Jejak Siti – Kitty di Pulau Meranti

Siti - Kitty, bersama murid-murid di Pulau Meranti, Riau. Foto: Ist

Setahun mengajar anak-anak suku terasing –Suku Akit–  di Pulau Meranti, kepergian Guru Siti-Kitty ditangisi.

Kehadiran Siti-Kitty, begitu pasangan Aktivis Sekolah Guru Indonesia (SGI) XVI dan Fasilitator SFR Dompet Dhuafa ini dipanggil, di dalam komunitas Suku Akit di Desa Sokop, seperti ‘malaikat penolong’ bagi mereka.

Tak ayal, ketika tugas mereka berakhir 2 Februari 2017 dan digantikan Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa yang baru, Redovan Jamil, masyarakat Suku Akit benar-benar merasa kehilangan.

“Saya dan warga menangis sejadi-jadinya. Saya merasa kehilangan, sama sedihnya dengan kematian anak kandung. Mungkin warga saya juga merasakan hal yang sama. Sehingga perpisahaan dengan Siti-Kitty terasa sangat berat, acara perpisahan itu jadi penuh dengan ratapan,” ujar Aheng, 63, Ketua Adat Suku Akit di Bandarraya, Sokop kepada Swara Cinta.

Salah satu sebab Suku Akit merasa kehilangan dengan kepergian Siti-Kitty, tutur Aheng, karena mereka berakhlak mulia. Mereka tidak membedakan orang, mereka mencintai anak-anak Suku Akit dengan tulus. Mereka tidak saja mengajarkan anak-anak Suku Akit di sekolah, tapi juga sampai ke rumah. Bagi warga Suku Akit, Siti-Kitty lebih dari saudara kandung, ia diterima dengan pintu terbuka di setiap rumah Suku Akit di Sokop.

Selama ini, lanjut Aheng, Siti-Kitty telah berhasil memotivasi Suku Akit untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Mereka juga berhasil mempererat persaudaraan sesama warga Suku Akit yang dulu hidupnya berpindah-pindah dan cenderung sendiri-sendiri, menjadi hidup bersama serta saling gotong royong.

“Kebersamaan orang tua secara otomatis terjalin ketika kesadaran menyerahkan anak-anak mereka ke sekolah. Siti dan Kitty juga memotivasi para orang tua, jadi apapun kebutuhan sekolah, orang tua dengan ikhlas membantu secara gotong royong,” jelas Aheng.

Setelah Siti-Kitty pergi, tugasnya digantikan Redovan Jamil, kelahiran Padang Benai, Sumatera Barat, 10 Mei 1993. Menurut Aheng, kehadiran Pak Jamil, begitu mereka memanggil, dapat sedikit mengobati kehilangan mereka terhadap kepergian Siti-Kitty.

Kepada KBK Kitty Andriany mengatakan, pengalaman adalah guru terbaik, guru adalah pengalaman terunik.

“Setahun berada di Kepulauan Meranti, Riau, saya justru seperti sedang berguru dari pengalaman suka dan unik. Keunikan itu ketika menyaksikan ekspresi anak-anak beranda negeri ini saat pertama kali berkomitmen belajar memakai alas kaki, pertama kali memakai seragam sekolah, sepatu dan menyandang tas. Berkaca-kaca menatap mereka pertama kali memiliki sekolah, pertama kali melaksanakan Upacara Bendera pada hari senin, juga pertama kali ikut merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia,” ungkap Kitty Andriany, asal Riau ini.

Hal yang sama juga dirasakan rekannya Siti Kurniawati. Dikatakannya, bukan hal mudah berada di satu wilayah minoritas dengan segala sesuatu terbatas. Namun ketika kehadiran mereka menjadi setitik warna indah bagi masyrakat suku terasing itu,  menjadi hadiah terindah yang ia rasakan.  “Ditambah lagi kehadiran kami bisa diterima dengan hati terbuka, bahkan hingga kini angkatan ke-3 untuk penempatan pendamping sekolah,” jelas Siti, asal Medan ini.

 Beda Agama tak Masalah

Kehadiran sekolah literasi Dompet Dhuafa di Bandarraya, Desa Sokop, Pulau Rangsang di komunitas Suku Akit yang berbeda agama dan keyakinan, ternyata tidak menjadi persoalan bagi masyarakat setempat.

“Bagi kami beda agama dan keyakinan tidak masalah. Bahkan kalau anak kami mau ikut Islam tidak masalah asal mereka bisa sekolah,” ungkap Aheng.

Aheng mengaku anak bungsunya Abdul Qowi (13) bahkan sudah masuk Islam bersama teman-temannya Amzah (14), I’som (15), Sya’bah (12), Zaitun (13) dan Akhyar 914). Dan bahkan Abdul Qowi, I’som dan Ahkyar yang juga didamping Dompet Dhuafa dibawa ke Banten, untuk belajar di pesantren hafalan Al Quran pasca lebaran 1438 H.

“Mereka ingin jadi penghapal Alquran, jadi Dompet Dhuafa memfasilitasinya,” tutur Jamil, Konsultan Sekolah Literasi Dompet Dhuafa pengganti Siti-Kitty kepada Swara Cinta.

“Dompet Dhuafa bagi kami seperti ‘dewa’ yang membantu kami, menyatukan kami, mendidik kami dan memperhatikan kami. Kami berterimakasih dengan kehadiran Dompet Dhuafa di Sokop, hidup kami jadi berubah, dari yang tadinya terabaikan dan tidak ada yang memperhartikan kini penuh gairah dan kebersamaan,” ungkap Aheng yang masih beragama asli Suku Akit ini dengan mata berkaca-kaca.

Dengan penerimaan Suku Akit terhadap sekolah literasi di Bandarraya, Desa Sokop, Kecamatan Rangsang Pesisir membuat tugas Riyati selaku pengelola SDN 12 Sokop Lokal Jauh, dan Mualimsyah, Sulastri dan Redovan Jamil sebagai guru di SDN 12 Sokop Lokal Jauh itu menjadi gampang dan mudah.

Advertisement