemberitaan.
“Saya tidak pedulikan hal itu. Orang yang hanya memperhatikan turun-naiknya rating bukanlah (tipe – red ) pemimpin, tetapi penunggang angin, mengikuti kemana ia akan dibawa, “ tutur Trump.
Dunia saat ini menanti sepak-terjang Trump setelah ia mulai “ngantor” di Ruang Oval, gedung di Sayap Kanan kompleks Gedung Putih, menjadi penguasa Amerika Serikat, negeri multi ras, etnik dan bangsa berpenduduk sekitar 300 juta jiwa itu.
Di dalam negeri, rakyat menunggu janji kampanye Trump untuk menciptakan 25 juta lapangan kerja, sekaligus juga rasa was-was terkait penghentian program kesehatan yang dicananangkan pendahulunya, Obamacare dengan alasan untuk memangkas belanja negara.
Meksiko misalnya, dengan cemas menanti apakah Trump benar-benar merealisasikan janji kampanyenya untuk membangun tembok sepanjang tapal batas antara AS dan Meksiko guna mencegah imigran gelap.
Janji Trump untuk memulangkan sekitar 11 juta pendatang haram yang berada di AS, tentunya juga membuat “ketar-ketir” mereka yang sudah kecipratan atau meraup dolar selama tinggal di negeri Paman Sam itu.
Mencemaskan lawan dan kawan
Tidak hanya lawan-lawan AS yang disebutkan dalam kampanye Trump, negara-negara Uni Eropa mitra AS, begitu pula Jepang sangat mencemaskan kebijakan yang akan diambil juragan properti terkemuka itu.
Mereka mencemaskan perubahan drastis kebijakan Trump yang cenderung proteksionis dan populis, berorientasi ke dalam untuk menyejahterakan rakyatnya, dan mereduksi peran AS bagi negara-negara lain dan masyarakat dunia.
Bagi Indonesia, menurut Wapres Jusuf Kalla, kebijakan Trump tidak seseram yang dibayangkan, karena misalnya saja terkait rencana kenaikan pajak terhadap produk asing, jika diberlakukan, hal itu pasti akan ditentang warga AS sendiri karena harga barang-baang akan bertambah mahal.
Sedangkan mengenai niat Trump untuk tidak meneruskan dialog mengenai blok perdagangan Kemitraan Trans Pasifik (TPP) , menurut Jusuf Kalla, tidak berpengaruh, mengingat kesertaan RI dalam blok tersebut baru sebatas wacana.
Sedangkan Tiongkok, memang harus memasang “kuda-kuda” karena Trump dalam janji kampanyenya menyatakan jika ia terpilih, akan mengenakan Bea Masuk 45 persen terhadap produk negara tirai bambu itu.
Trump juga mengritisi aksi Tiongkok menggelar kekuatan militer di pulau-pulau sengketa di kawasan Laut Tiongkok Selatan, sedangkan Trump yang menelpon langsung Presiden Taiwan Tsai Ing-wen usai terpilih sebagai presiden ke-45 AS juga membuat kesal para pemimpin di Beijing yang menganggap “One China” sebagai kebijakan harga mati.
Seleb papan atas, absen
Kontroversi mengenai Trump juga tercermin dari tidak banyaknya kalangan selebriti papan atas yang hadir dalam acara yang digelar di Lincoln Memorial, Washington Jumat malam menjelang hari pelantikan keesokan harinya.
Dari sisi jumlah, pendukung yang hadir, sekitar 900.000 orang kalah banyak dibandingkan hari menjelang pelantikan Barack Obama sebelum pelantikannya sebagai presiden ke—44 pada 2009 lalu yang dihadiri lebih satu juta warga.
Sebaliknya, yang hadir di Lincoln Memorial, juga sekitar 270.000 warga yang menolak Trump sebagai presiden baru mereka. Di sejumlah kota di AS, Sabtu, unjukrasa digelar oleh sekitar 200.000 anggota kelompok perempuan yang merasa dilecehkan oleh ucapan Trump pada masa kampanye lalu.
Indonesia yang akan menyelenggarakan Pilkada serentak di 101 daerah pada 15 Februari, selayaknya mencermati fenomena terpilihnya sosok populis semacam Trump yang memainkan isu fanatisme sempit demi memenangkan pemilu.
Sebagai bangsa di negara kesatuan terdiri dari sekitar 13.700 rangkaian pulau-pulau yang memiliki keanekaragaman etnis, budaya, agama dan kepercayaan, nilai-nilai toleransi dan saling menghormati di dalam bingkai NKRI harus tetap dijunjung tinggi. (AP/AFP/Reuters/NS)





