HARGA BBM belum naik tapi harga-harga Sepbako (sepuluh bahan pokok) telah naik gara-gara mau Lebaran. Itu baru Lebaran biasa, bagaimana dengan Lebaran kuda? Jagad perwayangan pun heran. Celakanya, harga obat-obatan juga latah, sehingga jenis obat patent hanya terbeli oleh wayang kaya. Wayang kelas kampung sebagaimana punakawan dan Limbuk – Cangik, cukup beli obat warungan. Jika sakit tempatnya hanya di puskesmas. Sakit apapun cuma diberi obat pil vitamin dan salep hitam. Sembuh alhamdulillah, mati juga anggap saja mengurangi jumlah penduduk di luar jalur KB.
Gatutkaca juga barusan sakit berat, liver komplikasi jantung. Selewat berperang melawan Boma Narakasura pada lakon “Kikis Tunggarana” tempo hari, tenaga Gatutkaca memang terforsir. Ada pengecilan dalam hatinya (serosis). Tapi karena raja Pringgodani memang wayang kaya, setelah berobat ke Singapura, sekarang kembali sehat wal afiat. Biar puasa, tetap saja nampak lincah, jika berbuka selalu nambah.
“Lihat tuh ayahmu, habis operasi apa-apa jadi doyan.” kata Pregiwa kepada anak lelakinya, Sasikirana, yang masih dalam usia balita.
“Disyukuri saja Bu, itu namanya kemaruk,” jawab Sasikirana.
Sesuai usia, Sasikirana memang sedang demen bermain. Gatutkaca berencana, pada Lebaran nanti ingin mengajak anak istri sowan ke Jodipati. Eyang Arimbi tentu sudah lama kangen pada cucu pertamanya tersebut. Maka setelah dapat tiket bis malam “Rosalia Indah” Pringgodani-Jodipati, sekeluarga mempersiapkan keberangkatannya ke luar kota. Lho, katanya Gatutkaca ahli terbang, kok naik bis? Memang betul. Tapi semenjak kena liver, dia di-grounded oleh dokter.
Alkisah, Sarjokesuma putra raja negeri Ngastina, demi mendengar Pregiwa mau mengadakan perjalanan luar kota, pengin sekali untuk menculiknya. Karena sebetulnya dia masih penasaran dengan kekalahannya merebut Pregiwa di tahun 2014. Maka targetnya kemudian, paling kasep 2019 Sarjokesuma bertekad harus bisa mengangkangi Dewi Pregiwa dalam arti sebenarnya. Prinsipnya: gagal dapat gadisnya, terima janda juga tak masalah. Yang penting rasanya, Bung!
“Nakmas Sarjokesuma, sudahlah, cari yang lain saja. Masak bini orang mau diudak-udak terus…,” patih Sengkuni mengingatkan
“Cintakula pada Pregiwa, kubawa mati, paman. Jatuh bangun aku mengejarmu, namun dirimu tak mau mengerti……,” kata Sarjokesuma sambil ndangdutan lagu “Jatuh bangun” seperti pedangdut Kristina.
Melihat Sarjokesuma macam cah kenthir, Patih Sengkuni kasihan juga. Demi politik pencitraan pada Prabu Duryudana, dia ingin membantu melenyapkan Gatutkaca dari muka bumi. Sebetulnya dia ingin memperalat ormas radikal, tapi mereka tak ada yang berani lawan Gatutkaca. Honor nggak cucuk (sesuai) katanya. Cuma dapat Rp 2 juta seorang, tapi resiko kepala lepas dari badan. Di mana untungnya?
“Dapat Rp 2 juta tapi nggak punya kepala. Bagaimana kalau mau pakai kupluk? Bagaimana mau salat tarawih?” ujar anggota ormas radikal pimpinan Citraksa – Citraksi.
“Kalau begitu saya naikkan jadi Rp 3 juta,- Bagaimana?” kejar Sengkuni.
Ternyata mereka tetap menggeleng. Katanya, margin yang diperoleh sama sekali tidak sebanding dengan biaya operasional. Walhasil Sengkuni – Sarjokesuma terpaksa menggunakan jasa pembunuh bayaran yang diperoleh lewat situs internet.
Saat bis malam yang ditumpangi keluarga Gatutkaca istirahat makan di Sukamandi, para penculik pesenan Sarjokesuma – Sengkuni segera memperkusinya. Gatutkaca diculik dan dibawa masuk hutan, ditimpuki batu hingga tewas. Adapun Pregiwa dan Sisikirana, dinaikkan Colt langsung ke negeri Ngastina. Sepanjang perjalanan istri Gatutkaca ini dicuci otak, agar lupa pada anak dan suaminya.
