
JUTAAN umat Islam lintasdaerah jelang Idul Fitri nanti akan melakukan ritual mudik, mengalap berkah dan menyambung silaturahimĀ dengan kaum kerabat diĀ kampung halaman masing-masing setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan.
Dari wilayah ibukota dan sekitarnya, para pemudik dengan tujuan masih di Pulau Jawa akan memanfaatkan seluruh moda transportasi yang ada, dari pesawat terbang, kapal laut, KA dan angkutan jalan raya, sepeda motor atau mobil pribadi, angkutan travel, kendaraan umum atau sewaan.
Menggunakan angkutan jalan raya, pemudik rela bermacet-macetan puluhan jam, bahkan menginap di jalanan, karena sebanyak apa pun ruas jalan yang dibangun, tetap saja terjadi penumpukan kendaraan di titik-titik tertentu seperti di gerbang keluar-masukĀ pintu toll, persimpangan atau pusat-pusat kegiatan masyarakat.
Ironisnya, dalam kegiatan mudik setiap tahun, selalu saja terjadi ribuan kecelakaan lalu-lintas yang merenggut ratusan nyawa, paling besar korbannya yakni para pengendara kendaraan beroda dua.
Sebagian korban meregang nyawa saat kembali ke kota keberangkatan. Masih lebih baik, ketimbang pemudik yang tidak pernah sampai tujuan, karena langkah mereka terhenti di tengah jalan akibat kecelakaan.
Data dari Korps Lantas Polri menyebutkan, selama arus mudik lebaran tahun lalu (2016) terjadi 2.719 kasus kecelakaan lalu lintas dengan korban tewas merenggut 504 korban,Ā sebagian besar (80 persen) adalah pengendara motor. Dari tahun ke tahun, korban pemudik tewas tetap berjumlah di atas 500-an.
Sepeda motor memang bukan kendaraan yang didisain untuk jarak jauh atau antarkota. Bagi pengendaranya, berjam-jam di atas kendaraan roda dua di tengah panas terik atau hujan, sangat meletihkan, sehingga membuat konsentrasi berkendara semakin buyar dan pada gilirannya memicu kecelakaan.
Masalahnya, belum ada peraturan yang melarang orang berkendara motor dalam jarak jauh, sehingga polisi tidak bisa mencegahnya, paling menilang atau meminta turun penumpang sepeda motor bergoncenngan lebih dari dua orang atau dijejali barang bawaan.
Bisa dibayangkan, bagaimana letihnya anak-anak di bawah umur yang bergoncengan beberapa orang di atas satu sepeda motor, apalagi jika mereka tidak bisa protes terhadap orang tua mereka yang juga mengalami keletihan dan harus berkonsentrasi penuh saat berkendara.
Persiapan diri, jauh-jauh hari sebelum hari āHā perlu dilakukan bagi calon pemudik terutama kondisi fisik jika hendak berkendara jarak jauh. Jangan memaksakan diri jika dalam kondisi prima, apalagi tidak sehat!
Kesiapan kendaraan tentu juga mutlak, terutama pengecekan kondisi ban dan sistem pengereman agar bisa meminimalisir potensi musibah. Bagi kendaraan umum, uji kir oleh aparat DLAJR harus benar, tidak asal-asalan, asal membayar untuk memperoleh surat laik jalan.
Bagi angkutan laut, khususnya menghadap musim gelombang tinggi di kawasan Indonesia bagian timur, diperlukan ketegasan syahbandar untuk tidak memberangkatkan kapal jika jika cuaca memang tidak memungkinkan.
Toleransi, sering juga manipulasi data jumlah penumpang dan kelaikan kapal yang sering terungkap pada musibah-musibah kapal sebelumnya, hendaknya tidak ada lagi demi menghindari terjadinya musibah ke depannya.
Semoga angkutan lebaran tahun in berjalan lancar dan aman, sehingga tidak ada lagi ritual silaturrahmi dan mengalap berkah berubah di hari lebaran menjadi duka dan musibah.
Selamat sampai di tujuan dan kembali ke kota pemberangkatan.




