GARUT – Jembatan gantung sepanjang 80 meter penghubung Kecamatan Pendeuy (Kabupaten Garut) dan Kecamatan Bojonggambir (Kabupaten Tasikmalaya) rusak berat.
Rusaknya jembatan tersebut tentunya membahayakan warga yang melintas, karena kondisi jembatan gantung yang melintasi Sungai Cikaengan tersebut rapuh. Alas jembatan hanya dilapisi bilahan bambu yang sudah lapuk. Beberapa bagian alas jembatan bahkan bolong.
Kondisi jembatan pun sudah tak seimbang karena kawat penahan rangka jembatan di salah satu bagian putus. Jembatan itu kini miring ke salah satu sisi.
Kepada PR, Ali (46), salah seorang warga Desa Toblong, Kecamatan Pendeuy, mengatakan bahwa semula saat dibangun 20 tahun lalu, alas jembatan terbuat dari kayu. Namun, seiring berjalannya waktu, kayu-kayu itu lapuk dan warga menggantinya dengan bilahan bambu.
Warga kerap menambal bolongan dengan bilahan-bilahan kayu, namun tambalan tak bertahan lama. “Satu dua hari, tambalan lepas karena banyak yang melintas, yang jalan kaki maupun naik motor,” katanya, Rabu (5/4/2017).
Saat alas jembatan bolong, warga harus berjalan di atas kawat di samping jembatan. Sementara, tangan berpegangan ke kawat di atas alas jembatan. Bagi anak-anak dan ibu hamil hal tersebut sangat berbahaya karenanya anak-anak cenderung memilih tidak sekolah.
Begitu pula bagi perempuan hamil. Dian (39), salah seorang guru SD Sukanagara 1 menuturkan, sejak hamil, ia memilih tak melintasi jembatan apabila tambalan pada alas jembatan lepas. Akibatnya, ia tak bisa mengajar. “Waktu belum hamil, bisa bergelantungan di kawat kalau tambalan lepas, sekarang saat hamil jadi takut,” ujarnya.
Warga berharap, kondisi jembatan bisa diperbaiki. Warga siap secara swadaya memerbaiki jembatan, asalkan ada bantuan biaya dari pihak luar desa. Hingga saat ini, lanjut Ali, belum ada kepedulian dari Pemerintah Kabupaten Garut terhadap kondisi jembatan. “Empat kali pergantian kades, jembatan gantung itu tetap saja rusak,” ucap Ali.