Anehnya, meski telah dicuci otak, Pregiwa tetap tak bisa melupakan Gatutkaca beserta anaknya. Buktinya saat dirayu-rayu Sarjokesuma untuk berbagi cinta, tetap tak memberikan respon positif. Apa lagi bocah Sisikirana terus ngethapel pada gendhongan ibunya, nggak bisa “digantikan” sebentar pun. Sarjokesuma jadi habis akal, bagaimana kiat agar Pregiwa bertekuk lutut dan berbuka paha untuknya?
“Gantian dong ah! Sana main dulu, beli es krim ya….” bujuk Sarjokesuma lantaran kebelet ingin “ngethapel” pada Pregiwa.
“Kalau Oom minta gendong ibu, gua hajar luh…..!” ancam Sisikirana sambil terus menghadang Sarjokesuma yang mau mendekati ibunya.
Untung Pendita Durna ambil bagian dalam siasat busuk itu. Diserahkannyalah HP smartphone dengan aplikasi-aplikasinya yang sangat menarik. Sisikirana yang sangat cerdas, segera bisa mengoperasikan HP canggih itu. Dia memang anak jenius, meski masih balita sudah bisa baca tulis. Tarik ke ke atas, tari ke bawah, kemudian gambar dijembeng-jembeng (dilebarkan), mengasyikkan sekali. Tahu-tahu dapat chatting porno.
“Balada cinta Wisrawa-Sukesi. Balada itu apa, Pakde?” Bocah Sisikirana mendadak bertanya.
“Balada adalah singkong dipotong tipis-tipis, digoreng dan dikasih sambal.” Jawab Durna kehilangan akal.
“Itu singkong balado Padang, dong Pakde.”
“Ya memang, di Ngastina “balada” itu ya balado…..”
Agaknya Sisikirana sadar bahwa tengah dikerjain Pendita Durna. HP smartphone segera dilempar dan ingat kembali akan ibunya. Melihat Sarjokesuma tengah menyeret-nyeret tangan ibunya, segera saja ditendangnya. Sarjokesuma hendak membalasnya, tapi Sisikirana keburu kabur, sementara prajurit Ngastina enggan mengejar karena takut dilaporkan ke Kak Seto dan Merdeka Sirait.
Sisikirana terus melarikan diri hingga akhirnya sampai di pertapan Kendhalisada. Kala itu si monyet putih tengah ketamuan Werkudara. Bukannya apa-apa, mereka sekedar berdiskusi, kenapa kondisi negeri Ngamarta – Ngastina semakin carut marut saja. Elit politiknya sebentar-sebentar mau obral hak angket untuk hal-hal sepele. Edan nggak, 60 hari kerja habiskan anggaran Rp 3,1 miliar.
“Lho, kok kamu sampai ke sini sini. Di mana Gatot ayahmu?” Werkudara menggeram.
“Bapak mati ditimpuki batu di hutan, jadi korban persekusi,” Sisikirana nangis tersedu-sedu, sambil menceritakan segala musibah yang dialami.
“Sudah dikafani dan disalatkan, belum?” Werkudara bertanya.
“Belum, Mbah. Karena bapak tempo hari dukung Ahok……”
Werkudara-Anoman geleng-geleng kepala, sampai segitunya dunia wayang. Resi Anoman yang ahli mark up meski bukan Mak Erot, segera memandikan bocah Siskirana dengan banyu gege, sehingga dalam sekejap putra Pregiwa itu telah menjadi remaja dewasa lengkap dengan jenggot dan anunya. Dengan penampilan baru tersebut, dia ingin segera membebaskan kedua orangtuanya. Werkudara dan Resi Anoman mengawal dari belakang.
Ternyata benar, Gatutkaca yang otot kawat balung wesi kringet wedang kopi tersebut kini sudah menjadi mayat. Beruntung juga belum dikebumikan. Werkudara segera SMS Prabu Kresna untuk segera datang sambil membawa Kembang Cangkok Wijayakesuma. Membaca SMS tersebut, Pakdhe Kresna yang tengah bepergian ke luar negeri segera datang. Berkat kembang pusaka tersebut, Gathutkaca bisa kembali hidup dan sehat.
“Bapak istirahat saja dulu, biar aku yang membereskan.” Jamin Sisikirana.
“Ya, ya Nak. Badan bapak masih lemes sekali. Mau medhot (berhenti puasa) saja dulu.” Jawab Gatutkaca.
Ternyata benar, lima jam kemudian Sisikirana telah berhasil memboyong ibunya. Dia digendong Sisikirana, dengan kondisi masih linglung akibat cuci otak. Tapi berkat ajian Prabu Kresna pula, Pregiwa bisa kembali normal. Mereka berombongan kembali ke Ngamarta, sementara Sarjokesuma berdasarkan breaking news di teve sudah ditangkap polisi karena terlibat ujaran kebencian. (Ki Guna Watoncarita)



