XINJIANG – Pemerintah dan anggota parlemen oposisi JermanĀ mendesak Cina untuk mengakhiri kebijakan represif terhadap Muslim Uighur di barat laut Xinjiang, wilayah otonom negara itu.
Dalam hal ini China disebut melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang berat, memaksakan indoktrinasi politik dan pengawasan besar-besaran di wilayah tersebut.
“Diperkirakan satu juta orang telah ditahan sewenang-wenang di kamp-kamp interniran di wilayah Xinjiang barat laut China,” kata anggota parlemen Margarete Bause dalam debat parlemen tentang situasi hak asasi manusia di Xinjiang.
Dia mengkritik keras pihak berwenang atas tindakan keras mereka terhadap kebebasan beragama.
āBerdoa dilarang, masjid dihancurkan. Tujuan dari semua tindakan ini adalah untuk secara sistematis menghilangkan budaya dan identitas minoritas Muslim di Xinjiang, ākatanya.
Stefan Liebich dari oposisi Partai Kiri mengatakan penahanan sekitar satu juta orang di kamp interniran di Xinjiang “tidak dapat diterima”.
Liebich mengakui bahwa kekhawatiran China atas stabilitas dan ancaman terorisme dapat dimengerti.
“Tapi ini tidak bisa membenarkan pengawasan massal, mata-mata, kamp interniran dan penyiksaan,” tegasnya.
Michael Brand, anggota parlemen senior dari Christian DemocraticĀ berjanji bahwa pemerintah akan terus meningkatkan masalah hak asasi manusia dalam pembicaraan dengan para pejabat China.
“Dengan dalih perang melawan terorisme, penindasan brutal dan pelanggaran hak asasi manusia terus berlanjut di Xinjiang,” katanya, dilansir Anadolu, Jumat (9/11/2018).





